MENU

by • May 2, 2012 • InterviewComments (0)100

Interview With Ayu Laksmi

Awal karirnya sendiri sudah dimulai sejak usia 4 tahun, dan tetap konsisten mengasah talenta seninya sembari bekerja di dunia industri hiburan. Namun album keduanya yang rilis di tahun 1991 justru gagal dipasaran, wanita kelahiran 25 November 1967 di Singaraja-Bali dengan nama I Gusti Ayu Laksmiyani ini pun kemudian memutuskan untuk pulang dan melanjutkan kuliahnya di Bali. Memulai lagi dari panggung-panggung kecil, bernyanyi di kafe, hotel, bahkan pernah membuka usaha musik bar kecil-kecilan. Ayu juga sempat berpetualang sebagai penyanyi di kapal pesiar dan mengarungi lautan Karibia.

Dengan konsistensi tersebut, perlahan “masa gelapnya” tersebut berhasil disisihkannya, mulai tahun 2004, Ayu menemukan titik balik dalam karirnya. Menciptakan beberapa komposisi musik dengan warna yang berbeda dari karya-karya sebelumnya. Bahkan sempat memasuki dunia seni peran. Di bawah arahan sutradara kenamaan Garin Nugroho dalam film “Under The Tree”, ia memperoleh penghargaan sebagai salah satu nominator pemeran utama wanita terbaik FFI tahun 2008.

Beberapa world music festival sering menampilkan dirinya, dimana kidung sakral yang ia nyanyikan mendapat apresiasi yang luar biasa. Hal yang kemudian mendorongnya untuk menelurkan album “Svara Semesta”, yang kali ini Ayu menjadi produser dan menulis hampir seluruh lagunya sendiri. Lagu-lagunya dipopulerkannya dengan istilah World Music, tertulis dalam 5 bahasa, terdiri dari Bahasa Sansekerta, Kawi, Bali, Indonesia dan Inggris. Sebagian besar karyanya berlandaskan konsep Tri Hita Karana, bercerita tentang hubungan cinta kasih antara manusia dengan manusia, manusia dengan semesta, manusia dengan Tuhan.

Memulai dari puncak, terhempas dan kembali bangkit, Ayu Laksmi Coming out of the Dark. Di kediamannya yang bernuansa klasik, Ayu menceritakan dengan penuh canda, berikut penuturannya kepada Arif Rahman dan berbagai sisi dirinya dalam jepretan kamera yang kami tampilkan secara eksklusif untuk Anda.

 

Bagaimana awalnya hingga terjun ke industri hiburan?

Wah, ceritanya panjang, saya sudah kenal panggung hiburan sejak usia 4 tahun. Sepertinya, I was born to be an artist. Walaupun saya pernah mencoba jadi pengusaha macam-macam, tapi hati saya belum di sana. Hati, guna dan karma saya di seni. Orang bijak bilang, “bekerjalah sesuai dengan guna dan karma, itu yang menjamin hidupmu bahagia.” That’s true. I’m happy, grateful dengan talenta yang diberikan oleh Tuhan.

Sejauh ini Anda termasuk salah satu yang sanggup eksis di industri musik yang ketat, bahkan meraih prestasi. Bagaimana bisa mencapai hal tersebut?

Semua hal mungkin. Where there’s a will, there’s is a way. Jalan dan kemauan. Saya berupaya untuk berproses, berkarya, bekerja, dan tidak pernah berharap ini kerja untuk apa, untungnya apa. Saya senang bergerak, dinamis, tapi focus on one thing, total. Saya suka mengerjakan satu hal tapi serius, dengan seluruh daya budi. Jadi mungkin kesimpulannya, setia pada pekerjaan alias konsisten bahasa kerennya.

Namun di Bali lebih dikenal dengan industri pariwisatanya?

Justru itu, Bali sebagai tourist destination utama di dunia membuat seniman sudah merasa puas dengan apa yang diperolehnya saat ini, padahal masih bisa berbuat lebih. Banyak seniman berkualitas yang akhirnya bermuara menjadi entertainer di hotel atau cafe-cafe. Hal ini memang mengasyikan, tapi kalau kelamaan bisa jadi membuat kita lupa untuk berkarya. Bukan berarti tak boleh dilakukan, malah sangat baik untuk melatih diri. Jadi saat ini semua punya kemungkinan untuk bersaing di kancah nasional, apalagi dengan adanya teknologi sehingga recording menjadi lebih mudah. Saya pun pernah bernyanyi dari hotel ke hotel, cafe ke cafe, tapi sekarang tidak lagi, karena saya ingin tampil dengan karya original yang mengedepankan budaya kita sendiri.

Namun banyak musisi Bali yang tidak sanggup go national, mengapa?

Yang paling menjadi kendala di luar hal kualitas, kebanyakan musisi Bali atau musisi dari luar Bali yang tinggal di Bali sebenarnya sangat berpeluang menjadi artis besar di kancah nasional, tapi tidak mau tinggal di Jakarta, karena sudah merasa enak tinggal di Bali. Termasuk saya juga sih, banyak orang yang menyarankan sebaiknya tinggal di Jakarta saja. Dulu saya pernah coba tinggal di Jakarta selama 2 tahun, tapi my soul unhappy, now I live in Bali dan tetap berkarya dari Bali. Tapi tak perlu khawatir, kalau kita beda, biar dimanapun berdomisili pasti tetap dicari.

Permasalahan musisi di sini, networking terbatas alias boleh dikatakan kurang mau bergaul. Para pencari bakat atau pemerhati musik Bali kurang ada yang jengah, kurang mau memperjuangkan artis lokal Bali sehingga terkesan artis berjuang sendiri. Di samping itu sebagian besar komponen yang ada pada sibuk menjaga menara gadingnya masing-masing, sehingga terkesan asyik di komunitasnya saja. Ada baiknya kita perlu melihat dan mendengar karya dari seniman lainnya, dan bergaul serta membuka diri dengan komunitas seni lainnya, sehingga dengan sendirinya terbentuk sebuah hubungan yang berpeluang membawa kita kepada peristiwa yang kita inginkan.

Tentunya bukan karena pendapatan di industri musik yang belum bisa menunjang hidup?

(Ayu langsung tersenyum) Jadi teringat sama nenek yang khawatir dengan hidup saya ketika memilih hidup sebagai seniman. Hidup dari musik sangat bisa. Semua yang melekat dalam diri, saya peroleh dari seni. Hanya memang kita perlu bersikap profesional dan juga educate orang-orang yang kita hadapi agar juga berperilaku profesional. Dulu saya mengerjakan semua sendiri, dari urusan pemanggungan sampai uang. Tapi saat ini, saya dikelola oleh management Dadisiki Pro Bali sehingga saya bisa total fokus di karya.

Bagaimana menyikapi persaingan saat ini yang kian ketat, terlebih ketika memproduksi karya bisa dilakukan dengan mudah dan murah sehingga proses perkembangan artis cenderung tidak beranjak?

Itu semua bergantung pada kapasitas dari seniman itu sendiri, dan juga standar sebuah produk mau dibuat seperti apa, tapi dalam album saya Svara Semesta, dari segi membuat karya mungkin mudah karena saya mencipta lagu saya sendiri, walau lagu lagu saya boleh dikatakan sederhana. Tapi kalau murah, wah, buat saya mahal banget nih…, tapi ya bergantung pada situasi dan kondisi serta kapasitas dari si seniman itu sendiri, kalau album saya boleh dikatakan biaya produksinya cukup mahal, mahal untuk keadaan finance saya ya.

Tetap berusaha dengan keterbatasan?

Saya berjuang dengan cara saya sendiri, menghargai karya orang lain walau mereka memiliki warna yang berbeda. Bahkan dengan berbagai keterbatasan musikalitas yang saya punya, saya terus menerus mencoba berproses, mencari apa yang terbaik dan pantas buat saya, dengan kata lain berupaya menemukan jati diri, sehingga kita menjadi yakin dengan apa yang kita pilih merupakan pilihan yang benar dan on the right track.

Album terbaru Anda Svara Semesta, jedanya sangat panjang dengan yang pertama?

Mimpi besar saya baru bisa terwujud setelah 18 tahun, “better late than never”, album idealis Svara Semesta ini saya wujudkan secara independent, self producing dengan packaging yang katanya orang “sangat exclusive”. Mulai membuat lagu, arrangement, memilih music director, musisi, mendesign cover, menulis CD booklet, sampai proses mixing mastering. Saya tidak akan sebut nilai pembuatan album ini berapa, yang jelas boleh dikatakan cukup mahal untuk sebuah produksi album idealis made in Bali, tapi di balik itu semua saya berkeyakinan bahwa membuat karya itu adalah hal yang sangat penting dan utama jika memang telah memilih hidup sebagai seniman.

Dalam album terbaru ini, Anda memperkenalkan World Music yang sangat unik, bagaimana dengan respon pasar?

Awalnya memang sulit, namun perlahan mulai mendapatkan tempat, kemarin saya mendapatkan undangan untuk perform di KTT mentri-menteri dan juga beberapa acara setara internasional. Saat ini orang ke Bali demikian mudah dan berkali-kali, dan ajang-ajang kelas internasional juga kerap di gelar disini, dan mereka bosan dengan penampilan seni daerah yang itu-itu saja. Itu sebabnya saat karya Svara Semesta mendapat perhatian lebih, karena merupakan seni budaya tradisional yang ditampilkan secara modern. Ini menarik untuk mereka.

Kira-kira akan seperti apa perkembangan musik Bali secara keseluruhan ke depan?

Perkembangan musik di Bali, dari tahun ke tahun selalu menunjukkan perkembangan ke arah yang lebih baik. Ini bisa dilihat dari banyaknya festival yang diadakan, seluruh aliran musik mendapatkan tempat masing-masing, baik rock, jazz, blues dan lain-lain. Sementara itu, sudah banyak grup-grup musik indie di Bali yang mendokumentasikan karya-karyanya dalam bentuk CD album, dengan massa atau penggemarnya masing-masing. Dan persaingan antara musisi yang terjadi di Bali berjalan indah, karena terjadi dalam karya, bukan personal. Antar musisi bekerja sama dalam karya, saling mendukung dan mengisi untuk melahirkan karya-karya yang lebih beragam dan variatif.

Terakhir, program kedepan apa saja selain kegiatan saat ini yang belum tercapai?

Program saya ke depan adalah tetap berjalan dengan proyek Svara Semesta, yang mendengungkan tema penghargaan terhadap keberagaman dibalut genre world music. Rencana yang belum tercapai banyak banget, tapi biarlah saya sendiri menyimpan keinginan saya itu. Tapi saya akan tetap berupaya creative dan innovative, semoga diberikan jalan dan selalu ada inspirasi dari sang Creator.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *