MENU

by • September 4, 2012 • InterviewComments (0)124

Ide dan Terobosan Jero Wacik

Sepak terjangnya diberbagai bidang yang digelutinya, selalu berhasil dilewatinya dengan berbagai pencapaian dan prestasi, bahkan sejak masih dibangku sekolah. Di SMU, berbagai penghargaan akademik sudah pernah diraihnya, dan ketika kuliah di ITB, dirinya sudah bekerja di beberapa perusahaan tekstil di Bandung sebagai tim peneliti, sekaligus sebagai asisten jurusan Fluid Mechanics and Thermodynamics Mechanical Enggineering. Kendati sambil bekerja dan aktif berorganisasi, dia berhasil menyelesaikan pendidikan di ITB pada tahun 1973 dengan predikat Mahasiswa Teladan ITB tahun 1973. Setelah menyelesaikan pendidikannya, suami Triesna ini langsung bekerja di PT United Tractors sebagai Asistant Services Manager pada tahun 1974-1975. Di perusahaan otomotif terkemuka Grup Astra International ini, kariernya terus menanjak, mulai dari posisi sebagai asisten ditahun 1974, hingga menjabat Goverment Sales Manager di tahun 1990.

Lompatan kuadran dilakukan ketika dirinya di tahun 1990 memutuskan untuk terjun sebagai entrepreneur. Perjalanannya kesejumlah negara di Asia dan Eropa dalam rangka kursus dan seminar selama bekerja di United Tractors, menjadi faktor yang mempengaruhinya untuk terjun sebagai pengusaha. Bapak empat orang anak inipun semakin mantap sebagai pebisnis hingga mendirikan 2 perusahaan lainnya ditahun-tahun berikutnya. Dua dari 3 perusahaannya tersebut bergerak di bidang hotel dan biro perjalanan wisata, yaitu PT Griya Batu Bersinar dan PT Pesona Boga Suara, yang berkantor di Jakarta dan Bali. Sedangkan satu lagi, PT Puri Ayu, bergerak di bidang interior desain tekstil.

Selesai? Tentu saja tidak, ternyata apa yang sudah diraihnya ini, nampaknya hanyalah awal dari petualangan barunya yang jauh lebih menantang. Pada tahun 2004, bisa jadi merupakan momentum loncat kuadran terjauh yang pernah dilakukan pria ini sepanjang karirnya, yakni dengan terjun di pemerintahan sebagai menteri. Periode pertama, telah dilewatinya dengan banyak prestasi yang belum pernah dibukukan oleh pendahulunya, namun itu semua belum menyurutkannya untuk mendedikasikan lebih banyak hal lagi bagi masyarakat Indonesia, dan juga Bali secara khusus. Inilah sepak terjang putra Bali Jero Wacik!

Ditingkat sekolah dan kuliah, dirinya berhasil meraih banyak penghargaan. Sebagai profesional worker, jabatan tertinggi pernah dicapainya, sebagai pengusaha, 3 perusahaan besar dikomandaninya dengan sukses. Sebagai menteri Pariwisata, banyak program yang berhasil membawa perubahan dan menyumbang banyak penambahan devisa secara nyata untuk Indonesia. So, Vini, Vidi dan Vici. Bagaimana dengan tantangannya sebagai menteri ESDM, nampaknya ini akan menjadi satu lagi langkah kemenangan lain yang tengah menanti!

Logat Balinya yang kental masih terdengar jelas, sekalipun telah lama menetap di Ibukota, bapak empat orang anak kelahiran Singaraja ini masih belum kehilangan jati dirinya sebagai orang Bali. Setelah 7 tahun meniti karir di kabinet Indonesia Bersatu, Jero Wacik masih memiliki segudang mimpi dan program yang belum selesai. Toh demikian, dirinya tetap meyakini bahwa banyak mimpinya untuk Indonesia yang masih bisa terwujud. “Untuk energy, hal yang paling penting untuk rakyat adalah mereka mendapat bagian terbanyak dari apa yang kita miliki saat ini’, demikian pendapatnya ketika ditemui Money & I di Patra Resort Kuta beberapa waktu lalu. Masih banyak lagi perjuangan Jero Wacik sepanjang karirnya sebagai menteri yang luput dari sorotan media. Itulah sebabnya pejabat baru kepala eks BP Migas menceritakan pengalamannya ketika pertama kali menjabat sebagai menteri, hingga berbagai tantangan yang harus ditaklukkannya saat ini, serta mimpi-mimpi apa saja yang belum berhasil diwujudkannya.

Ceritakan pengalaman setelah 7 tahun menjabat di pemerintahan?
Ada banyak pencapaian yang sudah kita raih, kesulitan-kesulitan apa saja yang ada dan apa-apa yang belum tercapai. Memang tidak semua yang kita inginkan akan terwujud. Perjalanan saya sejak awal sebagai menteri adalah bagaimana menghidupkan Visit Indonesia Year yang sudah mati lama sekali [terakhir program Visit Indonesia Year berjalan pad atahun 1991, pada pemerintahan presiden Soeharto dengan menteri pariwisata Soesilo Soedarman.red]. Selain itu saya juga menghidupkan kembali film melalui Festival film Indonesia, mendaftarkan seni budaya Wayang, Keris, Angklung dan Batik ke Unesco agar tidak diakui oleh bangsa lain, dan banyak hal lainnya.

Apa tantangan terberat ketika mengawali karir sebagai menteri?
Pada akhir tahun, tepatnya 26 Desember 2004 terjadi musibah yang memakan korban terbesar dalam sejarah, yakni tsunami Aceh dan sebagian Sumatera Utara. Itu awal dari serentetan peristiwa berikutnya berturut-turut terjadi, mulai ledakan bom dua di Bali, lalu gempa di Jogja disusul gempa di Padang Sumatera Barat. Jadi semua daerah pariwisata unggulan kita, Bali, Jogja, Padang terkena musibah. Walau begitu saya tetap mengajak kalangan industri wisata di berbagai daerah untuk terus berjuang dan tidak menyerah. Termasuk dengan peluncuran Visit Indonesia Year 2008 di Jakarta, sekalipun saat itu sedang musim hujan. Benar saja, sehari setelah pencanangan itu, terjadi banjir yang menggenangi sebagian besar Jakarta dan sekitarnya. Dua hari kemudian di harian Kompas muncul karikatur di halaman 4 yang menggambarkan Om Pasikom sedang naik perahu dengan latar belakang kota Jakarta tenggelam dalam kebanjiran. Judulnya Visit Banjir Year, menghadapi karikatur seperti itu tentang Visit Indonesia Year 2008, dari sebuah harian yang memiliki pembaca terbanyak saya senyum-senyum saja. Gambar karikatur itu semakin menguatkan tekad saya untuk menyukseskan Visit Indonesia Year. Yang menggembirakan adalah respon daerah terhadap Visit Indonesia Year 2008. Ini menjadi program nasional yang diterima oleh banyak daerah. Muncullah kemudian berbagai program Visit lainnya di seluruh Indonesia termasuk Visit Banda Aceh, Visit Jawa Timur dan lain-lain.

Anda menolak sekolah tinggi pariwisata dikategorikan sebagai diklat, mengapa?
Pada saat saya masuk pertama kali sebagai Menteri kebudayaan dan Pariwisata di tahun 2004, STP dalam posisi amat rawan, sebab ada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional yang mengatur semua bentuk pendidikan tinggi harus berada dalam lingkup wewenang kementrian Pendidikan Nasional. Arahnya, saya lihat lembaga-lembaga pendidikan diantaranya macam STP dan Akpar terancam harus dibubarkan atau hanya menjadi Diklat atau pendidikan Kedinasan Pariwisata. Selama ini pendidikan pariwisata di Indonesia tidak mempunyai tingkat pendidikan strata satu (S1) yang bisa menghasilkan lulusan Sarjana 1. Yang dimiliki pariwisata adalah pendidikan strata 2 dan Diploma. Padahal menurut saya, mengapa pariwisata tak bisa meluluskan Sarjana S1? Sementara itu dunia pariwisata kita memerlukan tenaga-tenaga S1 yang terdidik dalam bidang pariwisata. Dikatakan bahwa pariwisata itu bukan ilmu. Saya katakan , apakah seni bisa dikatakan sebagai ilmu? Tetapi ada Sekolah Tinggi Seni. Apapun keduanya, seni maupun pariwisata layak menyediakan pendidikan tingkat Strata 1. Tentunya harus ada konsep untuk itu.

Saya pernah ke Dubai, dan bertemu dengan salah satu manajer hotel disana, dia lulusan STP. Saya pergi ke Amerika, salah satu GM Hyatt di sana itu ternyata lulusan STP. Saya pergi ke beberapa tempat di luar negeri selalu saya ketemu lulusan STP. Saya berpikir, para lulusan ini sebenarnya punya potensi menarik kawan-kawannya untuk juga bekerja di luar negeri. Mereka para alumni seharusnya bekerja dengan STP untuk memastikan setiap lulusan STP mendapatkan pekerjaan. Sebab sudah terbukti bahwa mereka mampu bekerja di luar negeri. Jadi tak ada alasan bagi lulusan STP untuk tidak mendapatkan pekerjaan. Kalupun ada alumsi STP yang menganggur, itu karena mereka memilih sendiri untuk tidak bekerja.

Anda juga banyak memperjuangkan warisan budaya kita untuk mendapatkan pengakuan?
Selama saya menjadi Menbudpar maka warisan budaya Indonesia telah banyak mendapat pengakuan secara berturut-turut dari Unesco mulai wayang, keris, batik dan angklung. Terakhir yang saya masih sempat ajukan ke Unesco untuk mendapat pengakuan adalah Tari Saman dan Tari Noken dari Papua. Dan semuanya memang berhasil untuk dipertimbangkan oleh badan PBB tersebut.

Akan tetapi terus terang saya masih berjuang untuk keris, wayang dan angklung. Keris itu sebuah masterpiece, tetapi bagaimanapun juga keris masih menghadapi halangan-halangan. Keris belum lintas gender. Belum bisa diterima kaum perempuan. Keris juga masih belum lintas generasi. Masih milik orang tua belum bisa disosialisasikan ke anak muda. Padahal keris adalah karya peninggalan bangsa simbol yang kaya akan tradisi dan nilai-nilai luhur. Jadi itulah tantangan buat kita.

Wayang juga begitu. Kendati saya dorong untuk lebih memasyarakat, wayang memiliki hambatan. Sebab ada wayang yang harus mengikuti pakem dan ada wayang yang bisa dimodifikasi. Kalau harus mengikuti pakem dimana waktu pertunjukkannya harus sekian jam tentuu akan sulit bagi generasi muda untuk menyenanginya. Dan di situ saya kira faktor kemampuan untuk membuat sebuah manajemen panggung yang baik diperlukan. Tetapi saya yakin pada suatu hari nanti wayang akan semakin digemari secara luas dan tak akan hilang kekayaan kebudayaan itu dari khazanah nasional.

Anda menghidupkan kembali industri film yang selama ini dianggap mati suri, apa yang Anda lakukan?
Begitu saya menjadi Menteri Kebudayaan dan Pariwisata menjelang akhir 2004, salah satu laporan yang saya terima adalah perfilman Indonesia sudah mati suri selama 12 tahun. Memang, setelah Festival Film Indonesia pada tahun 1997 tidak adalagi FFI. Hingga saat itu tahun 2004 tidak pernah ada FFI. Produksi film pun menurun drastis di tahun-tahun itu, hanya berkisar tiga sampai lima film saja pertahun. Saya ingat waktu itu saya panggil Direktur Jenderal yang membawahi bidang film. Saya sampaikan kepada Dirjen niat saya untuk menghidupkan kembali Festival Film Indonesia pada bulan Desember 2004. Padahal sewaktu saya ngomong dengan Dirjen itu sudah minggu ketiga bulan Oktober 2004. Praktis Cuma ada satu bulan waktu bekerja untuk menghidupkan kembali sebuah festival yang telah 12 tahun mati suri. Apalagi pada saat itu kami tidak punya uang karena anggaran departemen sudah teralokasi semua.

Saya kemudian mengundang salah satu stasiun TV swasta yang saya lihat cukup punya concern tentang kebudayaan. Dalam pertemuan itu saya intinya meminta kepada stasiun TV itu untuk menyiarkan secara live acara penyerahan Piala Citra dalam FFI. Waktu penyiarannya satu jam, dan saya minta free of charge. Direksi stasiun TV itu setuju sebab mereka dibebaskan mencari sponsor dua atau tiga perusahaan besar. Saya berjanji melobi perusahaan-perusahaan tersebut untuk turut mensponsori penyiaran acara FFI ini. Setelah FFI 2004 selesai dengan sukses, animo memproduksi film meningkat pesat. Produksi film pada tahun berikutnya, 2005, misalnya loncat menjadi 25-an lebih. Pada tahun 2006 jumlahnya naik lagi. Kali ini dana untuk menyelenggarakan acara itu ada, waktunya pun cukup. Apresiasi masyarakat terhadap film pun sudah ada, bahkan meningkat dibanding sebelum-sebelumnya.

Bagaimana Anda melihat pariwisata Bali?
Untuk pariwisata Bali, saya sudah menggagas agar menjadi tempat yang nyaman untuk semua. Kalau semuanya numplek di Bali Selatan seperti sekarang, maka kini sudah macet dimana-mana, turisnya tidak happy, kita warga Bali juga tidak happy. Airport sudah krodit karena semua ada di Bali Selatan, masyarakat yang dari di Bali Utara datang ke Bali Selatan, yang dari Bali Timur juga ke Bali Selatan dan yang dari Bali Barat juga datang ke Bali selatan, numpuk semua disini. Teman-teman saya saat SMA kemudian kuliah di sini, lalu menikah dan beli rumah juga disini, beli mobil juga di Bali Selatan, jadi ada ribuan orang seperti itu. Hotel-hotel juga ramai di bangunnya di Bali Selatan, sehingga sudah tidak nyaman lagi. Sementara warga di Bali Timur dan Bali Barat masih menderita kemiskinan. Itu sebabnya kemudian saya menggagas lapangan terbang baru nanti ada di Bali Utara, sudah mulai jalan walau hanya sedikit, tapi seperti biasanya, kalau program berdana besar maka akan sulit terlaksana. Namun bagi saya, ketika mendapat amanah dari negara, maka kerjakanlah sebaik-baiknya, setulus-tulusnya, sekeras-kerasnya, setelah kita bekerja maka buat laporan sehingga masyarakat tahu apa yg kita kerjakan, sehingga kita mempunyai akuntabilitas yang baik.

Anda juga melakukan beberapa perubahan di Bandara Ngurah Rai?
Waktu saya menjadi menteri pada 2004, salah satu sidak (inspeksi mendadak) pertama yang saya lakukan adalah dengan Pak Hamid Awaluddin (Menteri Hukum dan HAM ke Bali). Saya mendengar dari berbagai sumber, termasuk industri dan media massa, bahwa ada keluhan tentang pelayanan imigrasi di Bandara Ngurah Rai. Katanya, antriannya bisa sampai keluar gedung. Untuk itu saya datang langsung ke Bali bersama Pak Hamid untuk melihat sendiri bagaimana situasinya.

Kondisi yang kami lihat saat itu: pintu yang ada meja imigrasinya ada enam; antriannya memang panjang sekali. Lalu saya terinspirasi apa yang dilakukan di jalan tol. Di banyak jalan tol, kalu lagi ramai-ramainya kendaraan antre, biasanya dibuat agar pembayarannya bisa tidak hanya satu loket tetapi berseri.

Persoalannya memang di bandara di Bali itu lebar ruangan yang ada meja imigrasinya tidak bisa ditambah. Tembok di kiri kanannya sudah mentok. Temboknya juga tidak bisa dibobol karena dibaliknya sudah ada kegiatan lain. Akhirnya saya usul supaya dibuatkan saja per lajur itu ada tiga loket /meja imigrasi. Wah,susah, kata petugas imigrasi di sana, nanti komputernya kurang. Walaaah, komputer kan bisa beli. Kalau tadinya enam komputer, ya tinggal dijadikan 18 komputer. Wah, balasnya petugas imigrasi itu kembali, nanti orangnya kurang. Ya tambah saja, wong di Indonesia masih banyak sumberdaya manusia yang bisa dilatih kok.

Wah, katanya lagi, kalau begitu kan harus lebih dulu sekolah imigrasi sekian lama. Ah-la-la, cuma nge-chop saja tok-tok-tok kok pakai harus sekian tahun pendidikan dulu segala. Dilatih sebentar saja orang kita pasti bisa. Dilatih sebulanlah, paling lama. Wong ini pekerjaannya sederhana: tinggal lihat paspor negara asal mana, ada di daftar wanted dari Interpol tidak namanya. Kalau tidak, ya di-chop (beri cap), selesai. Bayar sekian. Masak begitu saja mesti enam tahun sekolahnya?

Begitulah cara saya bekerja dalam menghadapi kendala di lapangan. Saya selalu mencari solusi yang cepat dan tepat guna. Kalau bisa dipersingkat, mengapa harus dibuat berlama-lama.

Anda juga memprakarsai banyak festival, ada cerita dibalik semua ini?
Bulan Juli 2005 berlangsung Pesta Kesenian Bali (PKB), pak Presiden ikut menonton , malah beliau yang membuka. Waktu itu dalam PKB sudah ada partisipan dari luar Bali. Jakarta ikut juga ada peserta dari Jepang, Filipina dan Korea. Pak Presiden bilang ke saya, kalau dibuat pawai budaya buat nasional bagus juga. Seluruh gubernur diminta ikut serta. Coba, bisa tidak untuk tanggal 17 Agustus ini, tanya Presiden. Pembicaraan itu terjadi bulan Juli sedangkan maunya untuk acara di bulan Agustus. Berarti Cuma sebulan waktu persiapannya. Waduuh. Tapi saya jawab siap saja. “Bisa, Pak” mau bagaimana, jadi menteri belum setahun, nggak bisa tidak bisa. Harus bisa! Padahal waktu itu otonomi daerah sedang marak-maraknya, gubernur tidak bisa di perintah-perintah menteri. Tapi saya telepon semua gubernur dan akhirnya yang ikut 22 propinsi. Meyakinkan para gubernur buru-buru , persiapannya buru-buru, APBN-nya juga tak ada, jadi harus mengais-ais dari anggaran yang ada. Toh akhirnya 22 propinsi ikut, lumayan. Tahun berikutnya harus lebih bagus lagi karena ada waktu persiapan setahun. Anggarannya juga ada.

Selain berbagai terobosan, di era Anda sebagai Menteri Pariwisata, terjadi beberapa ancaman keamanan negara, bagaimana Anda mengatasinya?
Waktu kejadian tsunami di Aceh saya belum sempat memikirkannya, karena waktu itu saya baru menjabat dua bulan. Nah, waktu bom Bali kedua saya mendapat satu ilmu ini. Ceritanya begini, Tanggal 1 Oktober 2005 jam 19:05 WIB terjadi bom di Jimbaran dan restoran Raja’s di Kuta. Selang beberapa menit setelah bom saya sudah di kabari. Malam itu juga berangkat Menko Polkam, Panglima TNI, kapolri, dan Kepala BIN ke Bali. Selagi rapat, sebuah pesawat khusus rupanya sudah disiapkan untuk rombongan ini. Pak Presiden mengajak saya berangkat ke Bali esok harinya.

Di Kuta, karena sudah dekat situ, Pak Sapta bisik ke saya, “Pak ajak Pak Presiden ke media center, bicara langsung pada pers dunia.”Kami jalan kaki kira-kira 200an meter. Di situlah saya kaget dan mendapat ilmu. Ternyata aula yang begitu besar penuh sesak dengan awak pers. Media dari seluruh dunia ada di situ. Selama Presiden bicara mengutuk terorisme, saya berpikir. “Gila juga pers ini, baru semalam kejadiannya besoknya sudah bisa kumpul sekian banyak media asing di Bali”

Saya berpikir, wartawan segitu banyak, merekalah yang membuat berita mendunia. Maka, kalau kita mau recovery, medialah yang harus diajak. Karena media yang bisa menyebarkan berita tragedi ini ke dunia, maka dia pula yang bisa menyembuhkannya. Gerakannya setelah media center dibentuk adalah media tour. Esok harinya saya ajak wartawan dunia itu tur dengan bis dan saya sebagai guide. Saya ajak ke Mengwi, Ubud dan Kintamani. Seeing is believing bagi pers. Pers dunia bisa melihat bahwa di Ubud atau Kintamani tidak ada bahaya apa-apa. Di Tanah Lot juga tidak ada bahaya apa-apa, begitu juga tempat-tempat lainnya.

Salah satu program Anda adalah Visit Museum Year, bagaimana eksekusinya?
Masalah riil yang sekarang terjadi, museum-museum kita 90% jelek atau tidak layak dikunjungi. Gara-gara saya menyebutkan itu banyak yang marah. Di Bali tokoh-tokoh museum banyak yang marah. Saya bilang, memang mayoritas, 90% museum di Indonesia jelek. Nah, kalau tidak percaya ya lihat sendiri. Kunjungilah museum. Lihat museum-museum di Palembang, Aceh, Kalimantan Barat, Kupang, Lombok dan banyak lagi. Saya sudah lihat itu semua dan karena sudah melihatnya semua secara langsung saya bisa katakan bahwa 90% museum di Indonesia jelek, tidak layak kunjung, kumuh, malah berdebu. Sudah begitu, penjaganya tidak mengerti isi museum. Itu realitasnya, tantangannya bagaimana membuat museum yang jelek tadi menjadi menarik sehingga mengundang orang untuk mau mengunjunginya. Itu tugas seorang pemimpin, pemimpin tugasnya menerobos kebuntuan ini. Sementara kalau orang Indonesia ke luar negeri dan mengunjungi museum, mereka akan terkagum-kagum dengan peradaban bangsa di sana. Dengan melihat isi museum mereka akan bilang, hebat betul bangsa ini. Apalagi museum itu tata sajinya rapih, juga tata pencahayaannya. Lalu bisa interaktif pula dengan pengunjung. Nah kesana kita menuju.

Pertama, saya harus mencanangkan Visit Museum Year 2010 agar setiap orang terdorong untuk mengunjungi museum. Agak dipaksa mengunjungi museum melalui edaran surat. Saya membuat surat pada Menteri Dalam Negeri, lalu Menteri Pendidikan Nasional, dan kepada semua gubernur dan bupati, agar mengajak anak-anak sekolah, mewajibkan anak-anak sekolah mengunjungi museum minimal satu tahun sekali. Jadi, dari pada ke mall terus sekali-kali kunjungi museum. Jangan semua saat liburan maunya pergi ke mal melulu. Sudah gitu mau anaknya berkarakter pula, ya nggak bisa itu. Saya juga minta kepada anggota DPR, kepada menteri-menteri, kalau lagi mengunjungi daerah saya minta mereka khususnya para menteri mau mengunjungi minimal satu museum.

Kalau menteri tiap kali ke daerah mengunjungi satu museum, walikota atau bupati dimana museum itu berada pasti sungkan kalau museumnya kotor atau berdebu. Bisa pontang panting bupati itu membersihkannya. Paling tidak mereka akan menyuruh supaya museumnya disapulah bagian-bagian yang kotor. Lumayan kan. Programnya itu Visit Museum Year 2010 plus revitalisasi museum-museum Indonesia dari tahun 2010 sampai 2014, program lima tahunan targetnya adalah: pada 2014 nanti di akhir kepemimpinan SBY sebagai Presiden Indonesia dan saya sebagai Menbudpar, minimal 50% museum di Indonesia sudah layak dikunjungi. Itu tingkat implementasinya.

Kunjungan dari turis Malaysia ke Indonesia mengalami peningkatan di era Anda, apa yang Anda lakukan?
Sekarang kalau kita melihat Bandung itu kan kentara bahwa banyak sekali pelancong asal Malaysia di kota itu, tidak hanya di akhir pekan, tetapi sepanjang minggu. Nah kebanyakan orang akan mengira hal itu terjadi dengan sendirinya, padahal sangat tidak begitu ceritanya. Ada proses panjang sehingga sampai banyak orang Malaysia ada di Bandung. Pada 2005 saat saya baru-baru saja jadi menteri, saya berkenalan dengan Tony Fernandez, founder dan CEO Asia Air. Dia ingin mengembangkan rute penerbangannya ke Bali. Dia sudah menulis surat ke Menteri Perhubungan RI, namanya juga untuk melindungi negeri, pemikirannya benar juga sih sebenarnya dengan tidak mengijinkan permintaan itu karena akan menyaingi Garuda. Karena tidak diberikan ijin, ya sudah selesai di situ prosesnya.

Terus Tony bercerita tentang permohonan ijin yang gagal itu. Saya tanya, you mintanya apa? Dia menceritakan bahwa dia mintanya hanya ijin untuk rute Kuala Lumpur – Bali direct, itu saja. Saya bilang you cari enak you sendiri, you nggak mikirin Indonesianya. Jadi harus bagaimana, tanya Tony. Lalu saya bilang ke dia, ‘kalau you mau kita bikin deal, begini .. Kuala Lumpur – Denpasar tujuh kali seminggu, Kuala Lumpur – Bandung dua kali seminggu, Kuala Lumpur – Padang sekali seminggu dan Kuala Lumpur – Makassar sekali seminggu. Jadi empat tujuan, tidak Bali saja. Kalau nanti load factor-nya diatas 60%, maka you dijinkan menambah frekuensi penerbangan. Ini boleh untuk yang mana saja. Dikasih kesempatan menambah. Tapi kalau load factor-nya di bawah 60% selama dua bulan berturut-turut, you boleh correct flight itu dari rute reguler Air Asia. Yang penting sudah dicoba. Maksudnya begini, untuk tiga rute memang ada spekulasi (Bandung, Palembang dan Makassar) sedang yang satu pasti untung (Bali). Jadi kalau rugi ada cross-subsidy dari yang untung, begitu kira-kira usul saya.

Ternyata Tony Fernandez mau menerima gagasan itu, saya pun langsung menelepon Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal.”Eh, ini Air Asia tolong kasih ijin menerbangi rute yang dia minta, Bali, empat rute.”Saya jelaskan juga target-targetnya. Maka mulailah dicoba. Rute Bali jalan, rute Bandung jalan. Di bulan pertama tahu-tahu kena itu 80% load factor, terus bulan kedua 80% lagi. Setelah itu Tony Fernandez telepon, dia bilang saya berani tujuh kali seminggu ke Bandung. Itu sama dengan Bali. Nah yang Bali bertahan, sekali sehari tetapi yang ke Bandung malah tambah terus sehingga seminggu dia bisa 28 kali, atau sehari empat kali. Kalau Bali kan selain Air Asia ada MAS dari Malaysia. Tapi yang ke Bandung itu yang fenomenal.

Selain turis Malaysia, Anda juga mendorong kedatangan turis Rusia?
Setiap akhir tahun di bulan Desember, saya selalu ke Bali. Pas turun dari pesawat di Bandara Ngurah Rai Bali, saya melihat kira-kira ada lima atau enam pesawat chartered flight dari Rusia. Pesawat-pesawat carter itu diparkir di area apron. Dan pesawat-pesawat carteran itu bisa nongkrong di Bali berhari-hari. Bayangkan turis yang perginya carter pesawat; dia itu pasti kaya. Lalu pesawat carteran itu diparkir berhari-hari, disuruh menunggu; itu pasti kayanya berlipat-lipat. Pesawat carteran itu biasanya hanya mengantar (drop off) dan menjemput (pick up) saja. Jadi jika sampai pesawat carter disuruh nunggu, itu kan artinya dia disewa selama menunggu itu. Betapa kayanya orang-orang Rusia yang seperti itu.

Terus saya berbicara dengan banyak pemilik restoran. Saya menanyakan, apakah banyak pengunjung Rusia di restonya? Jawabnya: banyak. “Wah kita senang sama turis Rusia itu.”kata pemilik restoran. Mengapa? Karena turis Rusia itu selalu membawa uang tunai dan membawanya selalu di dalam tas merek Echolac. Agaknya orang Rusia belum biasa atau percaya dengan kartu kredit rupanya. Lalu uang tunai yang mereka bawa selalu US Dollar dan satuannya pun yang US$ 100 pula. Kalau mereka makan bayarnya dibulatkan juga ke atas, dengan lipatan US$100. Juga kalau memberi tip, memakai US$100. Untuk semua yang mengurus mereka, mereka memberi tip seperti itu. Penyebabnya sederhana, mereka tidak punya uang yang lebih kecil lagi. Ibaratnya, mereka tidak mau pegang uang yang recehan. Untuk itu mereka selalu membawa tas Echolac yang isinya penuh US$100-an. Di Rusia banyak orang kaya sepertii itu, cuma persoalannya tak ada direct flight (penerbangan langsung) atau regular flight (penerbangan komersial) dari Moskow, Rusia ke Bali. Untuk terbang ke Indonesia dari Rusia paling tidak dibutuhkan pesawat ukuran Boeing 747; atau paling tidak Airbus 300. Garuda tidak punya pesawat untuk jalur ini. Lha, kalau kita menunggu Garuda sampai dia punya pesawatnya, keburu berhenti minat orang-orang Rusia itu untuk terbang ke Bali.

Bagaimana menangani persoalan ini?
Saya orangnya senang terobosan. Garuda sudah lebih dulu saya approach terkait penerbangan Ruisa-Bali ini tetapi mereka tidak punya pesawatnya dan mempersilakan mencari maskapai lain. Jadi saya approach Singapore Airline [SQ] untuk menarik turis Rusia ini dan memboyongnya ke Bali. SQ sendiri terbang ke Bali dari Singapore empat kali sehari dengan pesawat gede-gede, Boeing 777. Tadinya dua kali sehari, tetapi mereka minta agar bisa naik jumlah frekuensinya. Waktu itu Wakil Presidennya Pak Jusuf Kalla. Saya lapor ke beliau soal keinginan SQ itu. “Bisa ganggu Garuda nggak rencana SQ ini?” tanya Pak JK waktu itu. Saya jawab,”Garuda tidak punya pesawatnya; kalau ada pun belinya kredit jadi uang yang mereka dapat bakal dipakai untuk membayar hutang. Jadi, uangnya masuk ke negara tetapi sebentar lagi sesudah itu keluar lagi. Tidak menjadi devisa.”Akhirnya kalau untuk mendatangkan turis, Singapore Airlines mau berapa pesawat pun masuk Bali, akan diberikan saja. Sebab dampak ekonominya (multiplier effect) besar sekali. Begitulah cara Pak Jusuf Kalla berpikir. Cocok, saya pun sama dengan beliau cara berpikirnya. Tidak lama kemudian dibuka penerbangan Moskow-Singapore. Pada penerbangan perdananya rute baru ini, Moscow – Singapore, saya terbang ke Singapore untuk meresmikan rute ini dan menyambut kedatangan penerbangan pertama. Lucu juga saya pikir, menteri asal Indonesia menyambut resmi penerbangan perdana penerbangan SQ dari kota Moskow di Rusia ke Singapore.

Banyak persoalan terkait jalur penerbangan yang menghambat pariwisata kita?
Dalam dunia travel dan tourism persoalannya ada di soal ijin dan tersedianya seats pesawat untuk melayani destinasi tertentu. Untuk ke Indonesia, turis Rusia ini sudah bisa menikmati VoA (pemberian Visa di tempat saat kedatangan). Tapi apa gunanya fasilitas itu kalau untuk mengangkut mereka ke sini, khususnya Bali yang jadi destinasi favorit, tidak cukup pesawatnya. Mereka kan tidak bisa berenang ke sini, harus pakai pesawat. Saya tanya ke menteri pariwisatanya Rusia waktu itu, ada tidak penerbangan swasta yang bisa melayani rute Rusia-Indonesia. Menteri Rusia itu bilang “ada”, namnya Trans Aero. Menteri Rusia itu melanjutkan : Trans Aero itu baru punya pesawat baru Boeing 747-400 lima buah. Pesawat itu baru datang dan kayaknya belum punya rute tertentu yang harus dilayani. Wah, peluang nih, saya pikir. Lalu saya minta alamat Trans Aero agar bisa saya kunjungi. Benar, saya mendatangi kantor Trans Aero di Moskow dengan didampingi Staff khusus saya, I Ketut Wiryadinata. Saya bertemu dengan jajaran direksi Trans Aero yang dipimpin CEO-nya.

Saya ceritakan tentang Bali dan banyaknya orang Rusia yang ke sana untuk liburan tiap tahunnya. CEO Trans Aero menanggapi ; dia siap terbang ke Bali asal mendapat ijin regular flight ke sana. Saya langsung telepon ke Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal. Seperti biasa, kalau berurusan dengan Menhub Jusman Syafii Djamal urusannya lancar. Tak lama setelah itu penerbangan regular ke Bali oleh Trans Aero pun dimulai. Saya teringat kisah ini karena beberapa waktu lalu pas lagi ke Bali, saya dan Wirya sempat melihat ada pesawat Trans Aero di Bandara Ngurah Rai. “Eh, ini kan pesawat yang dulu kita perjuangkan, ternyata sudah datang”, saya bilang ke Wirya. Orang pasti menyangka Trans Aero itu datang ke Bali dengan sendirinya. Padahal ada perjuangannya, supaya orang tahu saja.

Pada sidang UNESCO di Paris, Anda menolak diversity, apa alasan Anda saat itu?
Waktu itu kami sidang UNESCO di Paris. Yang mengajukan konsep universalisasi ini ada beberapa negara maju, termasuk Amerika. Ketika usul itu muncul saya tidak setuju. Yang memimpin sidang itu Menteri Kebudayaan Prancis. Di forum itu saya merasa saya pertama kali diuji sebagai pemimpin mewakili Indonesia karena ini pertama kali saya memimpin delegasi Indonesia ke acara yang berlangsung cukup jauh dari tanah air. Saya merasa saya ada kendala bahasa, lalu saya melihat menteri-menteri kebudayaan dari Eropa itu tampilannya seperti filsuf-filsuf Yunani, mereka pada berewokan semua seperti Archimedes. Ada juga yang gondrong-gondrong, jadi serem juga buat saya yang “culun”begini. Apalagi kita semua saling memandang karena susunan duduknya di meja bundar.

“Hari ini kita punya dua agenda pembicaraan: pertama, saya meminta pendapat para menteri terhadap usulan, semua karya budaya di dunia ini adalah milik bersama dunia, sehingga boleh dipakai oleh siapa saja. Saya minta pendapat para menteri”, begitu pimpinan sidang sekaligus tuan rumah berkata saat membuka pertemuan. Ternyata forum itu diam semua. Saya tengok kiri-kanan sambil berpikir, mengapa diam semua ya? Apa kalau konferensi internasional itu semua harus diam dulu?

Saya memandangi bendera merah putih yang berdiri di meja saya dan papan bertuliskan Indonesie di sampingnya. Suasanya kebatinan saya berkata: “Ayo Jero Wacik, masak gini aja takut; kamu mewakili 240 juta orang lho” itu cara saya untuk meng-encourage diri saya. Ayo jangan takut. Lha mereka yang berewok-berewok saja tidak ada yang angkat tangan. Ya sudah akhirnya saya angkat tangan. Pimpinan sidang, chairwoman-nya melihat saya mengangkat tangan dan langsung berkata: “Please, Indonesia..”

Saya menyatakan Indonesia tidak setuju dengan gagasan universalisasi. “I do not agree with the idea”di Indonesia saja, saya jelaskan, ada 300 kelompok etnik yang memiliki kebudayaannya masing masing. Dan kami biarkan keragaman budaya itu hidup dengan berbeda-beda. Dan itu yang membuat Indonesia menjadi cantik, karena seni budayanya berbeda-beda. Di dunia, menurut saya, biarkanlah kebudayaan-kebudayaan itu berbeda-beda, dengan keindahannya masing-masing. Akan sangat tidak ingin ke Perancis, saya, kalau Perancis atau Paris lama-lama akan sama dengan Jakarta. Saya mengusulkan agar dibiarkan saja adanya diversity. We should promote diversity, saya bilang. Kita saling mengunjungi karena perbedaan ini. Saya tutup dengan kalimat: Indonesia cannot agree with this idea.

Waah, setelah itu peserta lain bergiliran mengatakan, “I agree with Indonesia”. Laah, tadi pada diam semua. Ternyata di dunia ini, kalau kita bersikap berani, orang akan mengikuti kita. Akhirnya pembicaraan bergulir kembali ke chairwoman. Saya ingat, yang ngotot sekali soal ini Amerika, karena dia kan tidak punya kebudayaan asli. Dia maunya ini gol supaya dia bisa memakai semua budaya dunia. Alasannya, karena semua itu toh sudah milik dunia. Kira-kira kan begitu pertimbangannya.

Kata Dirjen Arman, gagasan ini dijuluki “McDonaldization of Cultures” – penyeragaman semua kebudayaan dunia. Gagasan itu ditolak di sidang UNESCO. Jadi kesimpulannya: tidak setuju universalisasi, biarkan diversity.

Saat ini Anda dipercaya kembali menjadi Menteri ESDM, bagaimana Anda menjalaninya?
Saya mendapat tugas baru menjadi menteri ESDM sejak Oktober 2011. Begitu dilantik pagi hari, langsung siangnya serah terima dengan menteri ESDM yang lama Pak Darwin Saleh kepada saya, sorenya langsung rapim dan langsung bekerja hari itu juga. Itu yang saya lakukan sejak hari pertama jadi menteri ESDM. Beberapa diantaranya seperti peletakan batu pertama proyek migas di Cepu yang melibatkan 5 kontraktor migas yang selalu tersendat-sendat. Begitu saya masuk, langsung saya kejar dan dibulan Desember sudah bisa peletakan batu pertama, dan sekarang proses sudah berjalan terus, kita targetkan tahun 2014 nanti sebelum saya mengakhiri masa kerja sebagai menteri ESDM, maka blok Cepu sudah bisa menghasilkan sekitar 165.000 barel minyak perhari. Dan ini tidak mudah, ada saja hambatan yang harus bisa kita selesaikan. Kemudian ada juga peresmian-peresmian proyek yang saya lakukan, seperti di Paiton ada 800 megawatt di Jepara ada 1200 megawatt, di Cirebon ada 600 megawatt dan lain-lain.

Bagaimana dengan energi alternatif baru?
Kita mendorong energi baru dan terbarukan, karena kalau kita terus bergantung kepada minyak, itu akan makin mahal dan berat biayanya. Kita bersyukur Indonesia kaya, memiliki geothermal bawah tanah yang bisa menghasilkan 30.000 megawatt di seluruh Indonesia. Kita juga memiliki gunung api yang banyak sekali dan disana ada magma sebagai tenaga panas bumi, dan itu harus kita jadikan tenaga listrik, ini murah dan tidak menghasilkan CO2. Dibandingkan dengan minyak, solar dan batubara maka geothermal ini lebih baik bagi lingkungan hidup.

Apa yang menjadi kendala sehingga geothermal sulit menjadi energi alternatif saat ini?
Awalnya hambatan besar itu dari kementrian kehutanan, karena semua geothermal itu ada di dalam tanah, tapi sejak awal saya jadi menteri ESDM selalu intensif berdiskusi dan membahas panjang lebar dengan mereka, akhirnya 100 hari pertama jadi menteri, saya sudah bisa buat MOU dengan menteri kehutanan bahwa semua geothermal di Indonesia boleh dieksploitasi.

Pasokan listrik saat ini menjadi kendala, bagaimana bapak melihat ini?
Kita terus menambah jumlah pasokan listrik karena anak-anak kita mainannya sudah orientasi ke teknologi, seperti cucu saya sekarang mainannya komputer atau laptop, bukan main kelereng dan di sana perlu listrik. Bila dulu belum punya TV sekarang punya TV, ada kulkas, pakai AC dan semua itu pakai listrik. Di Bali ada banyak hotel dan restoran yang semua pakai listrik, jadi kebutuhan akan listrik naik sangat cepat. Kalau selama ini listrik kita buat dari minyak dan solar maka ini sangat berat dan ada zat CO2 yang berbahaya utk kesehatan. Karena itu program energi baru dan terbarukan saya kerjakan dengan sangat keras. Mohon doa restu dari seluruh masyarakat Indonesia agar program energi baru dan terbarukan kita dorong bersama-sama karena tujuannya untuk masa depan bersama, bukan untuk saya atau perusahaan. Sehingga di Bali nanti ada program listrik geothermal, sekalipun saat ini masih berjalan tersendat-sendat.

Mengapa, apakah Geothermal masih dinilai sebagai kendala?
Ada orang yang belum memahami betapa pentingnya listrik geothermal itu. Saya sudah undang anggota DPRD untuk melihat geothermal di Jawa Barat, lingkungan di sana masih asri dan tanaman tumbuh seperti biasa. Geothermal itu yang dibor bukan gas, tapi uap air, jadi air yang keluar dalam bentuk uap dan tidak merusak lingkungan. Di Jawa Barat sudah terbukti, dan di Sumatera juga sedang dijalankan. Jadi saya keras sekali mendorong geothermal, karena ada 30.000 megawatt calon listrik ada disana.

Bagaimana dengan tenaga lainnya seperti matahari?
Pembangkit listrik tenaga matahari juga saya dorong dengan keras. Indonesia ini dikarunia matahari sejak pagi hingga sore hari, setiap hari sepanjang tahun. Tidak semua negara seperti ini, ada negara yang hanya 6 bulan atau 4 bulan saja dapat matahari, on off gitu. Ini kalau tidak kita manfaatkan, kita yang salah. Di Bali sudah kita canangkan yang pertama itu nanti di Karangasem, mengambil tanah 2 hektare yang bisa menghasilkan listrik 1 megawatt, dan di Bangli juga tanah 2 hektare. Bali saya pilih sebagai percontohan, sekaligus sebagai showroom utk seluruh Indonesia sehingga sambil berwisata, bisa melihat pembangkit listrik tenaga matahari ini. Selanjutnya kita akan bangun di Sumba, Sumbawa, Sulawesi Utara dan dimana-mana karena seluruh Indonesia di sinari matahari.

Bagaimana dengan migas?
Industri migas tidak bisa berhenti, karena kita masih sangat memerlukan minyak dan gas, industri ini menghasilkan revenue untuk APBN kita sebesar Rp 1 triliun perhari. Industri migas ini sangat penting sekali buat kita, karena itu sejak awal saya menjabat sebagai menteri ESDM, selalu menjaga hubungan yang harmonis dengan kepala BP migas Pak priyono, dan kami sering berduaan untuk mensinkronkan jalannya industri ini. Saya juga menjaga hubungan dengan semua stakeholder ESDM, seperti perusahaan Medco, Bakrie, ada juga perusahaan asing seperti Exxon, Conopos, Mobile Oil dan lain-lain, semua saya undang ke kantor dan saya ajak berdiskusi, tujuannya agar menteri baru ini diterima oleh mereka. Termasuk saya undang tokoh-tokoh ESDM seperti Pak Subroto, Pak Kuntoro, pak Ginanjar dan Pak Presiden SBY sendiri yang juga mantan menteri ESDM, mereka semua saya ajak konsultasi, karena mereka itulah dulunya menteri ESDM.

Apa pengalaman yang tidak bisa Anda lupakan selama menjadi menteri?
Orang Bali mempunyai upacara ngaben, yaitu upacara pembakaran jenazah (kremasi) bagi umat Hindu di Bali. Nah, pada saat mendiang ayah saya akan diikutkan dalam upacara ngaben ada keinginan kuat dalam hati saya agar Presiden hadir. Presiden SBY belum pernah mengikuti upacara ngaben, jadi ada pertanyaan, apakah mungkin beliau mau menghadiri upacara ini? Apalagi ayah saya orang biasa, beliau bukan orang bangsawan. Dalam masyarakat Bali beliau bukan orang yang mempunyai kedudukan istimewa atau punya prestasi luar biasa. Tetapi saya ingin Presiden bisa hadir dalam upacara ngaben yang mengikutkan ayah saya ini. Akhirnya saya memutuskan untuk mencoba saya meminta kepada Presiden dan Ibu Ani untuk hadir pada upacara pengabenan ayah saya.

Saya sangat terharu karena saat upacara hampir seluruh pejabat budpar hadir di rumah saya yang amat sederhana, jadi mereka tahu hidup saya dulu seperti apa. Lalu ketika berlangsung upacara ngaben tejadi peristiwa yang tidak akan saya lupakan, Presiden dan Ibu Ani hadir untuk menyaksikan upacara ngaben itu. Maka panitia ngaben pun menyiapkan panggung sebagai tempat Presiden dan Ibu Ani menyaksikan upacara ngaben. Masyarakat Desa Batur pun sangat gembira dan saya terus sungguh tidak tertakar kebahagiaan saya.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *