MENU

by • February 9, 2017 • Startup JournalComments (2)460

Follow Your Passion adalah nasihat yang buruk!

Punya suara oke, kalau lagi nyanyi, cewek-cewek pada klepek-klepek, beberapa kali menang lomba walau masih ajang kelas kampung, yang jurinya pak RT dan istrinya. Tiap kali masuk kamar mandi, girang setengah mati, karena disinilah ruang untuk unjuk gigi, imajinasi melayang, seolah sedang bertarung di ajang Indonesian Idol.

Namun kemudian, acara Master Chef yang mendrama itu mulai menyita perhatian, chef dengan tato yang melingker-linger itu kelihatan cool. Di tayangan lain, ada bapak yang suka kasih pujian kepada koki dengan kalimat, “masakan ini terasa ‘mak cruuttt’.” Tak lama, film Filosofi Kopi tayang di bioskop, Chicko Jerickho dengan apron kulitnya terlihat macho, terlebih saat doi ngaduk-ngaduk kopi dengan rambut gondrongnya yang tertiup angin dari kipas listrik yang dibawa sutradara ke lokasi syuting. Nggak selesai disitu, beberapa selebritis juga mulai nunjukin bakat mereka di dapur, acara food traveller (jalan-jalan cari makan ^_^) digelar berbagai stasiun TV, hingga akhirnya film berjudul Chef pun rilis. Semua tayangan yang membuat hidangan, sontak naik pamor, ratingnya tinggi. Tiba-tiba dalam tahun-tahun tersebut, semua orang demam dengan dunia kuliner.

Dan ketika tiba saatnya untuk mengisi formulir pendaftaran kuliah, rasa ragu mulai hinggap. Dambaan untuk bernyanyi mulai redup, keinginan untuk melanjutkan belajar di sekolah seni itupun terasa janggal, apalagi ketika beberapa sahabat dekat akhirnya masuk ke sekolah Tata Boga, mau jadi Chef kata mereka. Semua mau pakai apron ala chef kece.. Chico Jericho. 

Keputusan akhirnya bulat, putar kemudi! Nyanyi nggak penting lagi, dapur dengan ulekan dan bumbu-bumbu masakan adalah prioritas. Perjalanan dengan gairah baru ini pun dimulai….

Namun setelah berbulan-bulan berselang, situasinya tak lagi sama ….

Efouria acara memasak itu mulai redup, koki dengan tato melingker itu nggak pernah muncul lagi, dan ngupas bawang itu tidak sekeren yang dibayangkan sebelumnya, bahkan terasa jauh lebih susah daripada menyanyi. Belum lagi pas lihat si Chicko Jericho yang kini mulai memerankan lakon dalam film lain. Rasa galau hinggap menjadi-jadi.

Rencana negosiasi pun dibuat, dengan persiapan dan tarikan nafas panjang, akhirnya keberanian untuk meminta restu dari orang tua terkumpul, misinya jelas, agar diijinkan pindah jurusan kuliah. Setelah perdebatan sengit –yup, ini akan terjadi seperti dikebanyakan kasus-, orang tua akhirnya mengalah. Cita-cita jadi chef itupun akhirnya kandas, persis seperti sebelumnya ketika meninggalkan cita-cita mau jadi kayak Judika.

Sekarang hitung, berapa banyak uang yang terbuang, waktu yang hilang, dan kesempatan semakin ahli jika tetap bernyanyi yang juga tereduksi?

Kondisi diatas, adalah situasi yang sering terjadi. Di Indonesia, banyak mahasiswa yang salah jurusan, mereka berkarir di bidang yang tak linier dengan bidang studinya ketika kuliah. Alasannya beragam, salah satunya tentu dari pengaruh lingkungan. Kawan saya yang mengelola sekolah pariwisata cerita, sejak ada tayangan Master Chef di TV, jurusan tata boga meningkat pesat. Tayangan itu memberikan pengaruh seseorang mengambil keputusan, dan jurusan Tata Boga bukan cuma meningkat dilembaga pendidikannya, tapi di berbagai lembaga pendidikan sejenis, mengalami lonjakan yang sama.

Inilah yang sering terjadi. Hasrat kita pada sesuatu itu bisa berubah, seiring waktu, kebiasaan, influence dari pihak lain, paksaan dan lain-lain. Kisah diaas adalah contoh yang sering kita lihat disekitar. Hal inilah yang membuat saya bergulat cukup lama dengan dialektika ini. Sampai akhirnya artikel dari Carl Newport, profesor di Georgetown University, mencerahkan saya. Profesor itu bilang, Follow You Passion adalah nasihat yang buruk. Yang betul, follow your skills!

Passion adalah motivasi kuat bagi kita berkarya, namun pada bidang yang sama dan dilatih berkali-kali, sehingga kita menjadi ahli. Namun yang sering terjadi, ketika kita melakukan hal yang sama berulang ulang, godaan untuk menekuni bidang lainpun mulai membayang. Wedding fotografer yang setiap hari melakukan proyek yang sama, akhirnya merasa bosan dan mulai mencari pelampiasan. Passion kita berubah, dan kita putuskan untuk mengejar hasrat yang baru, maka kita memulai semuanya dari awal. Tadinya sudah terampil bernyanyi, gara-gara sindrom koki kece, kita jadi ikut-ikutan terjebak pada kondisi baru tersebut. Pindah jalur jadi koki, dan ketika merasa ini bukan keputusan yang tepat, lagi-lagi kita balik kandang mengerjakan apa-apa yang awalnya kita suka.

Gampangnya begini, kita jago nyanyi, tapi lebih suka jadi tukang masak. Artinya, bakat kita ada di olah suara, kalau ini rutin kita latih, kita lebih mudah untuk menjadi master, daripada jadi koki hebat, karena bakat kita nggak disana. Tapi bisakah jadi koki hebat, tetap bisa, tapi latihannya lebih ngotot daripada kalau mau jadi penyanyi.

Jadi yang harus kita lakukan diawal adalah, petakan apa hal-hal yang terampil kita lakukan, pekerjaan apa yang bagus kita selesaikan, kemudian kita habis-habisan memperdalam keterampilan ini. Suka gambar, bikin sketsa yang banyak, sebanyak-banyaknya. Nanti bisa di upgrade dengan desain digital, bahkan kalau sudah sangat ahli, kita bisa jadi animator atau motion picture. Suka motret, terus berlatih, dari motret hal-hal kecil, sampai akhirnya kita masuk ke level master. Kalau ada gangguan soal koki kece apapun itu bentuknya, abaikan semuanya. Hasrat itu sumber daya yang bisa habis, namun jika kita berpindah bidang, maka konsekuensinya kita akan memulai semuanya dari awal, dan tahap untuk menjadi master semakin jauh.

So, follow your passion adalah nasihat yang buruk, follow your skills, baru kemudian tumbuhkan passion dalam keterampilan tersebut. Lebih jauh soal mengembangkan skills, saya membahasnya secara detil di buku Creator.Inc.

Related Posts

2 Responses to Follow Your Passion adalah nasihat yang buruk!

  1. Raditia Devara says:

    Bagus pak artikelnya.seharusnya memang orang2 lebih mengikuti skill yg mereka dapat sejak lahir dan mengembangkannya
    Sedih sekali melihat anak2 di Indonesia kebanyakan tidak tahu apa skillnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *