MENU

by • April 30, 2012 • Startup JournalComments (0)66

Interview With Niluh Ary Pertami Founder Niluh Djelantik

Agak sulit bagi saya untuk redaksi Money & I agar bisa bertemu langsung dengan pemilik fashion outlet Niluh Djelantik. Mail dari kami dibalasnya dari Prancis, dan menyatakan baru pulang ke Bali akhir bulan. Mail kedua kami dibalasnya dari Bangkok ketika wanita mantan marketing director Paul Ropp ini tengah menjalin kerjasama dengan perusahaan fashion di negeri gajah putih tersebut. Baru akhirnya disela-sela waktunya yang padat itu, wanita yang membidani lahirnya sepatu merek Nilou yang mengglobal itu berhasil kami temui di pabriknya dikawasan Seminyak. Pemilik nama Niluh Ary Pertami ini kemudian menceritakan mengapa merek sepatunya Nilou yang telah dikenal secara internasional itu justru di likuidasinya. Lho.. bukankah nama itu yang melambungkannya, mengapa dia melakukan hal tersebut?

Kapan dan bagaimana bisa terjun di bisnis ini?
Kita memulainya dari tahun 2003, waktu itu kita mulai memproduksi untuk koleksi tahun 2004. Cuma waktu itu peranku sebagai desainer saja, produksinya dikerjakan orang lain. Namun karena usaha ini masih baru, kita masih meraba-raba jadi masih banyak kesalahan yang terjadi, kualitas yang tidak bagus dan sebagainya. Karena itulah kita kemudian mau coba untuk mena-ngani hingga proses produksinya. Pada tahun 2004, kita beranikan diri untuk sewa tempat yang sebelum kita renovasi sekitar 5×8 meter berlokasi di Jalan Raya Kerobokan No. 144. Dan pada tahun itu daerahnya masih sepi nggak seperti sekarang. Daerah itukan baru mulai booming ramainya ditahun 2007, dan saat itu kamilah yang pertama membuka outlet didaerah tersebut. Karyawannya baru 2 orang saja waktu itu.

Sudah memproduksi sepatu seperti yang sekarang ini?
Belum, masih belum di high heel, kita memilih ke etnik, yang kental nuansa Indonesia. Namun ditahun 2004 itu kita sudah mulai masuk ke Prancis, kemudian Australia dengan merek Nilou. Saat itu retail masih belum ada, kita hanya menawarkan untuk pembuatan 1-2 pasang saja waktu itu. Kemudian perlahan kita mulai kerjasama dengan beberapa desainer baju ternama di beberapa negara, kita buatkan konsep sepatunya yang sesuai, kalau tema bajunya rock & roll, maka sepatunya juga bertema sama yang agak metal-metal gitu, kalau feminim ya.. harus girly, jadi setiap desain harus punya ciri khas tersendiri. Baru belakangan kemudian kami mencoba membuat untuk koleksi, yang saat ini misalkan kita sudah selesai untuk koleksi summer 2012.

Berarti sudah tahu trend kedepan seperti apa?
Prediksi dari kita sendiri, kita cari info misalkan trend warna tahun 2012 dan banyak pula website yang sudah memberikan informasi akan gambaran fashion tahun depan, namun semua balik lagi ke insting kita.

Pernah meleset?
Belum, karena selama ini warna yang kita pilih memang warna yang cukup komersial dan netral untuk dikenakan dengan padanan busana berbagai warna. Bagiku, sepatu itu adalah pelengkap, misalkan seorang wanita me-nyukai warna merah maka akan dengan mudah memilih jenis dan warna sepatu yang diinginkan agar serasi dengan busana yang dikenakannya.

Sepatu itukan produk yang sangat umum, apa yang membedakan antara sepatu Nilou dengan yang lainnya.
Betul, misalkan model sepatu pekerja dari hak 3 cm sampai 5 cm dimana-mana dijual. Namun yang kita buat disini memiliki detil yang berbeda, yang kalau ditiru orang costnya mahal. Bahan dasarnya 100% kulit, itupun kualitas kulit yang halus, makanya harga kita lebih mahal, namun harga itu jujur. Lifetime service, jadi digaransi seumur hidup, kalau misalkan ada hak yang lepas, kapanpun itu bawa saja kemari, semuanya akan kita perbaiki lagi. Hal yang paling penting disini adalah kenyamanan bagi si konsumen, itu sebabnya sepatu belasan juta yang kita beli dari Italia, disini kita bongkar, kita ingin tahu bagaimana sepatu itu bisa nyaman, tapi kita nggak pernah ambil model-nya. Kita cuma mau belajar bagaimana sebuah produk yang bagus itu bisa dijual, dan dari Italia adalah tempat yang tepat untuk itu. Itu sebabnya dari 100 orang yang datang ke outlet kami, mungkin cuma 10 orang yang yang jadi pelanggan, namun 10 orang itu akan jadi pelanggan kita untuk jangka panjang. Bahkan dikesempatan yang lain mereka bisa balik lagi bersama keluarganya, temannya atau koleganya. Buatku, kenyamanan yang paling penting dan sepatu disini, kami buat dengan cinta. Dari cara inilah kami berkembang. Dan itu pula alasannya mengapa kami saat ini sudah tidak lagi menggunakan merek Nilou

Lho..bukannya nama itu sudah begitu dikenal dimancanegara?
Sepatu dari kita dipasarkan lewat dua jalur, yang pertama dengan merek kita sendiri, dan lainnya dengan merek dari agen yang ingin menggunakan brand mereka sendiri. Sepatu yang kita pasarkan dengan merek sendiri yakni Nilou, dipasarkan oleh agen kita di Australia, namun sejak tahun 2007 mereka mau menjual produk lain seperti pernak-pernik yang menggunakan brand Nilou, tapi itu semua bukan produksi dari kita, tapi diproduksi diluar. Mereka memberikan penawaran sebagai pemegang saham. Tapi kemudian aku tolak, karena menurutku itu kurang etis. Produknya bukan dari kita, dan juga tidak diproduksi didalam negeri, tapi menggunakan nama kita. So..aku nggak mau yang seperti itu. Semua produksi dari sini, dibuat dengan cinta, dan buat anak-anak juga [karyawan.red], sehingga hasilnya semua menikmati. Kalau aku pakai business way, maka tawaran itu aku terima dan nama Nilou akan melejit cepat, tapi sekali lagi aku nggak mau yang seperti itu. Akhirnya aku minta nama kita balik dan putuskan untuk menutup nama Nilou tersebut. Sebagai gantinya maka aku keluarkan nama baru, cuma masukan dari customer mereka tetap meminta agar merek sepatunya dengan namaku, akhirnya pilihannya adalah nama keluarga yakni Djelantik. Dan menjadikan ini sebagai trade mark kami yang baru.

Apa tidak sebaiknya nama itu dipertahankan, dan kerjasama dengan agen yang dihentikan?
Sebenarnya bisa saja, walaupun oleh agen kita itu nama Nilou sudah didaftarkan petennya, kita bisa saja mengklaim lagi karena nama Nilou kan sudah kita gunakan dari tahun 2003, dan produknya pun ada, kalau itu semua kita tunjukkan, maka bisa jadi bukti bahwa kitalah pemilik nama Nilou itu. Tapi semuanya bakal repot ngurusnya, dari hal ini kita juga belajar, makanya nama Niluh Djelantik juga sudah kita patenkan. Untuk pasar di Australia pun saat ini kita stop. Sekarang kita re-branding dengan konsep yang baru, namun tetap dengan desain yang sama, bahkan lebih bagus.

Gimana kondisinya sejak re branding, apakah ada dampaknya?
Tetap tidak ada masalah, kita sudah punya basis klien yang kuat. Misalkan untuk di Spanyol, Belgia dan Belanda itu nama merek Niluh Djelantik sekarang sudah ada. Kita bahkan masuk fortune bulan April lalu. Dan tahun ini kita masuk di Forbes, tentang life story dari sisi fashion. Kita juga masuk 50 global brand dari SWA, kemudian entrepenuer kreatif, femina woman of the year, serta majalah-majalah lainnya seperti Tempo dan Gatra.

Saya dengar juga Gisele Bundchen [top model internasional.red] kemarin mampir ke outletnya?
Gisele adalah salah satu pelanggan yang langsung berbelanja dibutik kita di Kerobokan, selain itu Julia Roberts juga memakai sepatu kita dalam filmnya Eat Pray and Love pada saat berada di Bali, awalnya dari kedatangan sang Stylish Mana-ger yang bertugas untuk memilihkan beberapa outfit untuk dipakai oleh Julia Roberts, saat syu-ting Eat Pray and Love, sang stylish kemudian membeli beberapa model sepatu Niluh Djelantik, beberapa kru film EPL ternyata menyukai sepatu-sepatu tersebut dan kemudian membeli dan memesan langsung dibutik kita.

Apakah desain dan model sepatunya ada yang pernah ditiru?
Pernah, bahkan oleh desainer ternama, sekitar 3-4 tahun lalu ada desain kita ditahun 2004, yang tiga tahun kemudian menjadi salah satu koleksi dari desainer yang terkenal. Kita tahu setelah sepatu tersebut dipublish di satu majalah trend Perancis, salah satu desainer dari brand tersebut ternyata pernah datang ke toko kita beberapa tahun sebelumnya dan mungkin terinspirasi dengan salah satu model yang kita miliki. Untuk model kita yang ditiru oleh perusahaan lain juga tidak sedikit, namun yang terpenting bagiku adalah tetap berkarya untuk melahirkan kreasi-kreasi yang lebih indah karena tidak ada gunanya dan hanya akan menghabiskan waktu saja jika kita terpaku pada hal-hal seperti penjiplakan model dan produk yang pernah kita buat.

Bagaimana dengan rencana kedepan?
Saat ini regenerasi sudah ada, kedepan saya hanya ingin menjadi desainer saja, cuma ken-dalanya masih belum ketemu partner kerja yang tepat untuk menutup pekerjaanku yang lain. Kemarin aku sudah hire seorang manajer dan asisten supaya delegasi bisa dilakukan.

Ya, mungkin bisa seperti Giargio Armani, sekalipun sudah tua namun karyanya tetap ada Giorgio Armani memulai semuanya dari nol, hingga mencapai puncaknya dan kini dikelilingi oleh puluhan desainer yang mewujudkan desain beliau sesuai dengan nafas Armani yaitu desain yang klasik dan elegan. Salah satu contoh desainer lain yang juga sudah menjadi global brand adalah Ralph Laurent

Oh ya.. bukankah dulu pernah bekerja di Paul Ropp?
Aku mulai terjun dalam bidang penjualan secara profesional sejak bekerja di Jakarta, dimulai dari Account Executive di tahun 2000, awalnya sejak tahun 1995, aku memulai dari posisi terendah pada sebuah perusahaan tekstil sebagai receptionist dan hingga akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke Bali di tahun 2002, aku berhasil menempati posisi sebagai Account Manager pada salah satu perusahaan IT terkemuka. Alasanku kembali ke Bali adalah untuk memenuhi permintaan Ibu, sehingga aku menerima tawaran Paul Ropp, perusahaan fashion Amerika yang berbasis di Bali, jabatanku saat itu sebagai Marketing Director. Pertumbuhan Paul Ropp dengan expansi yang kita mulai sejak tahun 2002 mencapai 330% dalam waktu 10 bulan. Di saat itu pula, Ibu sempat menawarkan aku untuk mengakuisisi salah satu pabrik alas kaki di Bali yang bangkrut karena Ibu sangat paham dengan kecintaanku terhadap sepatu, akan tetapi permintaan tersebut kutolak, dalam hal pekerjaan aku memiliki prinsip yang kuat, aku tidak pernah melakukan hal yang dapat mengakibatkan conflict of interest dengan tempatku bekerja, prinsip inilah yang hingga kini tetap mendampingiku dalam menjalankan usaha.

Perjalanan karirnya terus naik kelevel yang lebih baik, tapi kenapa kemudian ditinggalkan?
Aku termasuk workaholic, di bulan November 2002, sekembalinya dari New York untuk memasarkan produk Paul Ropp, aku mengalami sakit yang cukup serius dan harus menjalani operasi. Padahal saat itu aku sudah menyiapkan diri untuk pindah ke New York untuk melanjutkan expansi perusahaan. Selama menjalani perawatan salah satu pantangan yang aku jalani adalah tidak boleh melakukan perjalanan jauh selama beberapa bulan, sehingga impianku untuk mengembangkan usaha Paul Ropp terhenti.

Terakhir, kenapa memilih sepatu?
Karena aku cinta sepatu, aku berasal dari keluarga yang sangat sederhana. Sewaktu kecil, tinggal di 2 kamar sewaan yang kita tempati bersama Nenek Ibu, Paman, Bibi, dan sepupu-sepupuku. Dulu, Ibuku selalu membelikan sepatu yang ukurannya lebih besar, supaya bisa dipakai dalam waktu lama. Aku juga ikut membantu ibu berjualan di pasar Kumbasari. Hobi berjualan ini berlanjut hingga aku duduk dibangku sekolah dimana aku menjual baju kaos dengan motif sablon dari grup- grup band yang terkenal di masa itu, jadi dapat dikatakan berjualan adalah bagian dari keseharianku. Setelah meninggalkan Paul Ropp, aku bertemu dengan seseorang yang kemudian membuka pintu kesempatan bagiku untuk memulai usaha yang kucintai ini, yaitu sepatu. Sehingga lahirlah Nilou yang saat ini menjadi Niluh Djelantik. Setiap hambatan dalam hidup akan melahirkan hikmah yang tak pernah kita duga sebelumnya.

 

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *