MENU

by • December 4, 2012 • InterviewComments (0)68

Interview Mardi Soemitro

Jika Anda melihat selama setahun terakhir, bagaimana unit usaha fitnes Adam dan Hawa Gym terus berkembang di kawasan Bali dengan penambahan jumlah cabang yang berlipat, maka jangan bayangkan, bahwa pemilik usaha yang core business nya membesarkan otot ini, dimiliki oleh seorang binaragawan berpostur raksasa bak Ade Rai. Ketika kami berkunjung ke kantornya, kami bertemu dengan Mardi Soemitro selaku owner dan founder dari Master Group Indonesia yang ternyata berpostur kecil. Tapi, jangan pernah tanya soal visi nya, meski ‘mungil’ Mardi Soemitro memiliki visi menembus batas. “Tahun 2025, seluruh cabang kami targetkan ada 1000 diseluruh Nusantara,” ujarnya.

Ada dua model untuk menggerak profit usaha kian besar, pertama dengan menetapkan margin yang tinggi, atau cara kedua dengan ‘copy paste’ unit bisnisnya menjadi banyak, ibarat pengembangan dengan sistem franchise. Langkah kedua inilah yang rupanya menjadi pilihan dari pria kelahiran Medan, 10 Juli 1973 ini untuk mewujudkan mimpinya. Siapa dia dan bagaimana dirinya memulai semua unit usahanya hingga saat ini menjadikan dirinya sebagai salah satu pengusaha sukses di Bali? Kepada Arif Rahman, bapak dari empat orang anak ini menceritakan perjalanannya!

Ceritakan bagaimana awalnya Anda terjun sebagai pengusaha?

Saya mulai usaha fitnes itu sejak tahun 2001 dengan modal nekat. Sebelumnya sekitar saya dua tahun bekerja sebagai sales di bidang fitnes saat masih di Jakarta. Sebenarnya itu hanya batu loncatan, karena sejak awal saya ingin jadi pengusaha, ini sudah menjadi pilihan hidup. Dulu saat SMA, saya pernah sukses menjadi entrepeneur. Dan saat kuliah setidaknya sudah punya dua mobil dan minimarket, semua itu hancur saat diterpa krisis moneter tahun 1998. Saya meninggalkan banyak hutang, dan beruntungnya ada seorang teman yang mengajak saya untuk kerja sebagai sales alat fitnes.

Sudah memiliki minimarket saat SMU, apakah usaha keluarga?

Bisnis yang saya jalani saat SMU murni bisnis pribadi, sebenarnya saya ini berasal dari keluarga yang tidak punya, bahkan saat tamat SD saya libur sekolah satu tahun karena kekurangan dana. Saat SMP, waktu itu saya masih di Medan, nyambi kerja dengan berjualan es dan kerja serabutan lainnya. Di keluarga saya tidak ada yang tamat sekolah sampai SMP, tapi keinginan saya untuk kuliah sangat kuat dan saya terus berusaha, diantaranya dengan narik becak, bekerja di pabrik tahu, pabrik tempe dan berjualan di pasar, bahkan jualan jeruk keliling pakai sepeda ontel. Dari kerja seperti itu, terkumpul modal, dan mulai buka warung kecil dan terus berkembang hingga menjadi supermarket, jadi saat SMA kelas 2 saya sudah punya mobil pick up, dan kelas 3 sudah punya mobil Espass pribadi. Saat kuliah, sudah bawa mobil sendiri hasil bekerja. Namun semuanya hancur saat tahun 1998 ada krismon.

Dari sanakah kemudian terjun sebagai sales peralatan fitnes?

Saya kemudian memilih kerja sebagai sales peralatan fitnes, dan orientasi saya menjadi pengusaha lagi. Jadi saya bekerja dengan niat menggali ilmu, segala seluk beluk tentang fitnes saya pelajari. Saat itu penempatan kerja sering pindah-pindah, karena tugas dari kantor, hingga akhirnya tahun 2001 saat saya kerja di Bali, ada perintah untuk dipindah kembali ke Jakarta. Disitulah saya memilih resign, dan saat itu saya memiliki bekal uang sejumlah Rp. 8 juta. Dari uang tersebut saya memberanikan diri menyewa tempat di sini [saat ini menjadi kantor Master Fitness.red] dengan cara mencicil. Awalnya berat untuk diberi tempat oleh pemilik toko, karena inginnya dibayar tunai, tapi akhirnya melunak setelah 3 kali saya datang merayu. Saya meyakinkan pemilik tempat ini, bahwa saya menjadi jaminan bila nanti tidak bisa membayar. Lalu saya kerja keras dengan tim saya untuk promosi master fitnes, dan senantiasa menggenjot semangat tim kerja.

Modal sewa tempat Anda dapatkan dari membayar secara bertahap ke pemilik toko, lalu bagaimana dengan alat-alat fitnes yang dijual, bukankah rata-rata berharga mahal?

Jadi awalnya saya itu hanya service alat fitnes saja, tidak menjual. Tapi setelah beberapa bulan saya jalani, ada seorang ibu yang datang membawa alat fitnes dan memaksa saya untuk menjualnya. Dan setelah saya jual, ternyata laku dengan hasil yang cukup besar. Dari sana saya mengetahui bahwa ini adalah peluang. Lalu saya buat iklan baris di koran, dicari alat fitnes bekas sebanyak-banyaknya. Ternyata saya mendapatkan cukup banyak alat fitnes second, kemudian alat fitnes second itu saya service, cat lagi dan dijual dengan keuntungan yang lumayan. Itu semua berlangsung dahsyat, dan akhirnya saya menerjuni jual beli alat fitnes saat itu. Di periode awal, saya melayani service alat fitnes ini tidak kenal hari libur, siang atau malam, kerja terus.

Sepertinya profesi jual beli alat fitness second saat itu belum ada ya?

Profesi seperti itu hampir tidak ada yang menekuni, sehingga saya melesat sendirian dan terus berkembang. Kemudian tempat terus saya perluas, dan mulai beli alat fitnes baru dengan sistem cash, karena awal oleh suplier tidak dikasih kredit. Dan di tahun 2002 saya sudah bisa buka di Lombok untuk penjualannya dengan menyewa tempat di sebuah mall.

Dari service alat fitnes, jual beli second sampai dengan menjadi dealer peralatan fitnes, kapan Anda kemudian membuka usaha fitness centre?
Pada tahun 2005, karena saya pikir waktu itu, saya kan punya alat dan teknisi, jadi mengapa tidak sekalian buka fitness center saja. Tapi setelah saya analisa dan banyak tanya kepada beberapa teman yang punya fitness center, kelihatannya prospeknya tidak terlalu bagus untuk profit. Kebanyakan orang buka fitnes karena hobi dan menyukai olahraga fitnes, akhirnya ia buka fitness center. Sangat jarang sekali pengusaha yang menekuni bisnis ini dengan maksimal untuk profit oriented. Saya awalnya ragu, tapi setelah saya timbang-timbang akhirnya terus jalan.

Apa yang memotivasi saat itu?

Waktu ada seminar Anthony Robbin di Singapura, Saya dengan Pak Alex [Alex P Chandra, chairman BPR Lestari.red] berangkat ke Singapore untuk menghadiri seminar tersebut. Waktu itu mau berangkat juga tidak punya dana, dipinjamkan oleh pak Alex lewat BPRLestari sebanyak Rp. 20 juta, kemudian saya berangkat. Pulang dari seminar, semangat saya memuncak dan tak terbendung untuk segera merealisasikan membuka fitness center.

Lancarkah usaha awal pendirian fitness centre tersebut?

Masalah muncul karena saya tidak punya modal, karena untuk buka fitness center itu minimal harus sedia 300 juta. Awalnya saya membeli alat fitnes dengan cara mencicil selama satu tahun, dan untuk tempat saya tidak ada dana. Selanjutnya saya mendapat tempat di lantai atas supermarket SE di jalan Marlboro [Teuku Umar Barat.red]. Saat itu disana ada ruang kosong, dan daripada tidak terpakai, maka saya berhasil nego dengan pemilik supermarket untuk membayar tempat secara bulanan. Soal peralatan, saya dapat dari tempat fitnes teman yang tidak terpakai lagi, seperti karpet, kaca dan lain-lain. Semuanya barang-barang second waktu itu. Dan perkembangan usaha tersebut ternyata bagus, terus berjalan dengan baik dan kemudian diperluas lagi. Sekarang sudah didukung oleh customer service yang murah senyum dan instruktur fitnes yang ontime dan pelayanan lainnya yang kami sempurnakan.

Kapan mulai membuka cabang?

Di tahun 2006, saya kemudian buka cabang di jalan Veteran, dan tahun 2007 saya bisa buka di Batubulan. Waktu itu sebenarnya target saya pada tahun 2010 harus punya 5 fitness center, tapi terus saya perhatikan perkembangannya kok tidak terlalu menggembirakan. Setelah saya perhatikan, rupanya para member saya itu kebanyakan mania fitnes semua, dimana mereka melakukan fitnes karena hobi dan jumlah mereka terbatas. Jadi ketika saya buka cabang baru, member saya pindah ke cabang yang baru, yang lama jadi sepi.

Hanya memecah ‘kue’, tidak menambah pasar baru ya?

Betul, dari sisi jumlah pelanggan tidak ada perkembangan yang signifikan. Cuma dari sini saya melihat peluang lain, ketika melihat ada ibu-ibu yang awalnya ikut fitnes tapi merasa tidak nyaman karena gabung dengan bapak-bapak. Saya terus analisa bagaimana caranya supaya bisa berkembang, sampailah kemudian timbul ide untuk membuat fitnes khusus wanita sebagai pemenuhan sebuah pasar baru. Awalnya team saya tidak setuju, dan keberatan karena pada umumnya yang ada adalah sanggar senam untuk wanita, bukan tempat fitnes. Tapi saya terus meyakinkan mereka dan bilang, tidak ada yang tidak mungkin, walaupun terkadang terbersit juga keraguan, tapi kalau tidak pernah dicoba, kita tidak akan pernah tahu hasilnya.

Itukah awalnya keberadaan Hawa Gym?

Betul, saya buka dengan nama Hawa Gym di seputaran Renon, dan hasilnya diluar perkiraan kami, bulan pertama itu penuh semua. Terus bulan kedua dan seterusnya, makin ramai, dan saya makin yakin bahwa konsep sesungguhnya sudah ketemu, dan mulailah saya mendirikan Hawa Gym di jalan Gatot Subroto dan jalan Mahendradatta. Kemudian muncul ide, kalau fitnes untuk perempuan ada, kenapa tidak ada yang khusus laki-laki? Maka saya pun mendirikan Adam Gym, khusus untuk bapak-bapak karena ada sebagian mereka yang fitnes hanya untuk menjaga kesehatan bukan sebagai mania fitnes.

Jadi peta pasarnya jelas ya, Master Gym untuk fitness Mania, Adam dan Hawa Gym untuk kalangan bapak dan ibu untuk memenuhi kebutuhan sehat mereka?

Benar, dengan kemajuan tersebut kini saya lebih serius mengurusi Hawa dan Adam Gym, sedangkan Master Gym karena pasarnya terbatas, tetap kita pertahankan untuk memenuhi kebutuhan mania fitnes.

Sudah berapa cabang saat ini?

Bulan November kemarin kita buka di Ubud sebagai cabang ke-18, sedangkan bulan sebelumnya yaitu Oktober saya membuka di jalan Ahmad Yani, dan rencananya dalam waktu dekat ini kami akan segera buka di RTC Gatsu, dengan begitu target 25 tempat fitnes di akhir tahun 2012 semoga bisa tercapai, amin.

Dua puluh lima cabang, berapa sebenarnya target kedepan?

Saya sudah buatkan schedule plan nya, untuk tahun 2012 ini kami target membuat 25 cabang tempat fitnes. Untuk target 2015 nanti akan jadi 100 cabang dan menyebar ke seluruh pelosok Bali. Tahun 2025 itu target 1000 cabang tempat fitnes diseluruh Indonesia, ya kita hanya berusaha dan berdoa, nanti Tuhan yang menentukan. Target untuk tahun 2012 sudah hampir tercapai.

Bagaimana dengan sistemnya?
Sampai saat ini tempat fitnes saya masih kita kelola sendiri, dan tahun depan inginnya mulai saya waralaba atau jual lisensi. Diantara pilihan tersebut, masih saya matangkan konsepnya, untung ruginya dan faktor lainnya, karena saya perlu ilmunya juga. Kalau untuk Adam Gym dan Hawa Gym saat ini saya sudah buatkan hak patennya.

Berapa biaya yang dibutuhkan untuk membuat satu cabang?

Untuk membuat fitness center yang paling sederhana dengan standard yang mencukupi, butuh biaya sekitar 250 juta diluar tempat, karena tempat itu kan flexible. Biaya itu sudah mencukupi untuk design, brand dan pewarnaan tempat, publikasi dan alat. Kalau untuk Hawa Gym lebih mahal sedikit karena memerlukan tempat yang lebih luas untuk tambahan senamnya untuk perempuan atau ibu-ibu.

Kalau boleh tahu, berapa kira-kira margin profit dari setiap cabangnya?

Sebenarnya profit bisnis fitness center ini tidak besar, cuma kenapa saya bisa berkembang cukup baik karena saya memegang dari hulu hingga hilir di bisnis ini. Alat fitnes saya produksi sendiri, saya punya teknisi dan saya juga merangkap distributor. Kalau tidak seperti itu, memang akan terasa berat. Apalagi kalau ada tambahan treadmill yang ongkosnya tinggi, kalau fitnes sekelas saya dengan charge 60 ribu perbulan, jelas tidak masuk karena minimal dengan treadmill biayanya minimal 150 ribu perbulan. Untuk jangka waktu investasi kembali, relatif antara 1 – 2 tahun di masing-masing gym. Tapi ada juga yang dahsyat, hanya dalam waktu 6 – 8 bulan seperti Hawa Gym di Gatot Subroto, sudah kembali besarnya biaya investasi.

Antara Hawa dan Adam Gym, manakah yang omzetnya lebih baik?

Hawa Gym lebih baik, karena di Hawa ada tambahan fasilitas senamnya, tapi pada dasarnya semua fitness center saya itu berjalan dengan baik karena posisi dan tempat juga sangat berpengaruh, kemudian sarana prasarana seperti tempat parkir dan kenyamanan harus saling mendukung.

Bagaimana dengan pemilihan lokasi?

Untuk pengembangan, ada beberapa konsep yang sudah disiapkan, seperti pemilihan tempat sebaiknya di mall atau berdiri sendiri. Kalau di mall itu, cost tempatnya tidak banyak dan bisa dicicil perbulan, sedangkan kalau berdiri sendiri itu biaya promosinya lebih kecil, tapi biaya tempatnya harus tunai bisa 3 – 5 tahun bayar di depan, masing-masing punya kelebihan dan kekurangan.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *