MENU

by • December 27, 2018 • Startup JournalComments (0)151

2019 : Waktunya Berhenti Belagu

Seperti yang sudah-sudah, agenda akhir tahun itu bikin resolusi. Kebanyakan yang ada, adalah mengulangi resolusi tahun sebelumnya yang lagi-lagi belum tercapai, yup hanya 8% mereka yang berhasil jalanin misi resolusinya..lainnya, Gatot!!!

Ijinkan saya berbagi referensi, terutama bagi mereka yang masih belum tahu mau ngapain.

Pertama, hasil studi “Most Literred Nation in the World 2016”, minat baca di Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara. Padahal idealnya, 1 orang membaca dua buku, namun yang terjadi saat ini adalah, 15 ribu orang Indonesia hanya membaca 1 buku.

Kedua, berdasarkan laporan ICASEA, diantara negara ASEAN, Indonesia yang paling boros energi sebagaimana dikutip dari kontan.co.id tahun 2014.

Ketiga, Indonesia adalah negara yang paling boros pangan menurut FAO (Food and Agricultural Organization). Pada tahun 2018, kita impor setidaknya 1.600 ton beras sebagaimana dikutip dari Liputan6.com. Ironisnya, Indonesia merupakan salah satu negara paling sering membuang makanan. Laporan Global Food Sustainability Index menyebutkan bahwa Indonesia berada di peringkat kedua negara yang suka membuang makanan (Dream.co.id, 2018). Kebiasaan buruk ini termasuk dari hal menyimpan makanan dengan stok yang berlebihan hingga kedaluwarsa. Efek lainnya adalah penumpukan sampah organik yang kemudian menjadi limbah karena tak diolah dengan tepat.

 

Keempat, ratusan juta anak-anak atau para pemuda di Indonesia merupakan pengguna internet. Namun baru sedikit yang memanfaatkan perkembangan teknologi ini untuk hal-hal produktif. Sebanyak 52,28 persen anak muda menggunakan internet hanya untuk hiburan. Sebagaimana di lansir dari Merdeka.com.

Keempat, berdasarkan Survei United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), Indonesia hampir menempati posisi terendah terhadap kualitas pendidikan di negara-negara berkembang di Asia-Pasifik, peringkat 10 dari 14 negara (Geotimes.co.id, 2015)

Kelima, sejak era 70-an, Indonesia adalah negara yang konsumtif. Itu sebabnya semua produk yang dijual, menyasar Indonesia sebagai target empuknya. Ini tetap terjadi bahkan ketika Indonesia (dan juga dunia) mengalami krisis. Dan pada Harbolnas kemarin, tercatat transaksi Rp 6.8 triliun atau naik Rp 2.1 triliun dari nilai transaksi tahun lalu, 46% diantaranya disumbangkan produk lokal sebagaimana di rilis majalah Money&I (Moneyinsight.id). Entah apakah masyarakat memang berbelanja kebutuhannya, atau mumpung ada diskon mereka akhirnya belaja, sekalipun mungkin untuk barang yang sebenarnya belum di butuhkan.

Keenam, menurut Gallup dan Accenture, Indonesia menduduki posisi 30 dari 30 negara yang Karyawan Paling Bahagia dengan Pekerjaannya. Artinya, karyawan paling tidak bahagia ada di Indonesia.

Ketujuh, Indonesia negara paling berisik di sosial media. Indonesia tercatat sebagai pengguna kedua terbesar di dunia (20% dari total pengguna Twitter). Saat Piala Dunia 2014 lalu. Jakarta berada di urutan kelima Kota dengan Posting Twitter Terbanyak, disusul dengan Bandung yang berada di urutan keenam. Padahal, Indonesia pun tak lolos ke putaran Final Pala Dunia

Kedelapan, Indonesia merupakan negara dengan perkembangan Sains dan Teknologi paling lambat di dunia. Laporan The Good Country Index, menempatkan Indonesia di peringkat 122 dari 125 negara untuk  kategori Perkembangan Sains dan Teknologi. Artinya, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia dinilai paling rendah dan paling lambat.

Kesembilan, Indonesia masuk kategori negara dengan mutu pendidikan rendah berdasar data dari The Learning Curve Pearson (2014). Indonesia menempati posisi ke-40 dari 40 negara, dengan nilai minus 2.11. Ini menempatkan Indonesia di bawah negara berkembang lain seperti Meksiko, Brasil, Argentina dan Kolumbia. Dan sulit untuk memungkiri riset ini, karena dari hal buta huruf saja di Indonesia masih tinggi, sebanyak 3,4 juta jiwa atau sekitar 2,07% penduduk Indonesia usia 15-59 tahun masih buta aksara sebagaimana data dari Badan Pusat Statistik (BPS).

Kesepuluh, kita termasuk negara yang paling mudah percaya Hoax, sebagaimana diwartakan oleh Liputan6, Dirjen Aptika Kemkominfo, Semuel Abrijani Pangerapan mengatakan dari sekitar 132 juta pengguna internet di Indonesia, 65% masayarakat kita mudah terhasut berita bohong. Merujuk pada data dari Centre for International Governance Innovation (CIGI) IPSOS 2017.

Jadi bayangkan, betapa belagunya kita. Nggak suka baca buku, boros enerji. Beli makanan paling banyak, eh makananya masih pakai acara di ‘buang-buang’ segala. Sukanya terkoneksi internet tapi bukan buat berkarya, ada berita bohong gampang percaya. Urusan diskon, belanja nomer satu, begitu disuruh cari uang dengan bekerja jadi karyawan, merasa paling nggak bahagia. Gaduh di sosial media, bahkan untuk hal seperti Piala Dunia sekalipun Indonesia toh tak masuk putaran finalnya.

Plus di tambah, masyarakat Indonesia berani menghabiskan Rp 2 Triliun (Kompas, 2011) untuk kembang api pas tahun baru, dan gitu bilangnya kita miskin. Dua Triliun itu bisa buat datangin 2 pemain sekelas Antoine Griezmann ke Liga Indonesia yang konon banyak tepu-tepunya, bisa beli 2 buah Pulau D’Arros di Seychelles yang berada di Benua Afrika atau mendirikan lebih dari 20 rumah yatim piatu. Tapi nyatanya, kita lebih suka membakarnya dalam hitungan menit sebatas melegakan dahaga senang sesaat.

Jadi kalau tahun 2019 mau bikin resolusi, mulailah kita berbenah dari hal yang sederhana, mulai membaca buku, mulai tidak boros, mulai tidak membuang-buang makanan, mulai tak tergoda diskon, mulai memanfaatkan teknologi untuk berbuat lebih. Jika ada berita bohong, verifikasi dulu sebelum mempercayainya. Hal-hal sederhana, yang mungkin bisa membuat kita nggak lagi terlalu belagu.

 

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *