MENU

by • September 4, 2012 • InterviewComments (0)57

Interview James Gwee

James Gwee, siapa yang tidak mengenal nama tersebut, motivator andal yang disewa banyak perusahaan untuk berbagai pelatihan, khususnya sales. Namun siapa sangka, lulusan National University Singapura ini adalah jebolan IT.

Peluang sebagai trainer yang dilihatnya belum banyak ditekuni oleh profesional di Indonesia dijadikannya sebagai kesempatan. Benar saja, dari pengalamannya sebagai pengajar, secara perlahan mendongkrak kariernya sebagai pembicara kelas wahid. Bagaimana sesungguhnya perjalanan karier pria ini dan apa saja yang menjadi cita-citanya?

Ceritakan bagaimana Anda mengawali karier?

Saya lulus dari National University di Si-ngapura dengan background gelar IT, jadi ada dua pilihan waktu itu untuk berkarier,.Pilihan pertama adalah seperti umumnya jalur utama yaitu bekerja sebagai seorang programer, kemudian karier tersebut berlanjut menjadi spesialis IT atau manajer IT Departement. Namun sambil kuliah, saya mulai terlibat di lembaga kursus komputer milik teman. Waktu itu saya bekerja freelance mendemokan pentingnya komputer untuk anak-anak SMP dan SMA. Saat itu tahun 1985, di Singapura masih banyak sekolah belum punya laboratorium komputer. Meski begitu, murid-murid sudah sadar pentingnya ilmu komputer dan saya senang mengajarkannya kepada mereka.

Apakah menempuh kuliah programming tersebut merupakan pilihan sendiri?

Sewaktu menempuh kuliah programming itu ada pengaruh dari orangtua, karena mereka menyadari bahwa di masa depan penguasaan teknologi khususnya komputer sangat diperlukan. Setelah setengah tahun, seorang teman mendirikan lembaga kursus komputer sendiri dengan mengajak saya untuk bergabung mengembangkannya. Teman saya yang orang marketing ini nyaman bekerja dengan saya karena saya punya spesialisasi di bidang security development dan saya memiliki keahlian menjadi trainer untuk mengajar komputer serta membentuk trainer baru.

Dari sanakah awalnya mulai menjadi public speaking?

Ya, tampaknya seperti itu, dan saya sangat menikmati itu. Lembaga komputer saya yang bernama Microskills, saya buat bersama teman-teman tahun 1986. Menariknya, hanya dalam waktu dua tahun kami tumbuh pesat sekali, sehingga bisa tampil menjadi lembaga kursus komputer nomor 2 terbesar di Singapura. Di sana kami punya 7 cabang dan rata-rata dalam se-minggu ada 4.000 anak ikut program kami. Saat itulah ada seorang teman dari Indonesia yang berkeinginan membuka lembaga kursus komputer tersebut di Indonesia. Akhirnya kami bekerja sama dan membuka franchise di Jakarta. Kerja sama kami sukses dan melanjutkan lagi buka di Surabaya.

Tiga tahun kemudian kami melebarkan sayap ke Medan. Di kota inilah lembaga kursus kami mengalami kemajuan pesat, dari yang semula hanya lembaga kursus komputer biasa, selangkah demi selangkah di-upgrade menjadi perguruan tinggi. Jadi boleh dibilang franchise lebih hebat daripada franchisor, dan ini adalah salah satu buktinya. Perguruan tinggi komputer di Medan ini akhirnya secara struktur terlepas dengan Microskills Singapura karena modul belajar yang digunakan sudah jauh berbeda. Meski begitu persahabatan tetap berjalan baik dan kami saling mendukung. Saat itu saya juga sudah lebih fokus dengan segudang kegiatan di Indonesia. Selanjutnya saya menjual saham Microskills ke pihak yang bersedia mengembangkannya lebih lanjut. Begitulah cerita tentang lembaga kursus komputer Microskills yang sekarang berkembang dengan sangat baik.

Sukses melahirkan dan mengembangkan Microskills, kenapa kemudian dilepaskan?

Karena waktu itu saya ingin mengembangkan diri di Indonesia, makanya saya melepaskan saham yang ada di Singapura. Saya merasa di Indonesia lebih exciting. Kemudian berlanjut aktivitas saya dengan memberi konsultasi kepada lembaga-lembaga kursus komputer yang ada di Indonesia yang didukung oleh channel saya yang ada di Inggris. Pada waktu itu tahun 1990-an, banyak lembaga kursus yang ala kadarnya. Tidak didukung oleh manajemen yang baik dan tidak terakreditasi, sehingga mutu alumni yang dihasilkan juga sekadarnya. Saya pun memberitahu ke mereka bahwa saya bisa meningkatkan kualitas kursus komputer dengan mendapat sertifikasi dari Inggris.

Dari sini saya belajar lebih banyak lagi tentang sifat-sifat bisnis yang ada di Indonesia. Saya memulainya dari nol. Saat itu dari segi pendapatan beda jauh, antara pendapatan saya di Singapura dan pendapatan sebagai konsultan di Indonesia. Di Singapura saya sudah bisa bawa Jaguar. Saya harus melepas itu semua dan berganti menggunakan bus di Jakarta. Ya, itu semua adalah perjuangan.

Apa yang mendorong Anda menjadi konsultan dan trainer?

Saya selalu memerhatikan servis yang diberikan lembaga kursus komputer saat itu. Saya lihat kebanyakan resepsionis belum bisa menjawab telepon dengan baik, belum bisa menjelaskan tentang lembaga kursus dengan baik, dan cara menangani komplain pun masih berantakan. Hal itu yang membuat saya melakukan pelatihan service excellent di lembaga kursus tersebut. Pemilik lembaga kursus komputer tersebut banyak yang mengatakan bahwa training semacam itu sangat diperlukan di Indonesia. Training semacam ini sebenarnya sudah ada di Indonesia tapi belum banyak.

Saya pun mulai mengadakan workshop dan memasarkan keahlian saya di bidang training. Pada waktu itu tidak banyak perusahaan lokal yang sadar pentingnya hal-hal seperti itu. Umumnya hanya perusahaan asing yang mengirimkan karyawannya untuk menghadiri workshop saya, seperti Coca Cola, DHL, dan LG. Jumlahnya hanya 20-an orang dan itu sudah luar biasa menurut saya. Saat itu perusahaan asing sudah lebih aware dan rela mengeluarkan bujet untuk studi karyawannya.

Pada era 1990-an, perusahaan lokal masih menganggap remeh training studi semacam ini. Kebanyakan para pemilik perusahaan berpikir untuk apa membiayai karyawannya belajar kalau mereka sudah pintar kemudian hengkang dari perusahaannya. Tapi ada juga perusahaan lokal yang me-ngirimkan orangnya, tapi langsung pemiliknya sendiri, kemungkinan nanti dia sendiri yang akan mengajarkan kepada karyawannya.

Berangkat dari sanalah saya merasa percaya diri untuk membangun perusahaan saya sendiri dan membuka kantor di Indonesia dengan personality brand diri saya. Selanjutnya saya lebih gencar untuk menyebar iklan dan brosur, dan saya beruntung salah satu peserta didik saya waktu itu adalah manajer marketing dari radio Smart FM di Jakarta. Dia menawari saya untuk mengisi talkshow di radio, waktu itu masih gratis. Saya bilang oke dan tidak masalah, karena talkshow yang saya bawakan sangat bermanfaat, maka intensitas pendengar makin meningkat dan orang makin mengenal saya.

Apakah Anda masih ingat saat tampil perdana dengan brand sendiri sebagai motivator ?

Oh ya, saat itu yang hadir hanya 11 orang, dan foto albumnya pun masih saya simpan. Saat itu masih sepi, penyebabnya karena masyarakat masih belum mengenal saya. Penyebab kedua, karena masyarakat belum tahu manfaatnya. Tapi, masa 10 tahun belakangan ini tingkat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengembangan diri makin meningkat.

Dari brand James Gwee kemudian meningkat menjadi Akademia, perusahaan apakah itu?

Akademia yang dimaksud adalah PT Academia Education & Training yang bersifat open company untuk mendukung kegiatan saya. Jadi, kalau brand pakai James Gwee, sedangkan PT-nya pakai Academia Education & Training. Selain itu saya juga membuka divisi lain seperti budget training dan grab your audience. Sekarang, divisi budget training ini diubah menjadi James Gwee Succes Center yang mau saya dirikan sebanyak mungkin di kota-kota di Indonesia. Keunggulan dari James Gwee Succes Center itu modulnya langsung dari saya yang sudah teruji 16 tahun di Indonesia dengan tidak banyak menggunakan teori melainkan lebih menggunakan ide-ide cemerlang yang masuk akal.

Pada umumnya orang ikut training karena sudah bosan dengan beragam teori seperti di bangku kuliah dan mereka menginginkan berbagai tip yang bisa dibawa pulang untuk memajukan perusahaan. Yang kedua, trainer yang saya rekrut adalah trainer praktisi, yang enjoy dengan training dan tentunya yang fun. Orang seperti inilah yang telah memiliki syarat untuk bisa tampil di depan, selanjutnya tinggal konten yang saya berikan. Saya juga meminta mereka untuk menonton video saya dan saya persilakan untuk meniru mana yang mereka bisa, selebihnya silakan berimprovisasi. Dengan demikian, 70% dari konten, contoh, gaya, dan suasana berasal dari saya. Seperti inilah duplikasi yang saya lakukan. Dengan begini masyarakat luas yang mengikuti training di cabang-cabang, saya yakin sudah memakai resep saya.

Saat ini sudah ada berapa trainer?

Saat ini sudah ada 20 trainer dan sudah jalan, semoga tahun ini bisa buka sekaligus 5 cabang di beberapa kota di Indonesia. Menariknya adalah selama saya menjalankan training yang membuat orang termotivasi, sering muncul pertanyaan apakah saya juga menyediakan training untuk usia remaja, karena banyak orang kaya dan sudah sukses tapi punya anak yang cuek sehingga ada keinginan mereka untuk membangkitkan semangat anaknya agar tidak bermalas-malasan. Setelah bertahun-tahun banyak sekali permintaan tersebut, akhirnya saya membuka divisi James Gwee Champion Teens Team yang kontennya saya pakai untuk remaja, dengan contoh dan gaya ala remaja dan ini sudah berjalan.

Apa perbedaannya dengan audiens orang dewasa?

Segmen teens ini bisa dibilang gampang, bisa dibilang sulit, karena di kelas ekonomi atas ketika dana tidak menjadi pembatas, orangtua yang peduli dengan anaknya, menginginkan anaknya belajar. Tapi karena anaknya masih remaja dan yang menjadi decision maker adalah si orangtua, maka kedua pihak harus sepakat untuk menentukan pendidikan si anak. Hal se-perti inilah yang sulit. Tapi kami sudah memiliki pola yang tepat, apalagi kami sudah memiliki brand.

Saya dengar Anda juga memiliki program Champion Teens CARE?

Iya, waktu itu kami berpikir bahwa anak-anak dari kalangan mampu cen-derung diberdayakan, tapi dari kalangan tidak mampu cenderung diabaikan. Umumnya, setelah lulus sekolah, anak-anak dari kalangan tidak mampu punya tiga kemungkinan. Pertama, dapat kerja dan kemudian maju karena sikapnya yang baik. Kedua, dapat kerja tapi karena sikapnya yang biasa-biasa saja, maka kehidupannya juga biasa-biasa saja. Ketiga, karena lama menanti kerja, akhirnya menganggur dan frustasi sehingga pengaruh negatif akan cepat menyerang dirinya. Bila sudah terlanjur rusak biasanya baru dilakukan perbaikan. Jadi saya berpikir program ini harus segera dilakukan terutama untuk anak-anak SMK, karena setelah lulus mereka berpotensi besar untuk langsung bekerja.

Bagaimana dengan biayanya?

Mengingat daya beli mereka yang kurang, maka kami memutuskan program teens ini gratis. Dananya dari donatur yang biasanya kesulitan mengadakan event untuk pemberdayaan masyarakat kurang mampu. Nama program ini kami sebut dengan Champion Teens CARE for the Nation yang dilaksanakan selama satu hari. Di hari berikutnya para peserta tantangan diminta untuk memberdayakan barang-barang yang ada di rumah dan lingkungan mereka dalam bentuk ide bisnis. Jadi, kita membantu mereka untuk mengarahkan ide bisnis yang masuk akal dan bisa dijalankan.

Apakah program ini berkelanjutan?

Ya, bila berhasil kami akan membimbing mereka ke tahap selanjutnya dan kami akan menyediakan trainer terbaik untuk mendampingi mereka. Setidaknya dalam waktu sebulan mereka sudah matang dan tinggal menjalankan ide bisnisnya. Bila bisnisnya sudah terbentuk dan sudah berjalan, akan kami beri modal 300 ribu sampai 500 ribu rupiah.

Tahun 2011 kami sudah mencoba menjalankan program ini dan berhasil men-training sekitar 10.000 anak di delapan kota di Indonesia. Dari 10.000 anak, yang akhirnya memiliki usaha bisnis sendiri ada sekitar 1.000 dan yang benar-benar bertahan hingga sekarang ada 700 orang. Rata-rata penghasilan mereka bisa mencapai 2-5 juta rupiah per bulan dan itu dikerjakan sambil kuliah.

Apa saja bentuk usaha mereka?

Ada yang berjualan pulsa, ada yang membuat nugget dan jamu, dan ada juga yang membuat kerajinan tangan gantungan kunci. Bahkan ada yang unik, yakni membuat peternakan landak mini. Landak-landak mini tersebut mereka jual dengan harga yang lumayan mahal, yakni di kisaran 600 ribu hingga 1 juta rupiah. Jadi, menurut saya anak-anak di Indonesia ini punya potensi yang bagus untuk mandiri tapi belum tahu harus memulai dari-mana.

Benar, mereka sebenarnya memiliki potensi kan?

Mereka rata-rata ingin jadi pegawai negeri karena mendapat uang pensiun. Mereka adalah anak muda yang penuh potensi tapi maunya bekerja ringan dan mendapat banyak uang. Paradigma tersebut salah dan harus diubah.Tugas kami adalah membuka impian mereka dengan memberi contoh orang-orang biasa yang telah sukses berkat kerja keras dan kreativitas mereka. Akhirnya mereka terbelalak menyadari hal itu, dan ingin tumbuh menjadi seorang entrepeneur.

Mungkin ini sebuah paradigma umum, tatkala orangtua ingin anaknya seperti mereka?

Ya, seperti itulah. Karena itulah kami berkomitmen tahun ini ingin me- layani 40.000 anak di sembilan provinsi di Indonesia. Program ini sudah bekerja sama dengan beberapa pemimpin daerah di Indonesia, seperti Palembang, Banten, dan Banjarmasin. Yang saya lihat, pemerintah daerah kadang-kadang belum memiliki program semacam ini, maka kami tawarkan kepada siapa saja, ayo siapa saja yang mau ikut.

Anda memiliki begitu banyak program dan impian, adakah yang belum tercapai ?

Yang belum tercapai seperti yang diawal saya sampaikan adalah mem- bentuk James Gwee Succes Center Go National di seluruh kota di Indonesia.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *