MENU

by • May 13, 2019 • Startup JournalComments (0)181

Made In Bali

Saya terlahir sebagai seorang muslim, dari 2 nenek di kedua pihak orang tua yang tulen 100% Bali. Sementara dari pihak kakek, merupakan keturunan dari negeri seberang. Bukan generasi pertama, namun sudah berlapis-lapis generasi turun terumun, yang semuanya bermula ketika kemajuan teknologi transportasi terjadi di Eropa, berawal dari buah pemikiran James Watt yang memicu revolusi Industri, maka ekspedisi masa lampau dimulai.

Ada sejumlah bangsa yang datang ke Indonesia dengan berbagai alasan, entah rempah-rempah, penelitian dan sekolah, atau -yang pada akhirnya, menjajah. Proses panjang ini pula yang kemudian membawa sejumlah pedagang dari berbagai negara untuk turut singgah di negeri kita yang kaya akan hasil alam, tak terkecuali pulau Bali.

Sementara istri saya, anak petani kopi, perempuan yang 100% tulen berdarah Jawa, mandiri transmigrasi bersama orang tuanya ke tanah harapan bernama Kalimantan, di tahun 80an ketika Jawa tak lagi berikan ruang untuk berjuang.

Anak saya pun, -sebagaimana saya, lahir di Denpasar Bali. Ia merupakan generasi Z, yang hadir menyapa dunia ketika Google dan Youtube telah eksis, milenial yang ketika muncul di bumi, tangannya memegang gadget. Garis silsilahnya, rancak penuh warna, Ia Bali pun Jawa, dan ada garis keturunan moyang dari negeri asing, yang sesekali ketika lebaran, mudik ke tanah Borneo.

Hari ini, generasi serupa anak saya, jumlahnya kian jamak, dan akan semakin masif dimasa mendatang, tersebar di berbagai pelosok kota dan desa. Berwajah bule namun terampil berbahasa daerah, berambut pirang kulit sawo matang namun berbudaya oriental, atau dengan silsilah yang jauh lebih berwarna.

Pun soal agama, tak lagi terpaku pada satu keyakinan yang homogen, namun heterogen ditengah masyarakat urban yang bercampur dalam satu komunitas. Untuk Islam sendiri, yang minoritas di Bali, pada dasarnya telah ada di pulau kecil ini sejak zaman kejayaan Kerajaan Majapahit,  sekitar abad XIII-XIV Masehi sebagaimana diwartakan dalam Wikipedia. Saat itu raja Gelgel pertama, Dalem Ketut Ngelesir (1380-1460 M) mengadakan kunjungan ke keraton Majapahit untuk bertemu dengan Raja Hayam Wuruk yang sedang mengadakan konferensi kerajaan seluruh Nusantara.

Setelah acara selesai, Dalem Ketut Ngelesir pulang ke Bali dan diantar oleh 40 orang dari Majapahit sebagai pengiring, dua diantaranya adalah Raden Modin dan Kiai Abdul Jalil bersama 40 orang pengiring dari Majapahit. Para pengawal muslim itu hanya bertindak sebagai abdi dalam Kerajaan Gelgel. Setelah tiba di Gelgel mereka menempati satu pemukiman dan membangun masjid yang diberi nama Masjid Gelgel, yang kini merupakan tempat ibadah umat Islam tertua di Bali. Peristiwa ini dijadikan sebagai patokan masuknya Islam di Bali yang berpusat di kerajaan Gelgel Bali.

Sejarah panjang akulturasi dari dalam negeri ini, kemudian bercampur dengan kedatangan warga asing yang juga menjadi bagian dari wajah Bali hari ini, ketika batas cuma jadi alas, siapapun bisa mengambil peran, bahkan dalam berbagai bidang.

Di bisnis misalnya, 3 unicorn Gojek, Tokopedia dan Bukalapak, juga didirikan oleh 3 orang anak muda yang masing-masing punya garis keturunan berbeda-beda. Hari ini, pergaulan dan sosial, ditentukan dari jiwa kreatif setiap orangnya, bukan di kotomi oleh keyakinan, suku dan ras.

Itulah sebabnya, Pergub No 79 Tahun 2018 tentang Hari Penggunaan Busana Adat Bali, pada dasarnya bukan soal, apalagi jika menjadi penajam perbedaan, namun justru, ketentuan ini membawa kembali, siapapun yang hidup dan menikmati hasil alam di Bali, bisa menunjukkan identitasnya secara formal dengan pakaian khas daerah.  Apapun agama dan garis keturunannya. ‘Baju’ menjadi simbol, namun ‘software yang terinstall’ di masing-masing generasi, adalah visi besar akan petualangan hidupnya, yakni jiwa kreatif yang ditantang dengan perubahan zaman yang tangguh.

Jadi kalau perbedaan suku, ras dan gender masih jadi ekslusifitas pergaulan dan muara konflik, rasanya, tidak ada lagi logika yang pantas dibenarkan sebagai alasan?

#Bali #NangunSatKerthiLokaBali #BaliEraBaru #sayaNetizenCerdas #MillenialTechnoFiesta2019 #MTF2019

 

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *