MENU

by • October 2, 2009 • Liburan IndieComments (0)62

Bromo

Orang bilang, kita nggak cukup disebut orang Indonesia kalau belum mengunjungi 3 B, Bali, Borobudur dan Bromo. Inilah salah satu alasan yang membawa saya mengunjungi Bromo, yang belum lama ini menunjukkan keperkasaannya lewat muntahan abu dan asap panasnya yang pekat. Saya cukup beruntung karena mendapatkan guide dan transportasi yang bersedia mengantarkan saya dari kota Malang ke gunung yang mempunyai ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut tersebut, mengingat bertepatan masa liburan sekolah.

Kawasan Gunung Bromo berada dalam empat wilayah, yakni Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Kabupaten Malang. Namun dari Bali, saya memutuskan untuk mencapai Bromo lewat kota Malang, walaupun sebenarnya rute yang lebih cepat bisa dicapai lewat Pasuruan. Minimnya jasa transportasi, penginapan dan jalan yang berkelok-kelok menjadi alasan saya untuk memilih Malang sebagai pos awal pemberangkatan.

Jarak tempuh sekitar satu jam perjalanan yang dipenuhi dengan rute yang cukup berat, mengantarkan saya ke Penanjakan, lokasi tertinggi untuk menikmati keindahan Bromo, hanya saja kali ini saya tidak beruntung, kabut tebal membatasi pandangan. Semuanya baru terobati saat menyaksikan secara langsung kawah Bromo yang lokasinya tidak jauh dari Penanjakan.

Bentuk tubuh Gunung Bromo yang bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera -lautan pasir- seluas sekitar 10 kilometer persegi, menyebabkan mobil tipe city car yang mengantarkan saya harus melaju cepat agar tidak terjebak dilautan pasir. Baru kemudian ditempuh dengan kuda untuk menuju anak tangga kawah Bromo. Dengan garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat) menyajikan pemandangan yang sungguh eksotik. Semua lelah perjalanan terabaikan oleh keindahan salah satu destinasi terbaik di Jawa Timur ini.

Bagi penduduk Bromo, suku Tengger, Gunung Brahma (Bromo) dipercaya sebagai gunung suci. Setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara dan dilanjutkan ke puncak gunung Bromo. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *