MENU

by • September 4, 2012 • InterviewComments (0)53

Interview Simon Purwa

Industri pariwisata mengalami perkembangan yang pesat selama beberapa dekade terakhir, khususnya di Bali yang memang merupakan destinasi internasional. Namun sekalipun demikian, bukan berarti pariwisata menjadi industri yang mudah untuk digeluti. Banyak perusahaan yang gagal berkembang, terlebih ketika periodisasi awal munculnya Bali sebagai salah satu tujuan wisata favorit. Salah satu yang sanggup bertahan dan bahkan menjadi pioner di industri ini adalah KCBJ Tour.

Memulai sejak 1983 ketika jumlah kedatangan wisatawan belum banyak di Bali, kemudian berkembang dan mengalami diversifikasi produk yang beragam, hingga memiliki lebih dari 100 orang karyawan. Bahkan saat ini pe-ngelolaannya sudah dialihkan ke generasi kedua, tidak berlebihan untuk menyebut KCBJ sebagai leader di industri ini. Apa yang menjadi tipping poin dari perusahaan ini hingga mampu bertahan dan bahkan meraih berbagai prestasi saat ini? Simon Purwa, putra pertama dari Al Purwa perintis bisnis ini, menceritakannya kepada kami.

Bagaimana awalnya perjalanan bisnis ini dirintis?

KCBJ sendiri sebagai sebuah bisnis sudah berdiri sejak 1983, dan masuk asosiasi keanggotaan IATA sejak 1984. Jadi bisa dibilang kami terma-suk sedikit bisnis tour travel saat itu yang me-ngawalinya dengan konsep modern untuk lokal Bali. Kami justru memiliki kompetitor dari nama-nama besar dari bisnis tour & travel yang berasal dari Jakarta. Dan kami termasuk yang masih bertahan sampai saat ini, dari beberapa tour travel yang berdiri saat itu.

Konsep modern? Apakah ini ada kaitannya dengan no telepon internasional yang saya dengar dimiliki pertama kali oleh KCBJ Tour?

Iya, bisa dibilang itu stepping stone kami. Jadi begini, kalau dulu komunikasi sambungan jarak jauh tidak seperti sekarang, sistem telepon sambungan jarak jauh relatif sulit. Kalau kita mau telepon ke Sanur misalkan, kita mesti telepon ke operator di airport dulu untuk minta disambungkan. Dan untuk memiliki sambungan line internasional juga enggak gampang, awalnya kita bisa punya line tersebut saat Presiden Amerika Ronald Reagen datang ke Bali dan menginap di Nusa Dua Beach Hotel. Dia minta di hotel tersebut dipasangkan satu internasional line, dan itu satu-satunya telepon internasional direct line yang ada. Hotel setempat memenuhinya dengan memasang internasional line dengan nomer awal 777 itu.

Setelah Presiden Reagen pulang, line telepon internasional itu dijual oleh pihak hotel, dan bapak saya lah yang memberanikan diri membelinya. Dengan harga yang cukup tinggi untuk saat itu, mungkin kira-kira samalah dengan harga sebuah mobil. Namun dengan satu line itu, kami jadi punya dial internasional langsung satu-satunya di industri tour travel di Bali. Dari sinilah kami berkembang menjadi penghubung internasional. Jadi, teknologi terbaik saat itu untuk komunikasi jarak jauh, baik untuk telepon maupun faksimile pertama kalinya, dan satu-satunya cuma KCBJ Tour yang punya. Dengan keunggulan inilah kami bisa mendapatkan begitu banyak tamu dan relasi. Ketika itu, kami juga satu-satunya yang bisa melayani tamu yang membeli tiket pergi pulang secara langsung. Nomor tersebut sekarang masih kami pakai sebagai nomor faksimile.

Bagaimana ayah Anda terjun ke bisnis ini, padahal saat itu prospek pariwisata belum secerah sekarang?

Bapak saya itu guide, pernah juga jadi waiter dan berbagai profesi lain yang berkaitan dengan hospitality. Pernah juga bikin usaha dengan teman-temannya. Waktu itu bapak sewa tempat di Kuta, untuk penjualan tiket pesawat. Teman-temannya saat itu banyak yang mempertanyakan keputusan ini, kenapa kok buka usahanya jauh dari kota, malah memilih Kuta yang saat itu masih sepi. Tapi sekarang kami sangat bersyukur karena lokasi usaha ada di Kuta.

Bagaimana dengan brand yang dikembangkan, karena sebelumnya yang kami dengar bukanlah KCBJ, tapi KCB Tour?

Ya, itu ada ceritanya juga. Jadi sebenarnya kalau berdasarkan badan usaha, nama PT kami adalah Kuta Cemerlang Bali Jaya, dan kalau disingkat jadi KCBJ, tetapi karena dulu pengucapannya dipermudah, orang lebih gampang mengejanya dengan 3 kata saja, yakni KCB tour, makanya sering disebut KCB, dan kita berjalan dengan sebutan nama itu. Namun pada tahun 1995 kami ada problem, dimana salah satu perusahaan di Jakarta menghubungi kita dan mengatakan bahwa nama KCB sudah dipatenkan.

Bisnis perusahaan itu sama sekali beda. Mereka meminta kami harus membayar sejumlah uang jika mau menggunakan brand itu. Padahal nama KCB sendiri enggak menasional, kalau di Bali mungkin orang kenal, tapi kalau secara nasional belum sebesar itu. Dan kebetulan nama PT kami memang ada inisial J-nya untuk kata Jaya, makanya sekarang kami coba perkenalkan dengan nama KCBJ, tetapi karena mindset orang sudah terlanjur ingat KCB, makanya kita sering berkelakar, kalau ada yang tanya, kok sekarang ganti nama dari KCB ke KCBJ, ya kita bilang saja karena sekarang KCB sudah semakin Jaya ha..ha..

Anda saat ini mewarisi bisnis yang dirintis oleh ayah, bagaimana Anda melihat sosok beliau?

Saya memosisikan diri sebagai follower yang baik, karena menurut saya kita nggak akan bisa jadi leader yang baik, kalau belum jadi follower yang baik. Bapak bisa dibilang sebagai idola bagi saya, dan ini saya lakukan agar saya juga bisa jadi leader yang lebih baik.

Banyak orang bilang, mewarisi bisnis yang sudah dirintis dari generasi pendahulu itu lebih mudah, namun bagi saya pribadi justru sebaliknya, banyak usaha yang justru gagal ketika beralih ke generasi berikutnya, bagaimana dengan Anda?

Generasi kedua itu harus inovatif, karena perubahan itu selalu ada, jadi tantangannya adalah bagaimana kita bisa inovatif agar bisa beradaptasi dengan perubahan itu. Kita ambil story dari line telepon internasional itu, bapak memberanikan diri membeli line tersebut dan menjadikan kita sebagai satu-satunya yang memiliki line tersebut. Tapi sekarang telepon dan faksimile kan bukan teknologi baru, malah sudah out of date, sekarang kita gunakan email, dan sekarang email pun, sudah ketinggalan zaman, karena sekarangkan zamannya mobile internet. Di sinilah saya kemudian mengembangkannya, dengan memiliki divisi khusus untuk pengelolaan IT. Itu sebabnya perubahan harus diikuti, dan menjadi tantangan bagi kita.

Saya sendiri lahir dan besar di Bali, dan sekolah dari SD sampai kuliah juga di sini. Sebelum tamat saya sudah terjun di bisnis ini walaupun belum aktif, setelah tamat baru terjun aktif, tetapi efektif baru tahun 2007 saya mengambil operasional. Bapak sudah pasif saat ini dioperasional dan lebih banyak meluangkan waktu di organisasi seperti Rotary Club. Saya mencintai pariwisata karena lahir dan besar di Bali, dan bagi saya itu berkah, walaupun saya juga memiliki passion di hal-hal yang lain.

Dalam perjalanan perkembangan perusahaan, dengan perubahan yang terus terjadi, diversifikasi apa yang sudah dilakukan KCBJ?

Dulu awalnya memang bidang utama di tiketing, tetapi kami juga melihat perkembangan bahwa orang Bali sendiri sudah memiliki disposible income, itu sebabnya kami mulai mengembangkan divisi outbond untuk mereka yang mau traveling, ada juga villa dan transportasi, termasuk tim yang menangani berbagai event. Semua dikelola di sini dengan divisi-divisi yang berbeda, dan prinsip diversifikasi kita yang controllable, sehingga diversifikasi produknya ada range-nya, sekalipun semakin bertambah, tetapi masih bisa dikelola, dan semua produk kami itu basic-nya tetap bagian dari industri pariwisata.

Jadi perkembangannya bertahap, untuk tiketing dengan nama KCBJ Tour mulai tahun 1983, kemudian ada pengembangan untuk perusahaan transportasi, itu untuk tour. Awalnya kami kerja sama dengan perusahaan lain, tetapi sejak tahun lalu kami mencoba kelola sendiri, jadi kami mengganti dengan brand sendiri yakni MTrans.

Tahun 1996 kami mendirikan Cempaka Blimbing Villa, yang sudah mendapatkan Emerald Award. Itu artinya kami sudah 3 kali dapat emas dan sudah tidak diperkenankan lagi untuk ikut kompetisi, karena menang terus. Kemudian ada KCB Convex, yakni event management, bergeraknya di Jakarta, di sini kami supporting saja, itu dimulai dari tahun 2008. Terakhir, kami punya The Experience, adventure dengan mobil Land Rover.

Bagaimana dengan perkembangan dari jumlah karyawan?

Jumlah karyawan awal 3-4 orang, sekarang 54 orang untuk di KCBJ Tour saja, kalau digabung dengan perusahaan lain, total dalam satu grup sudah ada sekitar 100 orang.

Dengan perkembangan ini, tampaknya sudah siap untuk naik ke level yang lebih tinggi, mendirikan cabang lain mungkin?

Banyak yang tanya soal ini, dan kami sudah beberapa kali pernah mencoba membuka cabang, tetapi untuk saat ini masih belum karena KCBJ itu perusahan keluarga, yang mengangkat karyawan dengan hubungan kekeluargaan, kita mencoba membawa perusahaan ini ke level dimana kami bisa nyaman. Kalau kai besar dan menjadi korporasi, justru bisa membuat kami tidak nyaman. Kami memang harus terus bertumbuh. Kami sebenarnya seperti sudah stage group holding, tapi kembali lagi ke konsep family business tadi, kami tidak mau yang terlalu struktural. Saat ini laporan dari karyawan juga enggak perlu resmi-resmi banget, tinggal datang dan ngobrol,.saya enggak mau kalau menjadi terlalu struktural. Jadi kami ingin grow in the controllable way, keep small dulu, kami jalan dulu dari baby step dan step by step, jangan melompat apalagi untuk bisnis keluarga seperti kita. Tapi mungkin saja nanti kami mengarah ke sana. IPO mungkin di generasi ketiga ha..ha..

Dengan perkembangan teknologi saat ini, maka sistem penjualan tiket saat ini sudah bisa dilakukan oleh perseorangan, atau agency kecil. Belum lama ini saya mendapat tawaran menjadi agency tiket dengan modal awal hanya Rp. 2.500.000, dan beroperasi dengan modal sebuah laptop saja. Hal ini menjadikan persaingan kian ketat. Bagaimana Anda melihat ini?

Betul sekali, dengan perkembangan teknologi dan semangat entrepreneurship saat ini, maka persaingan menjadi lebih sulit, karena sekarang semua orang bisa jadi independen agen. Tentu saja mereka kompetitor, tapi kita juga harus jeli, karena mereka juga peluang. Kita ini kan counter agennya airlines, kita juga harus bergerak untuk merangkul mereka, menjadikan mereka distribution chain. Sehingga saat ini, ada independen agen yang secara parsial menjadi kompetitor, tapi ada juga yang justru support kita. Mereka menjadi distribution channel perusahaan kita, ini ibaratnya hanya perubahan bisnis model saja karena perkembangan teknologi.

Kalau dulu itu 90% business modelnya Business to Customer, sekarang menjadi Business [agency tiketing besar] to Business [agency tiketing independen yang relatif kecil], yang nantinya bisa jadi modelna akan menjadi B to B to C. Jadi betul mereka kompetitor, tapi kalau bisa kita rangkul, mereka jadi peluang, misalkan ada market yang tidak bisa kita jangkau, dengan kehadiran mereka justru bisa kita jangkau. Perluasan network jadinya.

Apa kendala yang di hadapi saat ini?

Ya mungkin soal pembayaran, karena di Indonesia semua transaksi belum di atur harus menggunakan rupiah.

Dalam logo KCBJ, ada simbol senyuman, apakah ini bagian dari pelayanan?

Pariwisata adalah bisnis jasa, karena kita nggak jual barang, maka service jadi poin penting. Orang tidak hanya sekedar beli tiket, kita coba memberikan lebih, pada saat orang ingin pergi dari Bali ke Jakarta, kita nggak tahu tujuannya ke Jakarta untuk apa, sifatnya bisnis urgent atau hanya liburan. Karenanya kita memberitahu mereka dengan informasi yang lengkap. Kita berikan opsi, perbandingan jam dan harga tiket misalnya, maka sedikit tidak itu bisa menjadi nilai tambah. Itu sebabnya logo kita senyuman, sevice with smile, tag line informal yang terus kita angkat. Jadi kalau ada karyawan yang merengut, masak kalah dengan logo diseragam mereka.

Apa yang Anda lihat dari perkembangan industri pariwisata saat ini?

Kita harus terus inovatif, dalam arti mengikuti perkembangan, kita juga sudah harus mulai difersifikasi, karena industri pariwisata itu kan luas, kita bicara Bali, merupakan destinasi internasional. Itu sebabnya ditengah perubahan dan perkembangan bisnis ini, kita juga harus melakukan difersifikasi.

Apakah kerap terlibat dengan pemerintah untuk memajukan industri pariwisata khususnya Bali?

Hubungan dengan pemerintah selalu ada, yang sering kita lakukan ekshebisi, kita aktif di kementrian seperti ke London atau Singapura dengan mereka untuk mempromosikan Bali, hasilnya cukup baik. Perkembangan industri pariwisata di Bali juga signifikan dengan kontribusi pemerintah. Walalupun masih ada hal lain yang kita harapkan bisa dilakukan lebih oleh pemerintah, karena negara lain saat ini promosinya gila-gilaan. Saya pikir even-even internasional di Indonesia masih bisa diperbaiki jika kita refleksi apa yang sudah kita lakukan.

 

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *