MENU

by • January 15, 2017 • InvestasiComments (0)346

6 Bentuk Investasi Di Properti

Pada dasarnya, berinvestasi di properti menawarkan banyak pilihan hasil investasi dan metode dalam menginvestasikannya. Semunya tergantung pada tujuan investasi tersebut, Karenanya sangat penting bagi pemodal untuk mengatahui kemana tujuan dari kepemilikan aset properti ini. Karena investasi ini memang menawarkan varian hasil yang bisa Anda tentukan.

  • Lahan / tanah

Banyak bentuk investasi di tanah yang bisa Anda optimalkan. Kontrakkan dalam jangka waktu lebih dari 10 tahun. Hal ini sulit dilakukan pada tanah yang memiliki bangunan. Karena kebanyakan dari konsumen akan meminta sewa/kontrak jangka pendek, paling lama 5 tahun. Pada tanah hal itu mungkin, karena biasanya penyewa tanah akan mengelola dengan misalnya membangun rumah tinggal/kos atau perkebunan, dimana jika kontrak yang dilakukan jangka pendek maka penyewa belum mendapatkan keuntungan. Atau Anda sendirilah yang mengelola tanah tersebut, misalnya dengan menjadikan tanah tersebut sebagai lahan untuk perkembangbiakan ikan [tambak], rumah tinggal atau perkebunan. Selama semuanya memungkinkan dengan kondisi yang mendukung.

  • Rumah Tinggal

Sama seperti tanah, rumah tinggal bisa Anda kontrakkan/ sewakan. Misalkan rumah tersebut masuk kategori rumah sederhana dengan luas bangunan/luas tanah 50m2/100m2, dengan lokasi dipinggiran kota. Kisaran harga sewanya adalah Rp. 10 juta/tahun. Maka jika dikalkulasi per bulan maka Rp. 10 jt / 12 = Rp. 835 rb. Ini merupakan pasive income tanpa Anda harus berbuat lebih, seperti bekerja harian [kantoran] misalnya.

Anda juga punya opsi untuk menjual kembali, pengalaman Saya bisa menjadi salah satu contohnya. Tahun 2006 Saya membeli sebuah rumah BTN kecil kategori rumah sangat sederhana dengan harga tunai Rp. 60 jt. Pada tahun 2007 harga rumah tersebut sudah naik dikisaran harga Rp. 85 juta. Dan baru pada tahun 2008 Saya jual dengan harga Rp. 100 jt, sekalipun harga pasar saat itu sudah lebih dari Rp. 100 juta, namun karena kebutuhan yang memaksa untuk menjual cepat maka harga tersebutlah yang tercapai. Lepas dari hal tersebut, dalam rentang setahun rumah yang Saya beli tahun 2006 tersebut sudah naik sebesar Rp. 25 jt pada tahun 2007. Yang jika di proporsikan dalam bulan, maka pasive income yang Saya dapatkan adalah sebesar Rp. 25 jt / 12 = Rp. 2.083.000. Ironisnya, uang pembelian rumah Saya dapatkan dari hasil menabung sebagai pekerja kantoran, dan rumah tersebut dijual saat itu saat Saya masih bekerja sebagai karyawan swasta, dengan penghasilan per bulan dibawah angka pasif income yang Saya peroleh dari properti.

 

Tahun Harga % peningkatan Rp.
2006 60.000.000    
2007 85.000.000 42 % 25.000.000
2008 100.000.000 18 % 15.000.000

 

  • Rumah Kos

Anda juga bisa membangun sebuah rumah kos bahkan dengan luas tanah yang relatif sedikit. Disini maka tujuan investasi Anda adalah mendapatkan hasil bulanan. Mungkinkah membangun rumah kos dengan tanah seluas 72m2 atau kurang dari 1 are? Persoalan yang sering ditanyakan dan -kemudian dikeluhkan sebagai hambatan- oleh mereka yang hendak membangun usaha rumah kos adalah luas lahan yang dibutuhkan untuk mendirikan bangunan. Karena ternyata, dengan lahan yang dibawah 1 are bahkan hanya 72 m2 sebuah rumah kos dengan 4 kamar bisa Anda miliki. Berikut adalah gambar kasar lay out yang bisa Anda ambil idenya dan kembangkan :

Tanah luas > 1 are asumsi 72m2

Disini bentuk tanah sangat mempengaruhi, dengan luas 72m2. Maka akan optimal jika ukuran tersebut memanjang, namun jika bujur sangkar maka jumlah kamar yang dihasilkan lebih sedikit, maksimal 3.

 

Sebagaimana gambar diatas, tanah seluas 72m2 dengan panjang 12 m x lebar 7 , maka mampu menghasilkan 4 kamar kos, dengan kamar mandi dalam [ukuran 1,5 x 1,5m] dan luas kamar masing-masing 4x3m. Ketentuan IMB memberikan jarak 3 meter bangunan dengan jalan bisa menjadi lahan parkir.

Bagaimana jika bujur sangkar, maka Anda membutuhkan minimal luas tanah 1 are. Luas tanah 10 x 10 m, dengan 3 kamar ukuran 4x3m dan 1 lagi lebih luas yakni 5x3m, namun posisi kamar dibelakang dengan jalan gang untuk menuju ke kamar tersebut. Memang ideal rumah kos minimal tanah ukuran 1,5-2 are namun bukan tidak mungkin dapat dilakukan dengan ukuran yang minimalis. Bahkan ada beberapa rumah kos yang membuat ukuran per kamarnya 3×3 m, dengan kamar mandi luar. Jika 1 kamar Anda pasang tarif Rp. 350.000, maka dengan 4 kamar Anda akan mendapatkan Rp. 1.400.000 setiap bulan, tanpa Anda harus melakukan apapun [passive income]. Bagaimana jika kemudian Anda membuat bangunan tingkat? Maka kamar yang dihasilkan setidaknya 7 kamar [bukan 8 karena harus dipotong areal tangga]. Maka Anda akan mendapatkan Rp. 350.000 x 7 = Rp. 2.450.000/bulan. Yup, ini memang investasi yang menguntungkan.

  • Hotel / Villa

Investasi yang ini jelas bukanlah pilihan investasi kecil, setidaknya Anda membutuhkan 3-5 are untuk membangun sebuah losmen kecil, dan jauh lebih banyak untuk hotel atau villa. Disini bukan lagi investasi dengan tujuan mendapatkan penghasilan tambahan, bisa jadi ini adalah proyek besar dengan tujuan penghasilan utama. Yang jelas Anda membutuhkan cukup banyak dana untuk berinvestasi pada hotel atau villa, jika lokasi mendukung seperti misalnya daerah tempat tujuan wisata, maka hasil investasi ini tinggal menunggu waktu saja. 

  • Ruko/Toko

Ada 3 keuntungan investasi yang bisa Anda dapatkan, bahkan dalam 2 bentuk investasi yang berbeda

Anda bisa menyewakan ruko/toko yang Anda miliki tersebut, kondisinya sama seperti rumah tinggal dalam contoh diatas. Atau, Anda sekaligus mendirikan mengelola usaha / bisnis di ruko/toko tersebut namun tentu saja tidak ada penghasilan dari menyewakan bangunan karena Andalah yang menggunakan. Anda bisa menjadikan ruko/toko tersebut tempat usaha sekaligus tempat tinggal, terlebih ruko yang memang biasanya dikonsep untuk tempat tinggal. 

  • Kantor / gudang

Kantor atau gudang adalah fungsi, namun bentuk bangunan tidak jarang sama seperti rumah tinggal. Di beberapa tempat ada bank atau pegadaian yang bangunannya menggunakan rumah tinggal, demikian pula dengan kantor atau gudang. Kecuali memang gudang yang dibutuhkan oleh perusahaan untuk memuat logistik dengan volume yang besar. Berikut beberapa kecendrungan penggunaannya :

  • Single office, bisa dibuat di rumah dan disebut SOHO, Small Office, Home Office. Penggunaan single office biasanya pada usaha Firma Hukum, konsultan keuangan, praktik dokter dsb
  • Ruang Kantor dalam bangunan komersial, misalkan kantor yang disetting atau menyewa tempat di mall misalkan tour & travel, salon dsb
  • Bangunan yang diset seperti kantor seperti perusahaan sekuritas, kantor pos, bank dsb
  • Kantor sewa, one stop office.

Menyewakan kantor juga bisa secara terpisah untuk satu bangunan, misalnya seperti gedung graha pena di Surabaya dimana dalam 1 gedung terdapat beberapa unit usaha. Atau  gedung 3 lantai misalnya yang disewakan per laintai. Jika memang tujuan bangunan untuk disewakan sebagai kantor, Anda juga bisa menyiapkan beberapa peralatan kantor yang include didalamnya sebagai 1 paket, misalnya seperti meja meeting, meja + kursi kerja atau filling kabinet. Tentunya dengan ini harga sewa dapat dikatrol lebih tinggi lagi. 

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *