MENU

by • February 5, 2016 • Startup JournalComments (0)302

Bagaimanapun juga, kemajuan teknologi telah menstimulasi sejumlah perubahan cara kerja, yang ujung-ujungnya, menjadikan para generasi saat ini bekerja tanpa ampun, seolah energinya tak pernah habis. Yang sayangnya mereka salah, energi itu sumber daya yang terbatas. Namun dengan berbagai upaya lebih itu pun, terkadang tidak cukup, tidak sanggup membawa kita pada perubahan yang diinginkan, terhadap tujuan yang kita tetapkan. Lalu apa yang salah?

Seperti yang para ahli bilang, sukses itu ada caranya, dan kita tidak bisa mendapatkan hal yang sama dengan cara yang berbeda. Namun persoalannya, cara baru ini belum banyak diketahui, kebanyakan orang masih terperangkap dengan cara kerja lama, cara kerja yang membawa era industri sukses dimasanya. Namun hari ini, berbagai hal telah membuktikan, cara-cara itu tak lagi mujarab.

Contoh, dulu label-label recording besar menentukan selera pasar, musik seperti apa yang harus mereka dengarkan, aliran dan bakat-bakat tertentu, tak bisa dengan mudah mendapat kesempatan untuk membuat album dan memamerkan talentanya. Sekarang, Youtube dan berbagai daring (online) sejenis memutus aliran tersebut, memunculkan sejumlah artis-artis baru dan profesi bernama Youtubers. Dan hebatnya, hal ini juga mengubur eksistensi industri rekaman secara drastis.

Dulu, kita harus membuat proposal yang tebal, mencantumkan berbagai hal agar mendapat persetujuan dari investor atas ide-ide dan gagasan kita, sekarang crowdfunding memungkinkan kita mendapatkan pendanaan dari patungan masal secara online. Dulu, kita gerilya untuk mencari klien , sekarang crowdsourching memberi kesempatan untuk kita berkompetisi mendapatkan proyek dengan cara yang sangat fair.

Akses menjadi tak terbatas, kemungkinan dan peluang ada dimana-mana, pun demikian dengan resiko dan tanggung jawabnya. Semuanya tergantung pada kita, sejauh mana kita bisa mengelola diri dan karir agar terus berkembang. Dulu jabatan itu layaknya anak tangga, seiring waktu dan prestasi kita akan menapakinya setahap demi setahap.

Sekarang, perjalanan karir itu bak tebing karang yang luas, penuh onak dan duri, tidak ada rute khusus, kita bisa melompat dengan bebas dari satu pijakan ke pijakan lain. Dulu, ada panduan karir dari perusahaan agar kompetensi kita berkembang, sekarang kita bertanggung jawab terhadap diri kita sendiri, tak ada mentor sempurna yang akan datang memberi uluran tangan jika kita tak mencarinya.

Persoalannya, belum banyak orang yang menaruh perhatian tentang bagaimana kita berkembang didunia saat ini. Ada kurikulum yang hilang, atau lebih tepat disebut kurikulum yang belum dirancang. Itulah alasannya mengapa saya bersama rekanan, mendirikan Sekolah AKUBANK. Untuk memenuhi pengetahuan yang tak kita dapatkan di sekolah melalui 3 area pendekatan. Life Skills, Financial Literacy & Professional Skills.

 

Lebih detil terkait dengan success filosofi dalam kampus ini, bisa melalui www.akubank.co.id

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *