MENU

by • May 3, 2012 • Startup JournalComments (0)81

Interview With Bobby “Superman Is Dead”

Di kancah musisi dengan format band, nama Superman Is Dead atau biasa disebut SID adalah sedikit band yang mampu menancapkan kukunya dipasar nasional bahkan manca negara. Grup punk rock asal Kuta, Bali yang digawangi oleh Bobby Cool (vokal), Eka Rock (gitar) dan Jerinx (drum) tetap konsisten menelurkan karya-karya mereka sekalipun saat ini pasar lebih menyukai lagu-lagu pop melayu sebagaimana saat ini tengah booming. Nama Superman Is Dead, yang memiliki makna filosofis bahwa bahwa tidak ada manusia yang sempurna, mengawali karir bermusik mereka pada tahun 1995, ketika itu warna musik mereka sangat kental dengan pengaruh dari luar seperti Green Day dan NOFX.

Sebelum digaet oleh Sony Music Indonesia, SID lebih banyak merilis albumnya dalam bentuk indie label. Beberapa yang pernah diluncurkan secara indie adalah Case 15 (1997), Superman Is Dead (1998) dan Bad Bad Bad (2002). Sedangkan album yang berada di bawah major label Sony yakni Kuta Rock City (2003) yang kemudian meledak dipasaran, The Hangover Decade (2004) dan Black Market Love (2006). Dan pada tahun 2009 lalu, SID merilis album terbarunya yang bertitel Angels and Outsiders! Menjagokan single Kuat Kita Bersinar.

Langkah fenomenal SID bisa disebut berawal pada Agustus 2002 saat mereka menjadi band pembuka Hoobastank di Hard Rock Hotel, Kuta, Bali. Kemudian pertengahan September 2002 SID sukses tampil di Senayan pada acara Puma Street Games. Berlanjut pada beberapa penampilan lainnya hingga mereka diwawancara oleh MTV Sky, M97 FM, Prambors dan diekspos oleh hampir seluruh majalah remaja populer nasional. Di Majalah Hai edisi tahunan 2002-2003 misalkan, SID bersama Rocket Rockers disebut sebagai The Next Big Thing. Bahkan oleh oleh MTV Trax SID dinobatkan sebagai band potensial pada tahun 2003. Bagaimana mereka mencapai semua itu, dan apa proyek mereka berikutnya, Bobby sang vokalis, yang juga kemudian berkecimpung dalam dunia bisnis clothing dan recording, menuturkannya kepada saya.

Bagaimana awalnya bergabung dengan SID?

Awalnya Saya bertemu dengan JRX (drumer), di rumahnya gang Poppies 2 Kuta, kemudian kami ber-jamming lewat lagu-lagu Green Day. Pada saat itu saya sangat senang bisa main band dan hampir setiap hari datang ke gang Poppies 2 Kuta untuk jamming. Beberapa bulan kemudian kami bertemu dengan Eka Rock (bass) dan resmilah SID terbentuk pada tanggal 18 Agustus 1995. Seiring waktu kami memutuskan untuk membuat lagu ciptaan sendiri dan mencoba unjuk gigi di beberapa acara musik lokal di Denpasar dimana pada saat itu antusiasme penonton sangat bagus terhadap penampilan kami.

Apa yang sudah dilakukan SID hingga bisa bertahan di industri ini bahkan semakin besar, mengingat sedikit dari band lokal [bahkan nasional] yang mampu berbicara dipentas internasional?

Selain kerja keras dan fokus ke musik, kami konsisten menelurkan album, dan sampai sekarang sudah ada 7 album, 3 dari album indie dan 4 bersama major label yang bernaung di bawah Sony Music Indonesia. Kemudian manggung dari seputaran Bali, luar pulau Bali dan sampai luar negeri. Hal yang terpenting adalah semangat, eksistensi, kerja keras, disiplin serta didukung oleh manajemen yang solid, itu yang membuat kami bisa mencapai itu semua.

Mampu go national bukan perkara mudah, selain SID rasanya belum banyak yang sanggup melakukannya dari musisi Bali?

Memang tidak mudah kalau hanya bisa berharap, memiliki konsep, misi dan manajemen merupakan trigger kita untuk go national, mulai dari penulisan lirik yang membangun serta belajar untuk menalar sesuatu yang akan kita tuangkan dalam lirik lagu.

Adakah konsep marketing dan bisnis yang dilakukan SID selama ini?

Saat ini kami hanya merapikan manajemen perusahaan yang kami kelola, dan masing-masing mempunyai kemampuan untuk mengelola dan mengembangkan itu semua. Saya mempunyai tugas di bagian design atau art work, JRX di bagian publikasi dan propaganda yang dituangkan lewat media-media seperti website, sementara untuk media elektronik dikelola oleh Eka Rock.

Dengan terbukanya sekat informasi, menjadikan bisnis musik saat ini demikian berkembang dengan pesat. Apakah hal ini juga memberikan dampak bagi SID?

Sangat berdampak besar bagi kami, disini kami bisa melihat, berkomunikasi, memberikan data-data, menerima masukan, kritik atau saran.

Apakah pegiat seni khususnya di Bali saat ini sudah bisa menjadikan musisi sebagai profesi?

Saya kira saat ini belum bisa, terutama di pegiat seni musik, karena masih banyak musisi-musisi yang mempunyai perkerjaan sampingan dan menjadikan pekerjaan di musik hanya sebatas hobby.

Bagaimana dengan SID, dari mana saja porsi terbesar pendapatannya?

Konser atau pentas panggung yang terbesar, hampir 70%, penjualan merchandise sekitar 20% dan sisanya dari penjualan album [CD atau Kaset], penjualan lagu via Internet, bintang iklan dan RBT.

Saat ini dalam sebulan berapa kali manggung?

Rata-rata 3 kali sebulan.

Berapa total penjualan album-album SID saat ini khususnya yang terakhir?

Sampai saat ini untuk penjualan fisik album SID, menurut informasi dari Sony Music masih menempati posisi pertama diantara seluruh artis di Sony Music Indonesia

Bagaimana dengan royalti dari RBT?

Pendapatan dari RBT menurut saya hanya bonus saja, tidak terlalu mempengaruhi pendapatan dari SID seperti dari konser dan merchandise

Rasanya banyak album SID yang dibajak, bagaimana bersikap pada pembajakan tersebut?

Sepertinya bukan wilayah saya untuk menghapus para pembajak di muka bumi ini, tetapi wilayah penegak hukum, dan kami hanya bisa mendukung. Dan saat ini saya masih prihatin terhadap kebrutalan para pembajak “seolah Tuhan pun tidak bisa mengatasinya”

Bagaimana pendapat Bobby pada perkembangan bisnis musik saat ini di Bali?

Masih saja pasang surut tetapi pantang untuk menyerah, apalagi mati.

Genre musik pop Bali juga saat ini tengah trend, ada pendapat soal ini?

Saya kira setiap genre musik ada pasang-surutnya, tetapi attitude dan genre yang kita suka pasti selalu melekat dan akan kita bawa sampai mati, dan musik apapun yang sedang berkembang saat ini adalah sebuah seni.

Saat ini Bobby memiliki usaha clothing dan juga studio rekaman, dari tahun berapa memulai bisnis ini mengapa menggeluti usaha ini?

Saya membuka usaha clothing dengan brand milik sendiri yakni Electrohell mulai dari tahun 2003, mengingat pada tahun itu di Bali banyak di dominasi trend produk surfing, susah sekali mendapatkan brand clothing yang konsepnya musik dan life style. Setahun kemudian saya membuka usaha recording yang bernama Electrohell Audio Recording, untuk mendukung band Bali supaya bisa membuat album dengan kualitas skala nasional tanpa harus pergi ke industri besar Jakarta. seperti SID pada saat membuat album pertama yang kami garap di studio yang saya buat sendiri.

Bagaimana perkembangan usaha clothing tersebut hingga saat ini?

Menurut saya usaha clothing saya yang sudah berjalan 9 tahun ini berkembang secara perlahan namun pasti dan semakin meningkat. Saya masih terus berusaha belajar dan meningkatkan kualitas produksi supaya bisa memenuhi standar international karena clothing saya bergelut di persaingan brand international.
Dengan adanya studio rekaman, apakah Bobby juga berperan sebagai produser?

Karena saat ini totalitas saya masih di SID dan clothing, maka untuk saat ini memproduseri band-band di Bali belum bisa fokus dan terlaksana. Pada awal berdirinya studio rekaman saja saya sempat mengeluarkan beberapa album band dan kompilasi.

Band atau artis mana yang sudah diorbitkan?

Navicula, The Hydrant, Kaimsasikun, Maximum Rock ‘N Roll Monarchy, The Bulhead

Apa yang menjadi nilai tambah dari studio tersebut ketimbang kompetitor atau usaha sejenis lainnya?

Studio kami banyak memberikan masukan dan ide-ide terhadap band-band lokal yang belum berpengalaman membuat musik dengan kualitas skala nasional. Selain itu kami didukung oleh sound engineer yang sudah berpengalaman mengerjakan band-band skala nasional.

Adakah rencana lain kedepan untuk SID, clothing dan studio rekamannya?

Untuk SID meluncurkan album kedelapan, untuk usaha clothing meningkatkan kualitas produknya dan studio rekaman mengeluarkan kompilasi album band di seluruh Indonesia.

 

 

 

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *