MENU

by • June 3, 2012 • InterviewComments (0)317

Interview With James Gwee

James Gwee, rasanya kebanyakan orang sudah mengenal baik nama tersebut, seorang public speaking yang telah dipercaya banyak perusahaan untuk berbagi pelatihan khususnya berkaitan tentang sales. Namun siapa sangka bahwa lulusan National University Singapura ini dulunya expert di bidang IT?

Peluang sebagai trainer kemudian ditekuninya setelah melihat profesi ini di Indonesia belum banyak diminati. Dan benar saja, profesi tersebut mengantarkan dirinya sebagai pembicara kelas wahid. Saat ini, dengan segudang pengalaman dan kemampuannya, James Gwee mencoba berbagi melalui kegiatan sosial untuk kalangan remaja. Bagaimana sesungguhnya perjalanan karir pria ini dan apa yang menjadi cita-citanya saat ini? Ketika saya temui di sela-sela acara seminarnya, pria ini bertutur akan visinya?

Ceritakan bagaimana Anda mengawali karir?

Saya lulus dari National University di Singapura dengan background gelar IT, jadi ada dua pilihan waktu itu untuk berkarir, pilihan pertama adalah seperti umumnya jalur utama yaitu bekerja sebagai seorang programmer, kemudian nanti karir tersebut berlanjut menjadi specialist IT atau manager IT Departement. Dulu sambil saya kuliah, saya juga terlibat di lembaga kursus komputer milik teman yang saat itu kami masih di Singapore. Waktu itu saya freelance mendemokan pentingnya komputer untuk anak SMP dan SMA. Saat itu tahun 1985, di Singapore masih banyak sekolah belum punya laboratorium komputer. Meski begitu, murid-murid sudah sadar pentingnya ilmu komputer dan saya senang memberi pengajaran kepada mereka.

Apakah menempuh kuliah programming tersebut merupakan pilihan sendiri?

Sewaktu menempuh kuliah programming ada pengaruh dari orang tua, karena mereka menyadari bahwa dimasa depan penguasaan teknologi khususnya komputer itu sangat diperlukan. Oleh karena itu bila ada kesempatan untuk mengikuti kursus komputer, maka manfaatkanlah karena memang ilmu komputer ke depannya menjanjikan. Setelah setengah tahun, seorang teman mendirikan lembaga kursus komputer sendiri dan mengajak saya untuk joint dan turut mengembangkannya. Teman saya yang orang marketing ini nyaman bekerja dengan saya karena spesialisasi saya di bidang komputer khususnya security development, dan saya memiliki keahlian lainnya seperti menjadi trainer untuk mengajar komputer dan membentuk trainer-trainer baru dan mengajarkannya kepada orang lain juga.

Dari sanakah awalnya mulai menjadi public speaking?

Ya, nampaknya seperti itu, dan saya sangat menikmati itu. Lembaga komputer saya yang bernama Microskills saya buat bersama teman-teman tahun 1986. Dan menariknya, hanya dalam waktu dua tahun kita tumbuh pesat sekali, sehingga bisa tampil menjadi Lembaga kursus komputer nmer dua terbesar di Singapore. Di sana kita punya 7 cabang dan rata-rata dalam seminggu ada 4000 anak ikut program kami. Saat itulah ada seorang teman dari Indonesia yang berkeinginan untuk membuka lembaga kursus komputer tersebut di Indonesia, dan akhirnya kita bekerja sama dan membuka franchise di Jakarta. Kerja sama kita sukses dan melanjutkan lagi buka kursus di Surabaya.

Selang tiga tahun kemudian kita melebarkan sayap ke kota Medan, di kota inilah lembaga kursus kami mengalami kemajuan pesat, dari yang semula hanya lembaga kursus komputer biasa, step by step di upgrade menjadi perguruan tinggi. Jadi boleh dibilang franchisee lebih hebat dari franchisor, dan ini adalah salah satu buktinya. Dan yang terpenting dalam mengembangkannya itu serius dan dengan cara-cara yang briliant. Untuk perguruan tinggi komputer di Medan ini, akhirnya secara struktur terlepas dengan Microskills Singapore karena modul belajar yang digunakan sudah jauh berbeda. Meski begitu persahabatan tetap berjalan dengan baik dan saling mendukung satu sama lain.

Kemudian saat itu saya juga sudah lebih fokus dengan segudang kegiatan saya di Indonesia. Selanjutnya saya menjual saham Microskills ke pihak yang bersedia mengembangkannya lebih lanjut. Begitulah cerita tentang lembaga kursus komputer Microskills dan sekarang berkembang dengan sangat baik di kota Medan dengan bentuk yang baru berupa perguruan tinggi.

Sukses melahirkan dan mengembangkan Microskills, kenapa kemudian dilepaskan?

Karena waktu itu saya ingin mengembangkan diri saya sendiri di Indonesia, makanya saya melepaskan saham saya di Singapore, dan saya lihat di Indonesia saya lebih exciting. Kemudian berlanjut aktifitas saya dengan memberi consulting kepada lembaga-lembaga kursus komputer yang ada di Indonesia dengan dukungan channel saya yang berada di Inggris. Pada waktu itu tahun 1990-an banyak lembaga kursus yang ala kadarnya, tidak didukung oleh manajemen yang baik dan tidak terakreditasi, sehingga mutu alumni yang dihasilkan sekedarnya dan saya memberitahu mereka bahwa saya bisa meningkatkan kualitas kursus komputer dengan mendapat sertifikasi dari Inggris.

Dari sini saya belajar lebih banyak lagi tentang sifat-sifat bisnis yang ada di Indonesia, saya memulai ini dari nol, saat itu dari segi pendapatan beda jauh, antara income saya di Singapore dengan income saya sebagai konsultan di Indonesia. Di Singapore saya sudah bisa bawa Jaguar dan saya harus melepas itu semua dan berganti mengunakan bus di Jakarta, ya itu semua adalah perjuangan.

Apa yang mendorong Anda menjadi konsultan dan trainer?

Saya selalu memperhatikan service yang diberikan lembaga kursus komputer saat itu. Saya lihat kebanyakan resepsionis belum bisa menjawab telepon dengan baik, dan menjelaskan tentang lembaga kursus juga kurang baik, dan cara untuk menangani komplain pun masih berantakan. Itu yang membuat saya berkeinginan mentraining mereka dengan menghadirkan pelatihan service excellent di lembaga kursus tersebut. Selanjutnya owner dari lembaga kursus komputer tersebut banyak yang mengatakan bahwa training semacam itu sangat diperlukan di Indonesia. Sekalipun training serupa sebenarnya sudah ada di Indonesia, tapi jumlahnya belum banyak.

Saya pun mulai mengadakan workshop dan memarketingkan keahlian saya di bidang training. Pada waktu itu tidak banyak perusahaan lokal yang sadar pentingnya hal-hal seperti itu, sehingga pada umumnya hanya perusahaan asing yang mengirimkan karyawannya untuk menghadiri workshop saya, seperti Coca Cola, DHL dan LG. Jumlahnya pun hanya sekitar 20 orang dan itu sudah cukup luar biasa. Saya lihat disini waktu itu perusahaan asing sudah lebih aware dan rela mengeluarkan budget untuk biaya study karyawannya. Pada waktu itu tahun 1990-an perusahaan lokal masih menganggap remeh training study semacam ini, kebanyakan para pemilik perusahaan berpikir untuk apa membiayai karyawannya untuk belajar kalau sudah pintar kemudian hengkang dari perusahaannya. Tapi kemudian ada juga perusahaan lokal yang mengirimkan orangnya, tapi langsung owner-nya sendiri, kemungkinan nanti dia sendiri yang akan mengajarkannya kepada karyawannya.

Berangkat dari sanalah saya merasa confident untuk membangun perusahaan saya sendiri dan membuka kantor di Indonesia dengan personality brand diri saya. Selanjutnya saya lebih gencar untuk menyebar iklan dan brosur, dan saya beruntung salah satu peserta didik saya waktu itu adalah manager marketing dari radio Smart FM di Jakarta. Dia menawari saya untuk mengisi talkshow di radio, waktu itu masih gratis. Saya bilang oke dan tidak masalah. Karena talkshow yang saya bawakan sangat bermanfaat, maka intensitas pendengar makin meningkat dan orang makin mengenal saya.

Apakah Anda masih ingat saat tampil perdana dengan brand sendiri sebagai motivator ?

Oh ya, saat itu yang hadir hanya 11 orang, dan foto albumnya pun masih saya simpan. Saat itu masih sepi, diantara penyebabnya karena waktu itu masyarakat masih belum mengenal saya, yang kedua karena masyarakat belum tahu manfaatnya. Kemudian masa 10 tahun belakangan ini tingkat kesadaran masyarakat akan pentingnya pengembangan diri makin meningkat.

Dari brand James Gwee kemudian meningkat menjadi Akademia, perusahaan apakah itu ?

Akademia yang dimaksud ini adalah PT. Academia Education & Training yang bersifat open company, kepunyaan saya untuk men support kegiatan saya. Jadi kalau soal brand itu James Gwee, sedangkan PT adalah Academia Education & Training. Selain itu saya juga membuka divisi lain seperti budget training dan Grab Your Audience. Sekarang divisi budget training ini kita ubah menjadi James Gwee Succes Center yang mau saya dirikan sebanyak mungkin di kota-kota Indonesia. Keunggulan dari James Gwee Succes Center itu modulnya langsung dari saya yang sudah teruji 16 tahun di Indonesia dengan tidak banyak menggunakan teori dan lebih kepada ide-ide cemerlang yang masuk akal.

Pada umumnya orang ikut training karena sudah bosan dengan beragam teori seperti di bangku kuliah dan mereka menginginkan tips-tips yang bisa dibawa pulang untuk memajukan perusahaan mereka. Yang kedua, trainer-trainer yang saya rekrut adalah trainer yang praktisi, yang enjoy dengan training dan tentunya yang fun, orang seperti inilah yang telah memiliki syarat untuk bisa tampil di depan, selanjutnya tinggal konten yang saya berikan. Selanjutnya saya juga menyuruh mereka untuk menonton video saya dan silakan untuk meniru mana yang bisa, dan selebihnya silakan improvisasi. Sehingga 70 % dari konten, contoh, gaya dan suasana berasal dari saya, dan seperti inilah duplikasi yang saya lakukan. Dengan begini masyarakat luas yang mengikuti training di cabang-cabang, saya yakin sudah memakai resep saya.

Saat ini sudah ada berapa orang trainer?

Sudah berjalan dengan 20 trainer, semoga tahun ini bisa buka sekaligus 5 cabang di beberapa kota di Indonesia. Menariknya adalah, selama saya menjalankan training yang membuat orang termotivasi, sering muncul pertanyaan, apakah saya juga menyediakan training untuk usia remaja? Karena banyak orang-orang kaya dan sudah sukses tapi memiliki anak yang cuek sehingga ada keinginan mereka untuk membangkitkan semangat anaknya agar tidak malas-malasan. Setelah bertahun-tahun banyak sekali permintaan tersebut, akhirnya saya membuka divisi James Gwee Champion Teens Team yang kontennya saya pakai untuk remaja, dengan contoh dan gaya juga ala remaja dan ini sudah berjalan.

Apa perbedaannya dengan audience orang dewasa?

Segmen teens ini bisa dibilang gampang, bisa dibilang sulit, karena dikalangan ekonomi atas orang tua yang peduli dengan anaknya, menginginkan anaknya untuk belajar dan mereka memiliki dana. Tapi karena anaknya masih remaja dan terkadang menjadi decision maker adalah orang tua, maka kedua pihak harus sepakat untuk menentukan pendidikan si anak dan seperti inilah yang sulit. Tapi kita sudah memiliki pola yang tepat, apalagi kita sudah ada brand nya, dan nanti kita bikin workshop live selama dua hari khusus tentang usia remaja ini, yang kami perkirakan pesertanya 1200 anak dari seluruh Indonesia.

Saya dengar Anda juga memiliki program Champion Teens CARE?

Iya, waktu itu kami berpikir bahwa anak-anak dari kalangan mampu cenderung diberdayakan, tapi dari kalangan tidak mampu cenderung diabaikan. Karena pada umumnya anak-anak dari kalangan tidak mampu setelah lulus sekolah ada 3 kemungkinan, satu dia dapat kerja dan kemudian maju karena sikap dan kerjanya yang baik. Kedua, dia dapat kerja tapi karena sikapnya yang biasa-biasa saja maka kehidupannya juga biasa-biasa saja. Ketiga, karena lama menanti kerja dan akhirnya menjadi pengangguran terus frustasi.

Bila sudah begini, maka cepat sekali pengaruh negatif menyerang dirinya, bila sudah terlanjur rusak biasanya baru kita perbaiki, kalau sudah begini kan kurang tepat. Jadi saya berpikir program ini harus segera dilakukan terutama ditujukan untuk anak-anak SMK, karena setelah lulus mereka berpotensi besar untuk langsung diterima kerja.

Bagaimana dengan biayanya?

Mengingat daya beli mereka yang kurang, maka kita memutuskan program teens ini gratis. Dananya dari donatur yang biasanya kesulitan mengadakan event untuk pemberdayaan masyarakat kurang mampu. Nama program ini kita sebut Champion Teens CARE for the Nation. Akan diadakan selama satu hari, dan dihari berikutnya kita beri para peserta tantangan untuk memberdayakan barang-barang yang ada dirumah dan lingkungan mereka dalam bentuk ide bisnis. Jadi kita membantu mereka untuk mengarahkan ide bisnis yang masuk akal dan bisa dijalankan dilingkungan mereka.

Apakah program ini berkelanjutan?

Ya, bila mereka berhasil kita akan bimbing mereka ke tahap selanjutnya dan kita akan sediakan trainer-trainer terbaik untuk mendampingi mereka. Setidaknya dalam waktu sebulan mereka sudah matang dan tinggal menjalankan ide bisnisnya. Bila bisnisnya sudah terbentuk dan sudah berjalan, akan kita beri modal 300 ribu sampai 500 ribu.

Tahun 2011 kita sudah mencoba ini dan berhasil men training 10.000 anak di 8 kota di Indonesia termasuk Bali. Dari 10.000 anak yang akhirnya bisa jalan dan memiliki usaha bisnis sendiri sejumlah 1000 dan yang benar-benar bertahan hingga sekarang ada 700 orang. Rata-rata penghasilan mereka bisa mencapai 2-5 juta perbulan dan itu dikerjakan sambil kuliah oleh mereka.

Apa saja bentuk usaha mereka?

Ada yang berjualan pulsa, ada yang membuat nugget dan jamu. Ada juga yang membuat kerajinan tangan berupa gantungan kunci. Ada yang lucu, yaitu membuat peternakan landak mini yang mereka jual di pasar, harganya lumayan mahal, kisaran 600 ribu hingga 1 juta rupiah. Jadi menurut saya anak-anak di Indonesia ini punya potensi yang bagus untuk mandiri tapi belum tahu harus memulai darimana.

Ya mereka sebenarnya sumber daya yang memiliki banyak potensi?

Rata-rata mereka ingin jadi pegawai negeri karena faktor pekerjaan yang santai, bila pensiun mendapat uang pensiun. Mereka adalah anak muda yang penuh potensi tapi maunya bekerja ringan dan mendapat banyak uang, ini salah. Maka tugas kami untuk membuka impian mereka dengan memberikan contoh orang-orang biasa yang telah sukses karena kerja keras dan kreatifitas mereka. Mereka terbelalak dan menyadari hal itu, dan ingin tumbuh menjadi seorang entrepeneur.

Mungkin ini sebuah paradigma umum, dimana orang tua ingin anaknya seperti mereka?

Ya, seperti itulah. Karena itu kami berkomitmen tahun ini ingin melayani 40.000 anak di 9 provinsi di Indonesia. Program ini sudah ada kerjasama dengan beberapa pemimpin daerah di Indonesia seperti Palembang, Banten dan Banjarmasin. Saya lihat pemerintah daerah kadang belum memiliki program semacam ini, maka kami tawarkan kepada siapa saja, ayo siapa saja yang mau ikut silakan gabung!

Anda memiliki begitu banyak program dan impian, adakah yang belum tercapai?

Yang belum tercapai seperti yang diawal saya sampaikan adalah membentuk James Gwee Succes Center Go National di seluruh kota di Indonesia

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *