MENU

by • January 11, 2017 • Startup JournalComments (0)216

Ini alasannya, mengapa sarjana jarang ada yang jadi pengusaha

sarjana-pengusaha

Ada sebuah gurauan yang Saya baca dari artikel Ekuslie Goestiandi yang dimuat tabloid Kontan. Isinya soal prediksi masa depan para mahasiswa perguruan tinggi menurut masa studi dan indeks prestasi. Jika seorang mahasiswa lulus cepat dengan indeks prestasi tinggi maka kelak mahasiswa tersebut akan menjadi profesor atau peneliti lembaga riset. Namun seandainya mahasiswa tersebut lulus dengan masa studi dan indeks prestasi pas-pasan, maka paling banter akan menjadi manajer-profesional kantoran. Bagaimana dengan yang tidak lulus, drop out, bahkan tidak pernah menyentuh bangku kuliah? Maka kelak orang itu akan menjadi Bill “microsoft” Gates, Michael “computer” Dell, Jeff “Amazon.com” Bezos atau Larry “Oracle” Ellison. Ya mereka adalah orang-orang yang lulus ditengah jalan alias drop out namun menjadi pebisnis besar dan orang-orang terkaya didunia.

Cerita yang bisa kita petik adalah hasil akademik tidak berbanding lurus dengan prestasi bisnis. Hal ini bisa terjadi karena orang yang cerdas secara akademis cenderung suka berpikir dan lamban bertindak, yang menjadikan langkah karir mereka pun pelan. Bahkan saking seringnya berpikir, mereka tidak pernah mengeksekusi hasi pemikiran dan analisanya tersebut dalam bentuk keputusan. Inilah yang kemudian oleh Collin Powell mantan menteri luar negeri AS disebut sebagai Analysis Paralisys, yakni keberhasilan orang-orang yang memprioritaskan aksi atas segala pemikiran dan ide-ide yang dimilikinya. Artinya, mereka langsung mengaplikasikan apa yang tengah mereka konsep sehingga terdapat progres yang memberikan hasil. Sementara mereka yang akhirnya berhasil menyelesaikan kuliah dan bergabung dengan menjadi orang kantoran, akhirnya terjebak dan hanya membuat konsep tanpa pernah merealisasikannnya, hingga akhirnya mereka nyaman dalam lingkaran tersebut.

Yang terberat dari menjalankan sebuah bisnis adalah saat pertama kali memulainya, lompat menuju zona ketidaknyamanan dan munculnya bayang-bayang kegagalan, besarnya modal yang bisa hilang begitu saja atau waktu yang terbuang menjadi momok yang mengerikan. Namun bukankah Kita justru tidak akan mengetahuinya jika tidak pernah menjalankannya? Bisa saja modal yang dikeluarkan kelak kembali berkali lipat, usaha kelak bertumbuh dan besar. Tidakkah ini waktu yang terbuang percuma atau hal yang layak dicoba dan perjuangkan? Lakukanlah, sebelum Anda justru ikut terjebak pada teori analisys paralisys yang mengerikan itu.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *