MENU

by • September 4, 2012 • InterviewComments (0)84

Interview Meuthia Rizky

She Lead, What she Win

Life begins at 40, nampaknya statement ini tepat ditujukan pada sosok ibu yang satu ini. Wanita kelahiran tahun 1970 ini mengawali fase hidupnya dengan penuh tantangan dan liku, berasal dari keluarga broken home dan pernah mengalami kekerasan dalam rumah tangga menjadikan dirinya mengalami tekanan hebat, dan akhirnya membuat wanita ini gagap selama bertahun-tahun. Berbagai terapi ditempuhnya, obat pun silih berganti  di cobanya demi terbebas dari kegagapannya tersebut, hal yang dianggap menyiksanya. Belum lagi ketika dirinya mulai berkeluarga dan memiliki anak, syndrom baby blues menyerang hebat dan kian menenggelamkan dirinya. Di awal karirnya bekerja, dirinya yang terjun sebagai broker, mengalami nasib sial ketika melenyapkan sejumlah uang nasabahnya di bursa saham, dan membawa wanita ini ke kepolisian karena delik perdata dari para investor yang tidak puas dengan kinerjanya.

Tapi rupanya, berbagai ancaman hidup tersebut secara perlahan justru menjadi anak tangga yang membawanya menjadi pribadi yang lebih tangguh, meng upgrade nya menjadi sosok yang berani dan seolah saat ini tidak ada lagi cobaan yang lebih berat dari apa yang pernah dilaluinya. Dan menariknya, dari seorang yang dulunya gagap karena tekanan psikis, sekarang justru menjadi motivator yang demikian cerewet. Saat ini, wanita yang masih nampak muda ini, menjadi top leader disebuah perusahaan MLM dan kerap berpindah dari satu panggung ke panggung lainnya untuk membagi pengalaman hidupnya, dan kesuksesannya mengalahkan berbagai cobaan dan bangkit sebagai pemenang.

Saya mendapat kesempatan menemani wanita ini yang beberapa waktu lalu berkunjung ke Bali saat mempromosikan bukunya. Bahkan, kami sempat mencuri waktunya yang bermalam di hotel Santika Kuta, untuk interview dan beberapa sesi photo. Semoga pengalamannya, juga menjadi cambuk khususnya bagi mereka khususnya perempuan untuk bangkit dari sebuah kegagalan.

Apa yang mendorong Anda membuat buku yang menceritakan kisah hidup seorang Meuthia Rizky?

Tidak banyak perempuan yang mengalami hidup seperti saya, ibu saya, menikah dengan orang yang salah, ayah saya orang yang ringan tangan, kami kerap mendapat tekanan secara fisik. Peristiwa KDRT ini yang akhirnya membuat ibu saya bercerai dengan ayah. Saya pun sudah terbiasa mendapat perlakuan keras dirumah. Ini kemudian membuat saya mendapat tekanan hebat secara psikis dan akhirnya membuat bicara saya gagap.

Saya pernah menonton film the King Speech, yang menceritakan kehidupan pangeran Inggris yang bicaranya gagap, dalam film itu diceritakan bahwa tidak ada orang yang terlahir gagap, tapi peristiwa dalam hidupnyalah yang bisa memicu hal itu terjadi?

Iya, itu benar banget. Dan ini menyebabkan saya harus terapi ke sejumlah prsikiater, bahkan sudah berganti-ganti dokter dan obat, tapi hasilnya tidak banyak. Dan ini menyebabkan saya menjadi orang yang minder, jadi kalau orang lihat saya, mereka berpikir saya sombong, padahal tidak sama sekali, saya justru yang menjauh, karena saya membatasi diri bergaul dengan orang lain.

Kapan persisnya kegagapan itu hilang?

Waktu mulai kerja, justru tanpa terapi dan obat, saya mulai bisa berbicara lancar secara perlahan, karena ditempat kerja kita diharuskan bicara, dan bisa dibilang tanpa tekanan.

Bagaimana Anda memulai karir?

Awalnya waktu kuliah, saya sempat bingung mau ambil jurusan apa, inginnya desainer saja, tapi waktu itu sekolahnya belum ada yang setingkat sarjana. Tapi kemudian saya memilih akademi sekretaris, tapi sebelum lulus sudah mulai kerja, jadi saya sempat menunda skripsi. Selama saya kerja, saya beberapa kali pindah kerja. Inginnya mencari pengalaman dan mencari penghasilan yang lebih besar. Dan setiap pindah itu karena diajak oleh atasan saya. Jadi saya pernah kerja di Pasific Hotel selama 3 tahun, terus pindah kerja ke Santika Hotel selama 2 tahun dan terus pindah lagi ke Imperial Hotel. Dan saat tahun 1999 terjadi krisis moneter, kita kesulitan mendatangkan tamu, akhirnya saya pindah kerja ke suatu perusahaan perdagangan bursa berjangka gitu. Disini sebenarnya saya melamar menjadi PR, tapi tidak tahu kenapa akhirnya saya juga merangkap jadi salesnya. Waktu itu tiap sales diminta target minimal 20 juta dan minimal tiap bulan harus mendapatkan satu orang investor yang dananya bisa kita kelola.

Bagi saya, ini profesi yang sulit, bagaimana anda menjalaninya?

Sebenarnya diawal kerja sudah ada ketidaknyamanan, dan merasa ada yang salah, karena awalnya melamar jadi PR tapi saat training juga diharuskan menjadi sales. Apa boleh buat karena waktu itu yang kita pikirkan bagaimana mencari duit, akhirnya saya jalanin saja. Saya coba di tempat kerja ini selama 8 bulan saja. Itu waktu yang cukup lama karena temen-temen yang lain malah ada yang hanya 3 bulan. Waktu itu saya tidak tega saja dengan uang orang yang masih saya kelola. Pada bulan ketiga sebenarnya sudah tidak betah dan terus kepikiran untuk resign. Bulan ke empat dan kelima ada masalah dengan keuangan yang saya kelola, dimana kita diminta untuk inject dana terus-terusan karena kondisi pasar keuangan yang tidak stabil, namun akhirnya kehilangan sejumlah uang investor yang kemudian membawa saya berurusan dengan polisi, karena dituduh tidak transparan dan sebagainya, pokoknya itu masa dimana saya berdarah-darah. Tapi akhirnya berkat bantuan orang tua, suami dan keluarga lainnya dan teman-teman, saya bisa mengumpulkan uang untuk mengganti itu semua dan menyelesaikan masalah tersebut.

Apa yang Anda lakukan kemudian?

Tahun 2000 saya mulai mencari peruntungan sendiri menjadi makelar jasa printing, namun tidak lama, di bisnis ini cuma bertahan 9 bulan. Saat itu sebenarnya sudah usaha sudah mulai besar, saya mendapat satu klien tetap yang mengelola pabrik jaket kulit terbesar di Indonesia berada di Tangerang. Waktu itu dia kasih semua order pembuatan label ke saya, jadi waktu itu sibuk banget dan hasilnya cukup lumayan, ada dan bisa kita rasakan. Nah di tengah jalan, iseng-iseng saya melamar kerja di Oriflame, waktu itu ada telp dari teman yang memberitahukan bahwa Oriflame membutuhkan karyawan, dan saya tertarik banget, karena pikir saya, enak kalau bisa punya dua pundi, satu dari usaha dan satu lagi dari bekerja sebagai karyawan. Selain itu bisnis printing saya sudah mulai bisa ditangani oleh karyawan. Jadilah saya pada tahun 2001 bergabung dengan Oriflame.

Sebagai staf?

Iya, waktu itu karyawan. Saya melamar kerja di oriflame untuk posisi sebagai manager, yang kualifikasi kebutuhannya adalah S2, tapi saya diterima sekalipun bukan S2, itu membuat saya bangga. Dan mungkin ini memang rencana Tuhan ya, setelah tiga bulan di perusahaan ini, pabrik jaket kulit yang menjadi klien saya selama ini pindah ke China, dan mengakhiri kerjasama dengan usaha percetakan saya. Waktu itu untungnya sudah kerja di oriflame. Walaupun bagi sebagian orang membangun bisnis itu pilihan yang lebih baik, tapi buat saya butuh banyak tenaga untuk membesarkan usaha. Disatu sisi saya juga berusaha mengejar ketertinggalan financial saya selama ini. Kebetulan saat nego gaji, saya asal saja menyebut angka, ternyata disetujui. Gaji yang ditawarkan oke, pekerjaan juga jadi saya saya enjoy menjalaninya.

Namun Anda saat ini dikenal sebagai salah satu top Leader di Oriflame dengan penghasilan yang besar, bukankah Anda mengawalinya sebagai karyawan diperusahaan ini?

Nah di Oriflame ini saya didalam, mengamati para member. Kemudian saya mulai tertarik, dan berpikir sepertinya enak nih kalau jadi pemain, jadi pebisnis MLM. Dan itu berarti harus keluar dari posisi karyawan, karena karyawan perusahaan MLM tidak boleh merangkap menjadi member. Banyak yang menyayangkan keputusan saya ini, karena saat itu saya sudah diangkat sebagai kepala cabang. Tapi saya berpikir begini, saat itu usia saya 34 tahun, saya mau coba dulu jadi pemain selama setahun, kalau gagal, saya masih usia 35, dan masih memungkinkan untuk mencari pekerjaan lain. Tapi ternyata dalam setahun itu, penghasilan saya sebagai pebisnis MLM ternyata naik dua kali lipat, akhirnya tambah betah deh sampai sekarang.

Influence apa yang membuat Anda menyebrang menjadi pemain?

Salah satu pekerjaan saya di Oriflame itu sebagai trainer, jadi saya memberikan pelatihan kepada kepada orang-orang yang baru bergabung dan menjadikan mereka punya penghasilan. Nah ini yang rupanya yang mendorong saya terjun jadi pemain.

Apa yang ingin Anda capai dalam waktu kedepan?

Di oriflame ini pekerjaannya agak beda, kita melakukan hal yang sama berulang ulang, misalkan  kalau di kantor, kita bisa naik jabatan dengan pekerjaan yang berbeda, tapi di oriflame yang penting kita bisa mencetak leader maka kita naik tingkat, jadi kalau kita pergi sebelum waktunya itu sayang banget karena masih ada lagi jenjang yang lebih menarik. Itu sebabnya saya ingin menciptakan lebih banyak leader lagi.

Tidak tertarik terjun di bisnis konvensional lagi?

Dengan penghasilan yang saya peroleh di oriflame saat ini, menjadikan saya punya impian untuk memiliki sesuatu, misalnya saya ingin punya bisnis cafe, tempatnya sudah ada, tapi soal ide belum bisa saya ungkap sekarang, intinya sih, ini bisnis franchise, mudah-mudahan bisa berkembang dan nantinya bisa buka di Bali.

 

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *