MENU

by • June 3, 2012 • InterviewComments (0)105

“Kalau saya mau merancang kebaya, saya ambil gitar, sambil dengerin lagu Rolling Stone, dan kemudian mulai berkreasi..”

 

Well, jelas bukan kebiasaan bagi wanita kebanyakan, terlebih dirinya adalah seorang designer, tapi percaya atau tidak, inilah yang disampaikan wanita kelahiran Bali, 28 Mei 1981 bernama I Gusti Ayu Shinta Chrisna. Beberapa tahun terakhir namanya melejit sebagai start up yang diperhitungkan di kancah nasional. Kini karya-karyanya tersebar mulai dari Surabaya, Jakarta, Bandung dan Medan bahkan mancanegara seperti California, Kuala Lumpur, Brunei, Cape town (Afrika Selatan) dan Maroko. Pada acara Wedding Romance Week, The Biggest Wedding & Party Expo yang digelar 4-6 Mei di Grand Pacific Hall Yogyakarta lalu, menjadi ajang pagelaran karya indahnya. Disandingkan dengan dua desainer kondang Ivan Gunawan dan Intan Avantie, Shinta Chrisna menampilkan sesuatu yang beda, berani dan terkonsep. Tampilan 18 gaun indahnya dimana salah satunya dikenakan top model yang juga bintang iklan Lux, Renata, terbalut dalam sebuah pertunjukan The Epic of Ramayana in a Balinese Cultural Heritage.

Pernah menimba ilmu di Lembaga Pengajaran Tata Busana (LPTB) Susan Budiharjo, Shinta Chrisna mulai merambah dari panggung ke panggung, undangan demi undangan diterimanya, seperti merancang busana untuk malam grand final Pemilihan Putri Bali 2010 sampai 2012, Health Ambassador 2011, Miss Emvee Beauty 2011, Bali Magical Wedding Vaganza 2011, Anugerah Mode 2009, Putri Kebaya 2009, Fashion show di Kamasutra, fashion show dengan High End Magazine and MNC Life Style dan juga fashion show dalam Denpasar Festival bersama Putri Bali. Karya-karyanya digunakan artis-artis ibukota seperti Donna Agnesia, Saipul Jamil dan istri (almarhum), Kirana Larasati dan Kaemita. Termasuk pernah menjadi undangan khusus dari perancang idolanya, Anne Avantie dalam fashion show Anne Cinta dan Sahabat, termasuk salah satu yang terbaru di Keraton Kasunanan Solo dan Indonesian Fashion Week dan pagelaran Tribute to Titik Puspa pada tanggal 20 Mei lalu di Jakarta.

Lulusan terbaik S-1 Ekonomi di Undiknas Denpasar tahun 2003 dan S-2 di Magister Manajemen Unud dengan predikat cum laude ini, awalnya terjun ke dunia jahit menjahit secara tidak sengaja. Perjalanan bisnisnya pun unik, dirinya pernah memiliki 5 perusahaan sekaligus yang saat ini nyaris semuanya kolaps. Ibu dari 4 orang bocah ini menceritakan pengalamannya dikediamannya yang asri.

Bagaimana awalnya menekuni bidang design?

Sejak lulus kuliah, saya menikah dan mulai membangun bisnis dengan suami, banyak sekali jenis usaha yang pernah kita coba, mulai dari digital printing, otomotif termasuk pernah menerbitkan tabloid otomotif juga dan beberapa usaha lainnya. Total saya pernah memiliki 5 perusahaan sekaligus. Tapi karena semuanya nggak fokus, maka satu persatu kita tutup, yang terakhir kita punya usaha interior design yang menjual wallpaper, korden dan sejenisnya. Waktu diawal memulai usaha, saya sendiri yang kadang turun tangan langsung ke konsumen untuk memasangkan korden yang mereka pesan.

Nah di toko interior design itulah mulai memajang koleksi kebaya saya, awalnya dipajang karena suka aja. Saya mulai mencoba mengenakan baju koleksi kebaya milik pribadi. Perlahan para pelanggan yang datang mulai banyak yang menanyakan baju-baju kebaya itu. Akhirnya mulailah lebih serius dengan memajang lebih banyak baju kebaya lagi, dan akhirnya mulai menerima pesanan.

Sudah mulai ikut fashion show?

Awalnya mulai dilirik untuk diajak fashion show. Kemudian saya disuruh mensponsori majalah InDesign untuk membuat event Putri Kebaya di Tiara, dan itu saat pertama kali saya fashion show dan mulai menyadari bakat saya ternyata disana, I am designer.

Sudah ada karya khusus yang dibikin saat itu?

Sudah, saya sudah membuat kebaya dengan motif bulu-bulu, pokoknya berbeda, being different lah, saya nggak membuat desain yang dipakai satu jagad satu umat, tapi karya-karya yang sangat berbeda.

Sudah dipasarkan kemana saja?

Oh banyak, sudah kemana-mana. Ada ke Jakarta, Surabaya, Malaysia dan saat ini orang yang membutuhkannya pun dari kalangan beragam, seperti artis yang membutuhkan kebaya untuk keperluan photoshoot misalnya. Pada umumnya banyak yang berminat hasil karya saya untuk wedding karena memang sentuhannya detail dan tidak biasa.

Kapan mulai ikut eksebisi?

Saya mulai ikut eksebisi tahun 2009, dan momentum yang paling tinggi buat saya saat menjadi official designer Putri Bali untuk ajang Putri Indonesia, itu sesuatu yang sangat luar biasa. Idola saya Bunda Anne Avantie dan saya diajak oleh pihak sponsor untuk meramaikan ajang tersebut mewakili dari daerah. Inilah yang membuat saya makin dekat dengan idola saya itu, beliau bahkan sempat datang ke rumah, beliau sudah seperti ibu saya sendiri.

Tahun 2009 bukan rentang yang lama, berarti saat ini sudah mulai menjadikan design sebagai pilihan hidup?

Melalui profesi sebagai designer saya juga bisa menjadi diri sendiri, merasa merdeka dalam berekspresi dan tidak menjadi orang lain. Jadi design itu buat saya bukan hanya sekadar urusan bisnis saja. Makanya kegiatan sehari-hari saya sekarang mengkhayal mencari inspirasi. Apalagi saat ini saya sudah banyak sekali mendapat support dari banyak designer, bahkan dari my idol sendiri Bunda Anne Avantie. Para senior melihat saya memiliki karakter, karena itu mereka mau membantu saya. Karena kalau hanya menjadikan ini sebagai bisnis semata, maka banyak orang bisa diajak bekerjasama, tapi untuk support, itu nggak banyak, kecuali jika kamu punya karakter.

Jika kemudian nantinya berhasil, maka seseorang bisa dikenal dengan karakternya itu. Terutama support dari Bunda Anne Avantie yang meyakinkan saya bahwa dengan karakter tersebut akan sangat membantu untuk berhasil dan membuat karya saya berharga.

Bukan hanya soal bisnis?

Iya, karena kalau sekarang mau bikin kebaya ala Anne Avantie gitu, siapapun bisa, you can found it everywhere. Tapi yang dilakukan dengan heart dan tidak sekadar mengikuti pasar, itu yang membuat kita beda.

Berarti kalau ada trend kebaya 2013 seperti apa, maka Shinta Chrisna tidak akan mengikuti kesana ya?

No..no..no.. tidak, tidak, saya tidak akan mengikutinya, sama seperti bunda Anne Avantie juga seperti itu. Makanya saya nggak pernah nonton atau melihat trend-trend kedepan itu akan seperti apa, kalau bisa kita yang menentukan trend. Menjadi terkenal sebagai seorang designer itu adalah perjalanan yang panjang, its long journey dan jalan menuju kesana memang harus dilalui seperti ini. Kalau kita sekadar mengikuti pasar, ya nggak ada bedanya dengan berbisnis biasa.

Lalu konsep apa yang hendak dikenalkan oleh Shinta Chrisna?

Kalau kemarin-kemarin itu saya lebih banyak membuat satu baju untuk satu orang, memang hal ini bagus untuk idealisme saya, tapi kalau dari segi bisnis itu konyol, karena di Bali pasarnya belum bisa menjangkau ratusan juta untuk sebuah kebaya, kalau karya bunda Anne bisa, kalau saya masih belum. Jadi kalau kita mengerjakan satu baju yang harganya satu dua juta tapi berhari hari itu ya nggak lucu. Itu sebabnya sekarang saya sudah mulai mengerjakan karya untuk koleksi, yang kira-kira 4 bulanan rentang waktunya. Dan saat ini kita tengah prepare kesana, makanya butik saya di WR Supratman sedang saya kosongkan, its gonna be a new brand Shinta Chrisna

Maksudnya, lebih profesional?

Iya kira-kira begitu, untuk saat ini saya sedang renovasi tempat usaha, hendak mengkonsep lebih baik lagi for new born Shinta Chrisna dan ingin menuju lebih profesional. Karena kemarin itu saya masih seperti anak kecil, terlalu idealis, tapi jika saya tidak melewati tahap itu, maka saya tidak akan mencapai apa yang saya raih sekarang. Di apresiasi oleh banyak orang dan dikenal hingga keluar daerah, dan untuk saat ini orang yang datang mencari kita. Kalau tidak ada merek dan masih begitu-begitu saja, maka tidak ada yang spesial, walaupun dari segi bisnis bisa saja laris, karena membuat kebaya yang bisa dipakai sehari-hari kan banyak peminatnya. Tapi dengan konsep saya saat ini, justru bisa melayani pasar dari luar, saat ini sudah banyak yang minta saya untuk memproduksi sampai 1000 pieces, bahkan di Australia sudah ada yang mau membukakan saya outlet, ada juga yang dari Maroko dan negara-negara di Afrika dan Malaysia yang sudah banyak jadi langganan saya. Semua karya saya sudah dikirim ke berbagai negara tersebut sekalipun pembelinya adalah personal. Bahkan baru-baru ini ada teman dari Turki yang datang ke butik dan memesan kebaya saya.

Berarti ini fase branding, what next?

Sekarang sebagai designer saya mulai tahu kalau desain itu ada kelas-kelasnya, jadi nanti produk itu ada layer harganya, dengan klasifikasi berbeda-beda, misalnya ini produk Shinta Chrisna yang kelas berapa dan seterusnya, high-nya segini, medium segini namun dangan kisaran masih terjangkau. Saya mau bikin brand image yang berbeda, nggak semata-mata jahitan biasa tapi lebih terkonsep dan tertata, saya ingin customer yang menggunakan karya saya merasakan bahwa ini memang dari produk Shinta Chrisna. Saya saat ini juga belajar untuk care dengan pelanggan, misalnya saat proses fitting pakaian terutama pada model kebaya yang kadang harus dikecilkan lagi untuk memenuhi penampilan yang lebih bagus.

Nyaris tidak ada kendala ya..

Sebenarnya banyak kendala saya sebagai designer di Bali, mereka suka melihat baju-baju saya tapi saat mereka mencoba memakainya merasa tidak pede, mereka hanya menikmati untuk melihatnya saja. Sejatinya saya ingin membuat produk yang masterpiece, tapi setelah jadi mereka merasa bentuk tubuh mereka tidak cocok untuk desain baju yang saya buat. Komplain seperti inilah yang kadang datang ke saya. Makanya saya ingin membuat kebaya yang sudah jadi dan mereka tinggal beli, jadi ya mereka tidak boleh komplain karena sudah lihat produknya kan, paling saya bisa kecilin atau menambahkan aksesoris tambahan yang diinginkan.

Harus pandai membaca keinginan pelanggan?

Jadi designer itu memang harus semi ‘balian’ kali ya, jadi kita harus pandai membaca keinginan pelanggan. Disatu sisi terkadang pelanggan tersebut yang tidak pandai menjelaskan dan mengurai apa keinginannya. Disisi lain kita juga harus pandai membaca kepribadian mereka dari segi berbusana dan corak kesukaan yang diminatinya sehari-hari. Karena kadang pelanggan datang ke butik memakai baju warna merah, ternyata itu cuma pas sekali dia pakai karena kehabisan baju misalkan, nah kalau tidak bisa membaca kepribadian dia yang terlihat “merah” itu, dan kita justru membuat kebaya dengan nuansa merah, maka kita salah memberikan karya yang diinginkan customer.

Apa mungkin sebaiknya ada tes psikologis dulu untuk mengenal kepribadian customer 🙂 ?

Ha..ha.. Iya, jangan-jangan mesti begitu, supaya tahu model kesukaan, warna pakaian dan lain-lain.

Ok, untuk sekarang berapa harga kebaya yang Anda kreasikan?

Saat ini untuk baju wedding berkisar 7-10 juta. Sedangkan untuk second line-nya mulai 700 ribu hingga Rp. 1,5 juta. Sedangkan baju-baju yang sudah digunakan saat fashion show, karena itu biasanya berbahan yang agak beda, saya lepas dengan harga 4-5 juta. Saya berusaha memilah diri saya dalam bentuk turunan-turunan dari karya tersebut, jadi saya bisa menjangkau pasar. Walaupun saat ini kelihatan pangsa pasar saya itu lebih ke menengah atas, namun kelas menengah atas yang memiliki karakter diri kuat, jadi bukan hanya sekadar ikut-ikutan. Jadi saya tidak akan menerima pelanggan yang datang untuk dibuatkan kebaya hasil karya designer siapa misalkan, ya mending pelanggan itu pergi saja ke designer tersebut, jangan ke saya.

Pasar dengan segmen high end, apalagi dengan identitas yang kuat, populasinya menjadi terbatas sekali?

Sedikit memang, tapi dengan passion yang saya miliki, saya yakin mampu mencapai kesana, bukannya over confident juga ya, tapi selama ini tawaran yang datang kesaya sangat banyak, dan kita di Bali ini jualan yang paling murah lho dan masyarakat yang membutuhkan kebaya sangat banyak, beda dengan daerah lain. Tapi susahnya pasar disini buat ngeluarin duit, seorang designer kebaya kondang juga kesulitan membuka pasar disini untuk kebaya, padahal di Jakarta, karya dari designer itu dijual dengan harga awal Rp. 40 juta, karena disana pasarnya memiliki daya beli yang kuat, disini nggak bisa. Tetapi orang yang membeli kebaya dengan harga semahal itu pun tidak menggunakan kebayanya pada kegiatan sehari-hari. Jadi bisa dibilang sekarang ini saya berkarya dengan hati, dengan passion tapi lebih terarah dan sesuai dengan apa yang saya inginkan.

Berarti tidak menerima pesanan?

Tetap menerima pesanan, tapi sedikit. Karena begini, kalau semata dari pesanan maka pelanggan berkata, “mbak Shinta saya mau dibuatin kebaya untuk saya pakai undangan tanggal sekian,” saya nggak bisa seperti itu, jangankan manage hal itu, untuk ngurus diri saya sendiri pun susah, sebagai ibu rumah tangga, mesti jemput anak, belum lagi kalau nggak ada mood. Makanya saya ingin punya waktu misalkan 3 bulan khusus untuk berkarya dan hanya berkarya, nggak mau di ganggu dan disana bisa menonjolkan ciri khas saya.

Bila ada tawaran untuk mengembangkan sayap dan harus pindah ke Jakarta?

Sebenarnya sudah ada tawaran untuk saya ke Jakarta dan banyak penawaran lainya, tapi kembali bahwa saya seorang ibu dan ingin memberikan yang terbaik dengan selalu mendampingi anak-anak. Kalau ingin cepat meraih sukses dan bergelimang duit, saya sebenarnya bisa memenuhi keinginan untuk pergi ke Jakarta atau Australia, tapi itu bukan saya.

Ok.., lets talk about you, saya melihat dirumah ini ada perangkat musik, mulai gitar sampai keyboard, siapa yang hobi disini?

Oh.. Iam a musician, ha..ha.. sedari kecil sudah senang bermain gitar, I love music, saya sangat menyukai hal-hal yang berbau seni. Sejak kelas 6 SD saya sudah bisa mainkan gitar, saya suka memainkannya di teras rumah sambil santai. Saya suka musik-musik seperti Aerosmith, The Beatles, Frank Sinatra, Rooling Stones dan yang sejenisnya sampai sekarang, dan tidak pernah tertarik dengan musik-musik saat ini yang lebay. Bahkan saat SMA saya pernah diajak oleh Balawan untuk rekaman, itu pengalaman yang sangat mengesankan. Malah teman-teman bermusik saya saat ini sudah banyak yang jadi, ada yang personelnya Maharaja, ada yang saat ini punya proyek dengan Indy Barend di Jakarta. Tapi kegemaran saya bermusik tidak berlanjut ke jenjang profesional karena mood saya naik turun, dan kedua saya tidak punya motivator saat itu. Saya juga pernah rekaman dengan Mas Indra Lesmana sebagai director-nya dan kursus dari Mbak Bertha dari Jakarta. Seabrek aktifitas saya ini dulu waktu muda sangat kental dengan musik.

Tapi nggak nyesel juga kan, sukses jadi designer?

Nyesel banget…!!! Ha..ha.. jujur secara pribadi ada rasa penyesalan meninggalkan hobi saya di musik, inginnya terus berkarya di bidang musik dan fashion, tapi untuk berkarir di bidang musik mungkin tidak. Karena memang kita tidak akan bisa memenuhi semuanya, harus ada spesialisasinya di bagian mana. Kita tidak bisa memaksakan diri berada disemua segmen, we have an identity, kamu mau dimana, kalau mau dipasar yang bebas lepas dan mudah menghasilkan duit, ya jangan susah mikir. Jadi makelar misalkan, kita sewa tempat, biar orang lain produksi dan kita tinggal jual, jadi nggak pusing mikir produksi dan lainnya.

 

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *