MENU

by • February 2, 2012 • InterviewComments (0)122

Interview With Alex Purnadi Chandra

You can’t start a fire without spark, and he’s a spark in the bank that almost broke

Keruntuhan ekonomi Indonesia tahun 1998, merambat menjadi multi krisis yang merontokkan sebagian besar persendian perbankan. Termasuk bank skala kecil seperti BPR. Mereka yang bertahan pun, terseok menghadapi krisis yang tak tampak ujung pangkalnya. Masa kelam perbankan ini membuat seorang pria bernama Alex P Chandra memutuskan melepas jabatannya sebagai pimpinan cabang BCA pada usia yang relatif muda, dan justru memutuskan mengakuisisi sebuah BPR yang saat itu sudah hampir terlikuidasi. Sebuah keputusan yang mengantarkannya menjadi salah satu pebisnis paling berhasil saat ini. Pernah merasa memiliki masa kelam ketika menjadi mahasiswa. Sempat kehilangan kepercayaan diri dan minder, bahkan tidak bisa memutuskan hendak menjadi apa kelak. Dan bagaimana pria ini menemukan kembali keberaniannya, apa saja turning point yang akhirnya merubah cara berpikir bisnisnya? Di kediamannya yang bernuansa villa dikawasan Krobokan, pria yang sudah dikaruniai 3 orang putri ini menuturkan kisah perjalanannya, inilah kisah “the man behind the gun” BPR Lestari.

The Worst Years In My Life
Saat ini, banyak media yang sudah beberapa kali mempublikasikan profil Anda, dan kebanyakan mengupas periode ketika bapak memulai bisnis melalui BPR Lestari. Namun tidak banyak yang mengetahui periode sebelum itu, bisa ceritakan bagaimana romantisme masa-masa tersebut?
Ok, jadi saya itu ketika kuliah di Trisakti jurusan engineering, dan itu the worst years in my life, periode terburuk dalam hidup saya. Jadi ceritanya waktu lulus SMU tahun 1987, saya nggak tahu mau kemana, Papa saya bilang terserah, mau kemana saja Papa mendukung. Pemikiran old school, akibatnya saya nggak tahu mau kemana dan nggak mendapat arahan apapun. Akhirnya saya memutuskan, pokoknya saya mau cari universitas yang paling keren, dan itu adalah ITB, jurusannya Teknologi Informasi, karena waktu itu TI jurusan baru yang lagi ngetop, padahal bayangkan saja, Saya itu kalau pegang komputer sebentar saja pasti hang

Akhirnya saya mendaftar, tapi tidak diterima di ITB, diterimanya justru di UI fakultas ekonomi yang waktu itu pilihan ketiga, pilihan keduanya elektro di Trisakti, yang saat itu lebih bergengsi. Saya benar-benar nggak tahu mau pilih yang mana. Dan sebelum penerimaan, saya ikut penataran P4 di UI, tapi banyak teman-teman yang ngeledikin, anak IPA kok belajar ekonomi, soalnya waktu SMU kelas yang saya ambil adalah IPA. Hati kecil sebenarnya mau di UI, tapi waktu itu kuliah ekonomi itu nggak cool. Dan waktu saya pulang penataran, di kos saya di Salemba, ada bapak-bapak yang saya ajak ngobrol, saya tanya ke orang tua itu, “mana yang bagus, pilih jurusan Ekonomi di UI atau Elektro di Trisakti”. Dan bapak itu bilang, “wah jangan ambil jurusan ekonomi, sudah banyak sarjana ekonomi,” begitu kata si bapak itu. Saya gundah gulana, dan langsung telepon kerumah meminta orang tua supaya saya didaftarin di Trisakti, dan itu keputusan yang sangat salah. Saya tidak senang dengan kuliah itu, saya hampir DO. Tapi saya kerjakan sebaik mungkin, masa studi saya 8 semester, itu cukup cepat untuk jurusan elektro. Prestasi biasa-biasa saja, IP saya itu cuma 2,9, nggak sampai 3, merasa bodoh dan minder, kalau ketemu orang dari ITB, langsung kecil hati.

Apa yang mengembalikan kepercayaan diri saat itu?
Di BCA. Waktu masuk BCA pun sebenarnya juga kebetulan, waktu itu lihat teman di perpustakaan lagi bikin lamaran, sekitar tahun 1991. Saya tanya, ternyata mereka mau bikin lamaran buat di BCA, akhirnya saya ikut bikin lamaran, minta kertas folio dan saya kirim sendiri ke kantor BCA. Gaya masih mahasiswaan, pakai celana jeans, kaos oblong dengan sepatu tanpa kaos kaki dan ransel. Pas di kantor BCA, nggak dikasih masuk oleh satpam, dan lamaran disuruh taruh dimeja.

Nah ini mungkin sudah suratan tangan, begitu saya taruh lamaran itu, ternyata ada ibu yang keluar, namanya ibu Widya, ibu ini bertanggung jawab dalam program MDP. Oleh satpam, saya disuruh ketemu sama ibu Widya itu, dan saat saya kasih, saya ditanya apakah sudah lulus? Saya bilang belum. Terus ibu Widya itu bilang kalau program MDP ini hanya untuk mereka yang sudah lulus. Tapi lamaran tetap saya kasih saja, kemudian pulang. Tapi sorenya di kos, Saya dikasih tahu ada panggilan interview dari BCA.

Walaupun masih belum lulus, belum ujian negara dan belum skripsi, tapi semua pelajaran sudah selesai, data transkrip nilai yang saya berikan saat itu yang terakhir di semester 5, IP saya masih 3 waktu semester 5, karena syarat program MDP ini juga untuk mereka yang minimal IP nya 3, padahal kalau sampai semester 8, sudah turun tuh IP saya, dan nggak bakal masuk syarat untuk ikut program. Jadi sampai terakhir saya keluar dari BCA, nggak pernah ditanya lagi apakah saya sudah lulus kuliah atau belum, tapi yang pasti setelah interview saya berhasil lolos dan diterima kerja.

Turning Point, From Nobody Become Somebody
Nah selama setahun pertama kita ditraining lagi, diajarin lagi dan saya happy dengan pelajarannya, disana saya berkembang dan tumbuh. Saya lulus terbaik kedua dari masa training itu, padahal disana ada lulusan dari ITB, UGM, UI dan ada juga master dari Amerika, mereka satu kelompok. Tapi mereka semua dibawah saya rangkingnya, saya pikir “yah cuma segitu-gitu aja mereka”. So, empat tahun di Trisakti adalah masa kegelapan dan saya menemukan masa yang lebih baik itu di BCA.

Apa sebenarnya program MDP itu?
MDP itu program kaderisasi pimpinan yang disiapkan BCA, mereka mengkader lulusan dari berbagai disiplin, yang diharapkan nanti jadi pemimpin di BCA. Dan sekarang sudah terlihat, teman-teman angkatan saya sudah jadi orang-orang yang punya posisi strategis di BCA. Jadi MDP itu program pelatihan yang sulit dengan 3 kali ujian, kalau tidak lulus, maka saya keluar dari program. Kalau keluar, saya masih tetap bekerja di BCA hanya saja masuk kembali ke jalur lambat.

Ibaratnya MDP itu kayak Akabri di BCA, jadi mereka yang lulus program ini sudah start karir dari jabatan yang lebih cepat. Saya hoki, saya lulus cukup bagus, dan dalam waktu 2 tahun, saya dipromosikan ke jabatan manajemen, jadi wakil pimpinan waktu itu. Saya jalani selama 3 tahun di cabang Denpasar ini, BCA Hasanudin.

Itu awalnya ke Denpasar?
Waktu itu penugasannya ke Balikpapan, dan karena saya masih muda, kemana saja saya siap. Tapi kurang lebih seminggu kemudian, saya dikasih pilihan lagi yakni Denpasar. Wah saya langsung pilih Denpasar, waktu itu saya pikir kayak Lorenzo Lamas di film Renegade, kan ada tuh serialnya dulu di TV. Naik motor Harley dan tinggal dirumah dekat pantai. Wah semangat saya, ternyata kantor BCA di Denpasar jauh dari pantai.

Sempat dipromosikan lagi?
Tahun 1998 saya dipromosikan jadi pimpinan cabang, saya rising star waktu itu, jadi pimpinan cabang di usia 29 tahun, cuma satu orang yang seperti saya di BCA. Tapi tahun 1999 saya keluar.

Kenapa justru keluar, padahal posisi sudah cukup baik?
Ada beberapa faktor yang saat itu mempengaruhi, pertama karena krisis moneter, disitu saya menyadari bahwa bangunan sebesar BCA saja bisa runtuh. Kedua, karena bos saya waktu itu yang saya kagumi, mengumpulkan kita dan mengatakan, kita nggak tahu besok bakal jadi apa. Orang yang paling saya kagumi saja ngomong seperti itu. Padahal seharusnya, seorang pemimpin itu boleh tidak tahu semua jawaban, tapi tidak boleh kehilangan keyakinan. Kalau bos yang hebat saja nggak yakin, bagaimana dengan kita? Seharusnya saat itu kita diyakinkan bahwa besok masa depan lebih cerah.

Nah dua alasan itu yang membuat saya mengambil keputusan untuk memiliki usaha sendiri, kebetulan saat itu ada klien saya di BCA yang mengajak saya bekerja di Animale. Karena saat keluar dari BCA, saya nggak punya uang, saya bangkrut. Saat di Animale, saya di gaji 5 kali lipat dari BCA. Kerja sebulan di Animale, sama dengan 5 bulan di BCA. Selain itu saya juga bikin money changer, join dengan teman yang mengelola, sementara saya kerja di Animale.

Bagaimana bisa membeli BPR Lestari waktu itu?
Usaha money changer yang saya jalani itu memberikan profit, seandainya membuat money changer itu diawal-awal krisis, saya sudah kaya raya, tapi walau terlambat karena baru buka dipenghujung krisis, tapi masih dapat profit. Nah, profit itulah yang kemudian dibelikan bank. Tahun 1999 akhir di bulan November izin BI keluar.

Sudah menghasilkan?
Nah itu dia, di BCA gaji saya Rp 5 juta, di Animale Rp 25 juta, di BPR cuma Rp 1,5 juta ..ha..ha.. saya downgrade saat itu. Tabungan saya yang selama ini mem back up saya. Ada dua hal yang bisa saya bagi dari pengalaman saya ini, pertama orangtua itu harus membantu mengarahkan, membantu mengkondisikan, karena anak itu nggak tahu mau kemana, anak saya ini, saya kondisikan jadi pengusaha. Kalau nanti nggak jadi pengusaha nggak apa-apa, passion urusan belakang. Yang penting jangan biarkan sampai mereka punya tahun yang terbuang seperti saya, untung bisa bangkit.

Yang kedua, ketika seseorang mau pindah kerja, umumnya emosi. Hati-hati, pengalaman saya membuktikan yang gegabah justru terjungkal. Saya ketika itu memecah pekerjaan, satu saya kerja di Animale dan satu investasi di money changer yang dijalankan oleh orang lain. Setelah punya duit, baru lompat. Perhitungan waktu itu, saya mulai dengan usia cukup muda 30 tahun, jadi hitungan saya, kalau 4-5 tahun usaha saya gagal, saya bisa mundur, dan saya masih punya pilihan, mau jadi manager di bank mana juga masih bisa. Jadi jangan ngawur! Saya butuh 3-4 tahun untuk merasa yakin bahwa ini adalah pilihan yang tepat.

Dalam waktu 5 tahun, BPR Lestari sudah menjadi local champion, itu cukup cepat untuk sebuah industri perbankan terlebih mengingat bank ini hampir kolap sebelumnya?
Tahun 2005 aset kita 50 milyar, waktu itu BPR yang nomer satu kalau nggak salah BPR Pedungan, dan bisa kita lewati. Bagi saya, perusahaan itu harus tumbuh, you either grow or you die. Kalau nggak tumbuh, nggak ada capital yang di investasikan kembali, kalau nggak ada investasi lagi, maka peralatannya out of date, tidak mengalami pembaruan, orangnya pun nggak akan tumbuh. Kecuali, kalau bisnisnya memang mau dipailitkan. Lestari tahun 2011 gross profitnya Rp 30 miliar, net Rp 22 miliar. Yang dibagi devidennya cuma 7,5 miliar, yang Rp 15 miliar di investasikan kembali.

It’s All Just a Beginning
Dengan investasi tersebut, berarti road map kedepan Lestari masih panjang. Apakah pencapaian ini baru awal?
Target kita dari sisi aset, tahun 2012 ini Rp 1,5 Triliun, tahun depan 2013 Rp 2,25 Triliun, tahun 2014 itu Rp 3 Triliun dan 2015 nanti mencapai Rp 4 triliun sesuai visi 2015 kita. Jadi iya, ini baru awal. Dimana-mana hujan turun itu rintik-rintik duluan, baru nanti deras. Jadi sekarang masih kecil, rintik-rintik dulu.

Selain pertumbuhan aset, apa rencana Lestari ke depan?
Saat ini kita sedang menyiapkan rencana untuk ekspansi ke daerah lain. Kita dalam tahap menuju kesana, kendaraannya sudah ada, kita sudah punya Lestari Capital, jadi kendaraannya sudah siap, kami rencana start per tahun 2013, daerah pertama di Jatim dan Lampung.

Harapannya kemudian kita bisa ada dimasing-masing propinsi, dan bukan cuma jadi bank kecil, tapi local champion dikelasnya, kalau nggak no 1 ya no 2. Saat ini sudah ada BPR yang melakukannya, mereka bisa. Tapi masih kecil skalanya, tapi kalau digabungin gede juga mereka. Ini artinya sudah ada yang melakukan dan mereka bisa.

Kenapa memilih Jatim dan Lampung, ada pertimbangan tertentu?
Karena kita punya partner disana, owner Lestari itu ada yang dari Jatim, yaitu pak Eddy, dan Eric dari Lampung. Keduanya pebisnis, jadi kalau saya kesana tidak dengan tangan kosong, karena mereka sudah tahu daerah, punya network, jadi medannya nggak terlalu susah. Jadi kita ingin mulai dari yang gampang dulu, nanti kalau sudah berhasil baru tingkat kesulitannya kita tambah.

Bagaimana langkah teknis memulai ekspansi ini, khususnya perijinan dari BI?
Kemarin kita test, Bank Indonesia membolehkan kita buka BPR baru, tapi kalau nggak boleh, ya kita beli. Kita ini pengusaha, pengusaha itu mengusahakan yang tidak ada menjadi ada, yang nggak bisa menjadi bisa dan yang nggak mungkin menjadi mungkin. Itu pengusaha. Nanti kita akan pertimbangkan mana yang lebih efektif, apakah membeli atau membuka yang baru, yang paling murah paling fleksibel dan sebagainya. Kita pertimbangkan nanti.

Untuk Brand?
Rencananya brandnya tetap Lestari, kita sudah patenkan tuh, jadi nggak boleh lagi ada Lestari Jatim, karena itu sudah punya kita, Lestari Jateng sudah punya kita. Nantinya akan kita kembangkan dengan brand tersebut, jadi Lestari Kaltim, Lestari Lampung dan sebagainya.

Mengapa sebagian besar lokasi ekspansi di daerah?
Ada yang bilang saat ini masyarakat kita itu 4 M, mobile, magnum, middle, macchiatos. Itulah kelompok masyarakat sekarang, kelompok middle class yang rela beli secangkir kopi seharga Rp 30 ribu, camilannya Magnum dan kemana-mana gadget nya online. Makanya Starbucks penuh terus, dan kelompok middle class ini sekarang ini jumlahnya sekitar 50 juta.

Mereka dari kelompok yang dulunya miskin naik ke menangah bawah, dan nanti, menengah bawah akan naik ke menengah tengah, nah mereka ini ada didaerah-daerah. Bukan di kota-kota besar, dan ini prospek. Seperti Hermawan Kartajaya bilang, orang kaya baru ini belum kaya, tapi sudah genit.

Debirokrasi

Apakah nanti business modelnya sama, bukankah ditiap daerah karakternya berbeda?
Maunya, business model yang kita coba disini akan kita copy disana, kita sekarang running dengan 230 orang karyawan, dengan aset Rp 1 triliun, itu artinya rasio orang per aset sudah cukup baik. Produktifitas orang per aset ini yang kita cari, kuncinya ada diproduktifitas. Kita tidak bisa mengandalkan tenaga kerja murah, tapi yang produktif, dan kita happy dengan model Lestari saat ini, dimana aset Rp 1 Triliun dengan 230 orang. Berarti 1 banding 5, nanti akan menjadi orang 1 : 8, jadi 1 orang akan akan mengelola Rp 8 miliar aset. Yang di Bali berhasil, ditempat lain kita belum tahu. Makanya kita mau coba, gimana hasilnya kita lihat nanti.

Rasio ini lebih mengedepankan sales force?
Kalau dulu yang namanya bank itu back officenya banyak, padahal back office itu nggak create income, makanya kenapa tidak jumlah sales nya yang harus dibanyakin. Menurut saya rasionya harus 1 banding 1 antara back office dan sales.

Dengan rasio tersebut, maka processing nya harus otomatis, IT harus masuk disitu, dan size perusahaan nggak boleh terlalu gemuk. Supaya efektif, karena kesulitan mengelola 400 karyawan, tidak sama dengan menglola 200 karyawan. Richard Branson bilang, kalau mengelola 400 karyawan itu tidak sama dengan dua kali mengelola 200 orang karyawan. Karena itu harus dibagi menjadi 2 perusahaan, supaya mereka bisa beroperasi dengan efektif. Karena dengan jumlah orang yang banyak, maka butuh birokrasi, tapi end of the day birokrasi ini bisa menghambat growth, membuat perusahaan tidak fleksibel, lambat dan kaku. Padahal pasar bergerak dinamis, berubah drastis. Jadi langkah selanjutnya debirokrasi, jangan terlalu berbelit-belit, harus tetap efektif.

Dengan berkurangnya tenaga backoffice, IT sangat berperan besar, bagaimana kesiapan Lestari untuk hal ini?
IT untuk processing atau kita sebutnya core banking, seperti menghitung bunga, mendebet dan segala macam itu. Dan kita baru upgrade tahun kemarin dengan standar yang memadai, hardware kita pakai mini, kalau dulu masih PC server. Diatas mini ada mainframe, jadi core banking kita sudah memadai untuk menghitung, maka next step kita tambah channel, apakah bisa bikin mobile banking dan sebagainya.

Karena sekarang ini kita punya mainan baru, namanya Jumbo. Problemnya banyak, dulu bank sepi, sekarang ramai, karena Jumbo ini memberikan layanan transaksional, so back office, security dan teller harus sanggup, kalau banyak transaksi dan ada kesalahan bagaimana? Ini permainan yang jauh berbeda. Untungnya proses ini nggak langsung berhasil, jadi harapannya ada learning curve, sambil berjalan sambil kita benahi prosedurnya. Ya SOP, orang-orangnya dan lain sebagainya. Makanya tahun ini saya bilang tahunnya operasional.

Apakah ini juga alasan mengapa Lestari tidak terjun di micro finance, padahal banyak bank terbaik saat ini yang memiliki layanan tersebut?
Satu produk itu bisa dilihat dari banyak sisi dan bisnis kecil itu memiliki banyak keterbatasan, menurut saya memutuskan menentukan apa yang dikerjakan, sama pentingnya dengan me-mutuskan untuk menentukan apa yang tidak dapat dikerjakan. We are not going that way, mana yang mana yang benar, mana yang salah, we will never know, time will tell.

Tapi kalau dilihat lebih detil, saya belum lihat micro finance yang sukses, kebanyakan mereka besar karena dari corporate nya, bukan dari produk micro nya. Jadi ini ibarat ember yang diisi air, dibawah diisi dengan batu besar, tapi batu besar ini tidak stabil, maka diisi kerikil, lebih baik tapi masih belum stabil juga, maka kemudian diisi pasir untuk memperkuat. Tapi yang menghiasi sebagian besar isi ember adalah batu besarnya, namun yang membuat kokoh adalah krikil dan pasir.

Makanya kita masuk ke transaksional lewat Jumbo, ya itu krikilnya buat kita, karena kita belum sanggup ke micro, cost-nya tinggi. Bank lain bisa karena pakai teknologi. Jadi itu pilihan bisnis. Karena resources itu tidak unlimited, waktu, people dan capital terbatas, pada saat menghadapi segala yang terbatas, yang kita lakukan adalah skala prioritas. Apalagi kita yang kecil, perusahaan kecil strateginya harus fokus.

Bagaimana dengan program Lestari Mebanjar?
Perang itu nggak pernah dimenangkan pertempurannya lewat serangan udara, yang memenangkan perang itu marinir. Lestari mebanjar itu adalah marinir kita, yang ini gerakan untuk menguasai sejengkal demi sejengkal pasar, di Denpasar ada 400 banjar, dan lewat Lestari mebanjar kita cari agen untuk memasarkan produk kita yang mewakili setiap banjar.

Sekarang sudah ada 50 agen, ada beberapa pemikiran yang melandasi ini, pertama banjar adalah komunitas terkecil, dan jika setiap banjar ada agennya, maka kita punya channel disana. Dan kedua, orang kalau mau pinjam uang paling cepat biasanya ke orang yang dikenal. Dengan adanya agen kita, maka ini bisa menjadi salurannya. Disini kita bersaing dengan koperasi atau LPD. Dan agen tersebut cuma terima telepon dan tinggal menghubungi kami. Nanti kita yang akan follow up. Harapannya nanti, ini program untuk para ibu, kita memberdayakan dan mereka bisa membantu ekonomi keluarga. Jadi, ini indah secara teori, everybody happy, masyarakat yang nggak bankable, tapi karena dapat rekomendasi dari agen kita, maka bisa kita kasih kredit. Lumayan potensi mereka bisa mendapatkan hingga Rp 100 juta. Tapi ini masih awal, hasilnya belum kelihatan, jadi kalau sudah berhasil, baru nanti bilang kalau Lestari ke mikro. Ini masih memperkenalkan diri dan jauh lebih murah daripada saya bikin banyak kantor. Karena memberikan komisi itu kan variabel cost, jadi saya bisa masuk ke mikro dengan biaya yang rendah. Sekarang ide ini sudah bagus, tinggal eksekusinya.

Over The Horizon

Selain Lestari, ada bisnis lain yang saat ini hendak dikembangkan?
Saat ini, laba kita Rp 22 Miliar net, jadi kita punya banyak dana untuk di investasikan kembali. Saya memilih membuat bisnis yang sudah ada marketnya, yang kompetisinya rendah, ini mencontoh BPR Lestari, dan saat ini ada 2 industri lagi yang seperti itu.

Pertama kesehatan dan kedua pendidikan. Kita harus start small dulu, buat yang kecil karena resikonya juga kecil, jadi kalau gagal nggak rugi banyak, jadi buat dulu dengan format yang lebih ekonomis dan masuk akal, karena belum punya pengalaman, tapi kalau berhasil baru kemudian kita duplikasi. Jadi bisnis modelnya yang gampang di duplikasi. Saat ini saya mempersiapkan membuka Klinik, praktek dokter bersama, yang nggak harus mewah tapi convinience dan bisa di duplikasi. Karena nggak banyak klinik yang seperti ini.

Nanti kalau sukses, kita akan bikin 5 klinik, dan jika sukses semuanya akan kita duplikasi jadi seratus, kira-kira gitu idenya. Bisnis itu ada learning curve-nya, jadi bisa sambil belajar bertahap. Saya investasi ini lakukan karena ada orangnya, man power yang punya passion disana. Jadi semua bisnis saya karena sudah ada orang-orang yang memiliki passion disana, yang bisa mengoperasikan bisnis tersebut agar sukses. Kalau sudah ada orangnya, connect chemistry-nya, ya jalan. Nantilah, tahun 2015 kita ngobrol lagi dan lihat, apakah bisnis-bisnis ini berhasil atau tidak.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *