MENU

by • May 2, 2011 • Liburan IndieComments (0)108

Gili Trawangan

Hampir seperti Sanur, kesan pertama kali ketika menginjakkan kaki di Gili Trawangan, pulau terbesar dari ketiga pulau kecil yang terdapat disebelah barat laut Lombok. Trawangan juga satu-satunya Gili yang cukup tinggi di atas permukaan laut dengan panjang 3 km dan lebar 2 km, berpopulasi sekitar 800 jiwa. Yang membedakannya dengan Sanur mungkin karena Trawangan yang demikian terpencil dan hampir sepanjang tepi pantainya menjadi obyek pariwisata. Plus, disini ada Cidomo, transportasi lokal mirip Dokar di Bali, dan tidak ada kendaraan bermotor di pulau ini karena memang dilarang oleh penduduk setempat.

Rasa penasaran untuk mengeksplorasi pulau ini sudah muncul sejak penyeberangan dari Lombok dengan perahu tradisio-nal yang ditempuh kira-kira 30 menit. Saat tiba di pulau kecil ini, hari sudah menjelang siang, dan tanpa pikir panjang, saya menyewa sepeda yang disepanjang pantai mudah ditemui penyewaannya. Biaya sewanya pun relatif murah, Rp. 10.000 untuk sepeda yang kualitasnya standar dan Rp. 15.000 untuk sepeda yang lebih baik. Masih dengan ransel di punggung, saya menggowes sepeda mengelilingi pulau dengan waktu tempuh sekitar 2 jam, melelahkan, namun sepadan dengan view yang tersaji disepanjang hamparan pulau yang masih jauh dari eks-ploitasi manusia ini.

Setelah makan siang saya memutuskan untuk mencari penginapan. Disini semuanya lengkap, dari villa, hotel, bungalow dan bahkan rumah penduduk lokal pun bisa disewa, tarifnya cukup beragam, mulai dari yang Rp. 200 ribu sampai dengan 3 juta rupiah per malam. Kebetulan saat itu menjelang akhir tahun, saya harus berhadapan de-ngan tarif yang lebih mahal dari biasanya. Saya memutuskan menyewa bungalow yang tarif sewa per malamnya sekitar Rp. 700 ribu, namun dengan fasilitas air tawar. Dengan harga di bawah itu, maka fasilitas air yang tersedia adalah payau, maklum Gili Trawangan merupakan pulau kecil ditengah laut. Untuk mendapatkan air tawar, hotel dan jasa wisata di Gili Trawangan mendatangkannya dari Lombok ber kubik-kubik setiap harinya.

Namun destinasi utama di pulau ini tentu saja wisata bawah airnya, setidaknya ada 3 cara untuk menikmati pemandangan bawah laut di Gili yang memiliki pesona sangat luar biasa. Pertama, dengan snorkeling, kedua dengan kayak dan terakhir diving. Saya yang tidak memiliki sertifikasi diving harus melupakan keinginan itu, padahal biaya sewa per sekali diving hanya sekitar 1 juta rupiah, lengkap dengan peralatan dan boat yang akan membawa kita ke titik pesona alam bawah laut yang indah. Saya memaksimalkan dua pilihan yang tersisa. Sore itu saya mencoba snorkeling, biaya sewa masker dan snorkel sekitar Rp. 40 ribu, ditambah kaki katak sekitar Rp. 25 ribu dan pelampung sekitar Rp. 35 ribu. Jadi dengan biaya kurang dari Rp. 100 ribu, pemandangan bawah laut Gili sudah bisa di eksplorasi habis.

Keesokan harinya saya mencoba dengan kayak. Berbeda dengan yang biasanya, kayak di sini dibuat khusus untuk melihat keindahan bawah laut, sehingga didesain dengan lapisan bawah yang terbuat dari kaca. Pagi itu target saya adalah penyu laut yang memang sering muncul di pagi hari, namun kali itu saya gagal menjumpai kawanan hewan bertempurung itu.

Suasana malam di Gili Trawa-ngan juga demikian klasik dan memorable. Tidak banyak pene-rangan listrik di sepanjang jalan, sehingga malam di Gili Trawa-ngan nampak lebih temaram. Menu makan malam bisa dijumpai di sepanjang bibir pantai dari berbagai restoran mewah. Namun bagi saya yang backpacker saat itu, memutuskan mengikuti saran salah satu pemandu wisata yang saya jumpai untuk ke pasar senggol, yang ternyata ada disatu kawasan yang memang dibuka oleh penduduk lokal. Beraneka makanan dan jajanan tersedia, mulai dari seafood sampai dengan kue-kue kecil. Bedanya, dipasar senggol ini, pengunjungnya sebagian besar adalah bule. Yup, sejak menginjakkan kaki di Gili Trawangan, saya hanya menjumpai sedikit sekali wisatawan lokal, mungkin rasionya 8 : 2, delapan wisatawan asing dan dua wisatawan lokal seperti saya.

Namun malam di Gili Trawangan tetap saja meriah. Sekalipun dengan pasokan listrik yang rendah, namun dinamika malam dengan tiupan angin pantai tidak menyurutkan suasana. Itulah sebabnya mengapa Gili Trawangan dinilai memiliki nuansa “pesta”, lebih daripada Gili Meno dan Gili Air, dua pulau yang berada diperairan yang sama. Hal ini karena banyaknya pesta sepanjang malam, yang setiap harinya dirotasi kebeberapa tempat keramaian.

Secara historis, Gili Trawangan pernah dijadikan tempat pembuangan narapidana. Pada waktu itu karena semua penjara sudah penuh, raja yang berkuasa membuang 350 orang pemberontak Sasak ke pulau ini. Baru sekitar tahun 1970-an pulau ini dikunjungi penduduk dari Sulawesi yang kemudian menetap di sini dan menjadi penduduk asli.

Jika Anda tertarik untuk mencari alternatif liburan sekolah, mungkin Gili Trawangan bisa menjadi salah satu pilihan. Dari Bali, menuju Trawangan bisa dilakukan lewat Tanjung Benoa, atau pulau Lombok.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *