MENU

by • March 2, 2012 • InterviewComments (0)80

Interview With Tony Eddy

Perkembangan property khususnya di Bali selama beberapa tahun mengalami pertumbuhan pesat, dan hal ini mulai disadari sebagai salah satu instrumen investasi yang paling aman dan menguntungkan. Dan bukan hanya pada sektor perumahan, namun saat ini secara bertahap produk properti yang diperkenalkan di Bali kian beragam, mulai dari guest house, home stay, villa, apartemen sampai dengan condotel. Melihat perkembangan ini, redaksi M&I Arif Rahman dan Anton HPT mendapat kesempatan berbincang dengan Tony Eddy, marketing and investment consultant dari Tony Eddy & Associates.

Sebelumnya, Tony Eddy telah terlibat dalam berbagai mega proyek yang sebagian besar berlokasi dan juga berkantor di Jakarta. Namun saat ini mulai mengembangkan beberapa proyek prestisius di Bali dan berkantor di Jalan Sunset Road. Salah satu proyeknya saat ini bersama Alex P Chandra, yakni sebuah hunian eksklusif bernama Summerville. Bagaimana pendapatnya soal perkembangan property khususnya di Bali dan apa saja proyek yang saat ini tengah dikembangkannya? Berikut wawancara kami disela-sela acara Arisan Lestari di Sector Bar kawasan Inna Hotel pada 16 Maret 2012.

Dalam sepuluh tahun terakhir, perkembangan property di Bali melaju sangat pesat, dan bahkan saat ini harga tanah untuk pembangunan dinilai tidak wajar, bagaimana Anda melihat hal ini?

Sebenarnya, Bali itu bersaingnya tidak hanya dengan kawasan lokal, namun juga dengan luar negeri, karena Bali itu sudah menjadi international destination, tempat tujuan wisata internasional, jadi orang yang ke Bali itu menjadikan ini sebagai standar mereka. Sementara mereka sendiri datang dari manca negara dimana harga tanah ditempat mereka sangat mahal. Yang dari Hongkong, Jepang bahkan New York, semuanya mahal. Itu sebabnya ketika mereka ke Bali, mereka melihat harga tanah di Bali murah banget, nah mereka itu yang membuat harga property di Bali naik terus.

Jadi yang dibilang tidak wajar itu, kalau orang lokal beli tanah disini, tapi kalau bule yang melihat itu justru kemurahan. Dan ini ada plus dan minusnya juga, jangka pendek orang Bali happy, tapi jangka panjang, kalau Anda tidak siap-siap dari sekarang, dan tidak punya property, anak istri atau cucumu nanti akan susahnya setengah mati, karena harganya menjadi sangat mahal.

Tapi dalam pendekatan investasi, kalau yang naiknya cepat, umumnya turunnya juga cepat, apakah ada kemungkinan harga tanah mengalami paradox harga dan turun?

Property khususnya tanah, berbeda dengan saham, kalau naik turunnya saham itu tergantung dari performers-nya company, bergantung juga dengan rumor yang berkembang, bisa naik-turun karena banyak faktor. Kalau di Properti tidak, apalagi di Bali. Coba perhatikan perkembangan property di Bali, walau kena bom Bali dua kali, tidak pernah anjlok. Harganya tetap naik, sekalipun melambat hanya berhenti saja, tapi kemudian naik lagi.

Apa penyebabnya?

Property di Bali itu supply-nya terbatas, orang Bali cenderung tidak mau menjual tanah mereka, tapi orang yang datang ke Bali rebutan, tiap tahun mengalami kenaikan. Kunjungan wisata setiap tahun naik 10 persen. Karena bule suka ke Bali, mungkin suka pantainya, masyarakatnya, pemandangannya bagus, hotelnya bagus, dan mereka yang tinggal dilayani dengan ramah, itu yang membuat betah.

Dan selama tujuh tahun terakhir Bali menerima penghargaan secara berturut-turut. Para wisatawan terus berdatangan tiap tahun, ini membuat kesempatan orang untuk membuka hotel, dan bangunan seperti Hotel membutuhkan tanah, tapi orang Bali tidak mau menjual tanahnya, sehingga membuat persediannya sedikit. Disisi lain, di Bali tidak boleh mendirikan bangunan melebihi lima lantai, jadi mau tidak mau, harga tanah terus mengalami kenaikan, dan untuk memiliki tanah di Bali susahnya setengah mati. Jadi ini ibarat wanita cantik di kampung cuma satu, jadi rebutan sehingga harganya menjadi mahal.

Apakah ada indikasi bahwa kenaikan ini akan terus?

Tanah tidak bisa diproduksi lagi, tapi jumlah orang bertambah, dan ada kelahiran terus, jadi tidak mungkin harga tanah itu seperti saham yang naik turun, tapi harganya akan lebih stabil.

Berarti prospek property khususnya di Bali masih bagus?

Bali itu masih ok, selama tidak ada isu kerusuhan, tidak ada isu bom, semua masih tetap bagus. Karena satu-satunya pulau pariwisata internasional itu ya cuma Bali, karena tempat lain itu belum ada yang siap, baik itu infrastrukturnya atau orangnya yang juga belum siap. Kalau di Bali yang datang itu kan tamu mancanegara, sehingga yang mereka bawa itu dolar, kalau diluar Bali, tamunya masih bawa rupiah saja. Jadi selama Bali aman dan dijaga dengan baik, properti masih ok.

Namun pemerintah pernah menginstruksikan untuk penghentian pembangunan hotel, karena saat ini sudah kelebihan supply kamar hotel, menurut Anda bagaimana?

Ibarat orang menjual nasi campur Bali, yang jualan itu ada dimana-manakan? Sekarang itu tergantung property apa yang dibangun, kalau pasarnya jelas, ditata dengan baik, pelayanannya bagus, customer akan ok. Hotel yang akan rontok itu, kerena tidak dikelola dengan baik, tapi kalau Anda bangun hotel dan punya konsep, itu tidak akan terus berjalan.

Banyak hotel yang beralih fungsi menjadi rumah kost, dan banyak juga yang mulai berjatuhan, bagaimana Anda melihatnya?

Saat mereka berjatuhan, itu justru menjadi kesempatan kita untuk take over, kita poles lagi menjadi hotel yang bagus. Itu malah menjadi kesempatan bagi kita, bukan malah menjadi ancaman.

Saat ini konsep apartemen belum banyak di Bali, kalaupun ada konsepnya kecil dan sederhana menyerupai kost, tidak seperti di Jakarta atau Surabaya dimana apartemen itu tersedia di banyak tempat. Untuk Bali, kira-kira prospek kedepannya akan seperti apa?

Fungsi apartemen itu ada dua, pertama orang beli apartemen agar lebih murah dari rumah, dan yang kedua mereka ingin mewah. Kalau di Bali, dilihat dulu ada tidak kebutuhan orang lokalnya untuk tinggal di apartemen, pemerintahnya juga belum tentu happy, karena belum dijinkan membuat apartemen di Bali. Padahal kedepan, ini akan menjadi kebutuhan pokok, karena harga tanah akan semakin mahal, kalau setiap orang Bali harus beli tanah yang mahal, belum tentu mereka sanggup. Sehingga kalau mau yang lebih murah, mereka harus beli rumah yang numpuk seperti konsep apartemen. Jadi itu agar lebih murah, dan juga harus dekat dengan fasilitas publik, terminal bus, sekolah, sehingga tidak banyak menghabiskan bensin, lebih irit.

 

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *