MENU

by • November 23, 2017 • Marketing, Startup JournalComments (0)790

Freakonomic 2018, berlari di jalur gelinding bola salju!

Masa awal jatuhnya startup, turbulen perbankan dan respon entrepreneur.

Biar saja yang kuat menang, yang cerdas dan jago menguasai pasar, jangan ada campur tangan pemerintah, tak juga siapapun, proses ini akan membawa mekanisme pasar yang paling efektif dan efisien. Ini kata Adam Smith, pelopor ekonomi moderen dua abad yang lalu. Namun berbeda dengan John Maynard Keynes, katanya, kalau tidak dikendalikan, in the long run we are all dead ^_^. Dan tahun-tahun belakangan ini, di level global dan juga Indonesia, kondisi ini terasa semakin nyata.

Dan menariknya, kebijakan pemerintah di tahun ini berani, mengorbankan stabilitas jangka pendek untuk tujuan jangka panjang. Hal ini menambah panjang tantangan yang sudah banyak ada di tahun Ayam Api. Ini yang saya ibaratkan, kita tengah berada di jalur gelinding bola salju, dan bukannya mencoba berpindah keluar jalur, namun kita justru lari sekuat mungkin di lintasan tersebut agar tak terlindas. Banyak hal pada akhirnya tak bisa dimengerti, inilah yang kemudian oleh duo Steven Levitt dan Stephen J. Dubner disebut dengan istilah Freakonomic.

Mari kita review sedikit apa yang terjadi di tahun belakangan ini, dan apa yang harus kita lakukan untuk menghadapai 2018, khususnya sikap kita sebagai pengusaha.

Proyek “Mercusuar” ala hari ini, dari sinilah cerita berawal

Pemerintahan sekarang diawali dengan mimpi besar perbaikan infrasturuktur, betul kita tertinggal jauh soal ini bahkan dengan negara-negara tetangga yang baru merdeka kemarin sore. Persoalannya, kita nggak punya uang, persis seperti proyek Mercusuar jaman Soekarno yang berujung pada kosongnya kas negara. Lalu darimana uangnya?

Pertama, pemerintah mencabut subsidi (baik listrik maupun bahan bakar), memang argumennya beralasan, karena yang menikmati banyaknya subsidi selama ini adalah golongan kelas atas, tapi penarikan subsidi juga uppercut telat untuk lapisan masyarakat bawah.(1)

Kedua, pemerintah menggencarkan penerimaan negara dari jalur pajak, termasuk salah satu jurusnya Pengampunan Pajak. Dan betul, penerimaan negara berhasil naik dari pajak (2), namun jika di kaji lebih dalam, kebijakan ini berpotensi pada pendapatan yang hilang akibat Pengampunan Pajak mencapai 30 persen dari penghasilan kena pajak yang seharusnya (3). Langkah ini blunder, semestinya sistem perpajakan kita di kaji, SDM nya di upgrade, dan jika dilakukan dengan benar, dalam jangka yang sedikit lebih panjang, perbaikan ini bisa kita rasakan manfaatnya, hasil penerimaan akan naik selaras dengan perbaikan yang dilakukan. Persoalannya, dengan kebijakan yang ‘menggiurkan’ ini, menjadi stimulasi bagi pembayar pajak untuk pengampunan. Uang yang mestinya digunakan untuk modal diputar, sekarang dialokasikan untuk masuk kas negara.

Jadi, pemerintah mau bikin infrastruktur, butuh dana, karenanya di ambil dari pengurangan subsidi dan pajak. Di kelas menengah bawah, kedua hal ini bak ‘tendangan seribu bayangan’ dari Wong Fei Hung. Dan inilah yang menjelaskan kenapa grocery lost –istilah lembaga riset Nielsen, mencapai Rp. 37 Triliun. Karena uang di masyarakat tergerus, yang seharusnya menjadi modal kerja, dialokasikan untuk pajak dan menurunkan produktifitas, serta pencabutan subsidi yang menyebabkan kemampuan belanja terjun bebas.

Tapi katanya hal ini terjadi karena shifting, pergeseran pola belanja dari konvensional ke online? Mari kita bahas dengan rasional, khususnya terkait dengan era digital.

Online, Startup & Fintech

Industri digital menjadi trending topic dekade terakhir, puncaknya di tahun ini ketika banyak toko retail bahkan dengan brand asing keok, alibinya karena online. Adapula soal model bisnis dan financial technology (Fintech) yang jadi isu. Kita bedah satu-satu untuk melihat proyeksinya di tahun depan.

Pertama, jika kita lihat data Nielsen (4), transaksi online hanya Rp. 1.5 Triliun, sementara penurunannya Rp. 37 Triliun, jelas tidak signifikan. Jadi shifting darimananya? Harga barang-barang juga tidak naik (inflasi stabil rendah). Alasan yang lebih tepat, sudah dijabarkan diatas, karena pendapatan masyarakat berkurang. Lainnya, karena masyarakat mulai berjaga-jaga, wait n see dengan apa yang terjadi, sehingga uang mereka disimpan ke bank, dan ini yang menjadi alasan mengapa simpangan di bank naik Rp. 500 Triliun (5).

Kedua, model bisnis berbagai startup banyak yang tidak relevan dengan tujuan sebuah usaha. Yang namanya bisnis, harusnya cash flow oriented, dengan uang masuk lebih banyak dari uang keluar, dan mampu membiayai semua organ dalam organisasi tersebut. Nyatanya, rintisan digital banyak dibuat dengan tujuan kapitalisasi nilai, ujung-ujungnya mengejar exit jika ada investor. Padahal, nggak generate income (6). Asumsinya, kalau kapitalisasinya tinggi, nanti akan ada pemasukan, persoalannya, model bisnisnya tidak memberikan ruang untuk adanya pemasukan yang cukup untuk membiayai bisnisnya. Iklan saja, tidak signifikan. Maka yang terjadi, startup bergelimpangan, tahun depan, rasanya akan lebih banyak lagi yang bergentayangan. Bahkan beberapa mungkin dari brand-brand besar, bukan tidak mungkin terjadi pada Twitter yang sudah mulai ‘kemas-kemas’, karena kabarnya tahun ini, (lagi) akan merumahkan ratusan karyawannya (7).

Bagi startup skala kecil, masih bisa bertahan, karena belum ada biaya operasional yang besar, sekalipun belum ada pemasukan. Tapi yang menengah, akan mulai berguguran, ini yang paling banyak. Mereka harus menemukan model bisnis yang tepat. Aplikasi agen perjalanan misalnya, yang mendapatkan keuntungan dari komisi transaksi, sekalipun ada investor, mereka gunakan uangnya untuk promosi, sehingga penjualan tiket terkadang bisa lebih murah di aplikasi traveling daripada di maskapainya sendiri, karena mereka subsidi, namun itu dilakukan sebagai salah satu strategi, karena toh revenue center-nya memang sudah ada. Tapi yang tidak ada, dan hanya berharap kapitalisasinya naik karena user-nya tinggi, traffic-nya banyak, maka siap-siap mengencangkan ikat pinggang. User dan traffic bukan jaminan –dan ini cukup terbukti selama beberapa tahun ini- apalagi netizen milenial berkarakter tidak loyal.

Untuk startup skala besar, tahun 2018 akan menjadi fase evaluasi dari para investor yang selama beberapa tahun terakhir ini rajin menyuntikkan dana. Karena beberapa , ada yang sudah disuntikan dana sejak 5 tahun lalu, jika tidak terlihat tanda-tanda pertumbuhan, bisa bernasib sama dengan startup kelas menengah. Alih-alih menuai kapital, yang ada justru terpental.

Ketiga adalah Fintech, setelah aplikasi traveling, layanan antar dan sosial, maka ini mainan baru di industri digital. Mulai nge-hit 3-4 tahun terakhir, belum banyak startup bidang ini yang teruji, beda dengan startup kategori lainnya yang sudah merasakan sebagian dari fase awal life cycle. Maka belum terlihat tanda-tanda perjalanan arahnya kemana. Namun yang jelas, masa depan industri keuangan ada disini (8). Namun pertanyaannya, siapakah pemainnya? Sulit untuk menafikan perbankan, yang sudah punya segalanya, infrastruktur, teknologi dan orang, tinggal meluncurkan produk digitalnya. Rasanya, fintech di Indonesia akan sulit mengejar perbankan, kecuali bank yang tetap bertahan dengan layanan konvensional.

Bagaimana dengan yang bukan di miliki bank, maka harus bekerjasama dengan bank, atau lembaga keuangan lainnya, yang punya infrastruktur dan orang. Jika hanya mengandalkan uang dari investor, maka bukan tak mungkin bernasib sama dengan startup kategori lainnya sebagaimana di bahas pada poin dua diatas. Karena bagaimanapun juga, aplikasi keuangan ini pada dasarnya layanan perbankan yang disampaikan tidak menggunakan orang, namun teknologi.  Karena konsep-konsepnya, semua sudah dimiliki oleh bank pada umumnya. Mulai dari crowdfunding (dalam hal ini saving) dan lending, semua fitur ini ada di bank, dengan sejarah dan perjalanan bisnis puluhan tahun yang mereka miliki, maka tidak akan mudah di gantikan oleh pelaku Fintech biasa.

Namun tantangan dunia perbankan tahun depan, jelas bukan Fintech. Tapi bagaimana mereka bisa bertahan dan sedikit meraih rejeki. Karena jika rapor 2017 yang jadi tolak ukur, jelas sudah warnanya merah. Mari kita bahas..

Turbulen Perbankan (juga properti)

Gimana nggak merah, NPL perbankan saat ini menembus angka psikologis 3 persen dalam dekade terakhir, dan ini sudah dimulai sejak 2013. NPL adalah non performing loan, semakin tinggi, maka semakin banyak kredit bermasalah, dan ini yang di takutkan para banker, karena akan menguras laba bank (9). Belum lagi dengan penyaluran kreditnya yang masih rendah, sekalipun statistik menunjukkan peningkatan dari tahun lalu, namun perlu juga dicatat, pertumbuhan kredit banyak disumbangkan dari proyek infrastruktur yang saat ini sedang dibangun pemerintah, itupun hanya dinikmati oleh segelintir bank pemerintah saja. Jika angka kredit infrastruktur ini dikeluarkan, maka akan terlihat data sesungguhnya (real) bahwa pertumbuhan kredit perbankan mungkin saja tidak besar.

Padahal kredit perbankan adalah cerminan dari perekonomian. Jika kreditnya tak tumbuh, maka artinya tidak ada investasi. Jika tidak ada investasi, maka tidak ada pertumbuhan. Ini yang menjelaskan, kenapa pertumbuhan Indonesia yang katanya dikisaran 5%, namun pertumbuhan kredit perbankan sampai dengan akhir Mei 2017, 10,39%. Padahal idealnya, pertumbuhan kredit adalah tiga kali dari pertumbuhan nasional. Maka angka cantiknya, adalah 15%.

Rasanya berani menyimpulkan, bank secara umum tidak kemana-kemana, justru banyak yang labanya tergerus, penyaluran kredit turun, yang adapun bermasalah. Kabar baiknya adalah di tabungan yang meningkat. Namun kreditlah yang menjadi sumber terbesar keuntungan bank. Jadi kalau bank tidak kemana-mana, maka pertumbuhan kita pun tidak kemana-mana. Di tahun depan, sekalipun trennya membaik, maka perekonomian secara umum belum banyak bisa diharapkan. Angka pertumbuhan Indonesia 5% ini tidak representatif.

Harapan mungkin sedikit banyak bisa di sematkan di properti, yang disegala sektor angkanya menunjukkkan perbaikan. Sekalipun belum tajam, namun ini bisa jadi pelipur lara (10). Sebelumnya, kredit perbankan juga banyak di genjot dari properti, itu sebabnya sektor ini sangat diharapkan mengalami perbaikan, terlebih jika melihat data bahwa jumlah hunian di Indonesia masih sangat kurang.

Bagaimana dengan Utang Negara yang melejit?

Kalau angka-angka yang dirilis benar, mungkin kita belum perlu khawatir, karena rasio utang terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) sekitar 28 persen. Jauh dibawah Malaysia (56 persen), Thailand (41,8 persen), dan Filipina (32,6 persen) (11). Selama digunakan untuk yang produktif, dan dilemparkan ke masyarakat agar kondisi di bawah lebih longgar, mestinya ini masih jadi indikator baik. Ingat, PDB kita 60%nya disumbangkan dari konsumsi domestik.

Sementara IHSG yang naik, karena faktor suku bunga acuan bank yang rendah, sehingga investor berpindah, tak ada hal yang baru dari ini, sekalipun seolah tampak menyenangkan. Justru disatu sisi, penurunan daya beli, juga patut di tenggarai dari omzet usaha yang menurun, kalau itu yang terjadi secara rata-rata, termasuk pada perusahaan yang listing di bursa, maka angka kenaikan IHSG hanya karena sektor financial, buat dari sektor real. Perusahaan tergerus omzetnya, namun IHSG naik, dalam jangka panjang, akan terjadi normalisasi. Dan jika itu terjadi, mungkin angkanya tak lagi semenyenangkan sekarang.

Pendulum Pilkada, Piala Dunia Pelipur Lara dan Isu Brexit

Satu hal yang mungkin perlu diantisipasi pada 2018 adalah Pilkada. Mestinya, tidak akan ada tensi yang lebih tinggi daripada Pilpres dan Pilgub Jakarta kemarin. Tapi di tahun ini, isu SARA –yang selama bertahun-tahun hanya laten, kini berhasil membobol tembok yang sudah mengubur mereka dalam-dalam. Ini akan jadi penentuan performa segalanya di Indonesia, sosial jelas, politik dan pastinya ekonomi. Kabar baiknya, pemerintah dan Kominfo, serta pegiat sosial media yang berpikir positif, siap pasang badan untuk meredam.

Yang dapat sedikit mereduksi situasi adalah gelaran Piala Dunia, agar relaksasi dan memberikan ruang untuk bernapas. Serta proses Brexit yang katanya secara teknis akan terjadi di tahun 2018, ini mungkin berpengaruh sedikit pada industri keuangan kita, terutama terkait dengan suku bunga acuan, yang memang secara tidak langsung dikelola mengikuti kebijakan suku bunga di Amerika dan situasi ekonomi di Eropa.

Jadi apa yang bisa kita lihat di tahun 2018?

Pertama, investasi infrastruktur belum akan menghasilkan, belum bisa di nikmati, dan jika pengeluaran infrastruktur masih sama sebagaimana sekarang, dimana pemerintah mengambil dana dari utang, pajak dan subsidi, maka kondisinya bisa memburuk. Namun jika sedikit menahan agresifitas, paling tidak kondisinya masih sama seperti sekarang.

Kedua, akan banyak startup yang rontok. Ini tahun dimana para investor mulai berhitung, harus ada tanda-tanda positif akan rintisan digital tetap bertumbuh.

Ketiga, perbankan akan mengalami perbaikan, properti sedikit tumbuh, kredit macet akan mengalami restrukturisasi, ini awal masa rebound untuk industri keuangan.

Jika Anda pengusaha, ini yang harus dilakukan

Jadi, jika kita masih berlari sejalur dengan bergulingnya bola salju yang kian membesar, maka kita harus berlari lebih kencang, jualan lebih ngotot dan bekerja lebih keras. Namun, kondisi ini juga memberikan kesempatan bagi kita keluar jalur agar lebih aman, buat para pengusaha, tips ini mungkin bisa jadi alternatif cara :

Pertama, bagi para founder, mulailah turun kebawah, lihat apa yang terjadi dipasar, di industri yang kita geluti secara langsung. Kalau perlu, jadi petugas frontliner untuk sementara waktu, rasakan apa yang sebenarnya tengah terjadi agar bisa mengambil keputusan lebih tepat sesuai dengan sense kita.

Kedua, fokus menjual produk yang sudah terbukti laku diperiode sebelumnya, jangan banyak spekulasi dengan mengeluarkan produk baru, apalagi yang membutuhkan biaya edukasi besar. Fokus pada produk dan layanan yang memang sudah menghasilkan pemasukan.

Ketiga, jual produk dengan diferensiasi yang lebih generik dan lebih murah. Tawarkan produk-produk alternatif dengan harga yang lebih terjangkau. Jangan lupa, sederhanakan produk dan layanan, buat agar mudah dikomunikasikan. Dan bangun customer experience, apapun itu bentuk dan rupanya, agar konsumen punya pengalaman unik saat menikmati produk kita.

Keempat, bangun citra positif di sosial media, hati-hati dengan jebakan emosi panas menjelang pilkada, citra kita merepresentasikan produk kita, dan pembeli kita, adalah follower kita. So, jangan kecewakan follower kita.

Kelima, sisihkan tak lebih dari 10-15% dari laba untuk pengembangan, jangan banyak-banyak, alokasikan pada yang penting dan elementer saja, misal perawatan toko supaya tidak kusam, dan hal-hal sederhana lainnya. Sisanya, tabung sampai situasi terlihat menjanjikan. Paling baik, simpan dalam bentuk emas. Kalaupun di saham, usahakan bukan di saham perusahaan berbasis keuangan, tapi saham perusahaan infrastruktur.

Keenam, jika kita pelaku bisnis digital, pastikan model bisnis yang kita bangun memiliki ruang untuk cashflow, bukan berjudi menunggu kapitalisasi dan keinginan untuk exit.

Mudah-mudahan bermanfaat…

 

Sumber referensi :

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *