MENU

by • January 15, 2017 • InvestasiComments (0)179

Memahami Inflasi dengan cara sederhana

 

Siapakah inflasi, “preman” dari manakah dia? Sistem ekonomi dunia memang melahirkan “produk” yang namanya inflasi. Dulu, orang tidak mengenal uang dan melakukan barter atas pemenuhan kebutuhan yang satu dengan yang lain. Kemudian uang ditemukan, namun nilainya belum disadari sehingga ketika Anda rajin menyimpan uang dibawah bantal, nanti akan memiliki kekayaan berupa penumpukan atas uang-uang tersebut, namun dalam perkembangannya orang mulai mengenal dasar ilmu ekonomi, semakin langka barang dan tingginya tingkat permintaan akan menentukan harga, perlahan konsep ini merubah kekuatan nilai uang, lahirlah sebuah produk chain reaction ini yang bernama inflasi.

Secara deskriptif [karena sulit bagi Saya untuk mendefinisikan inflasi dalam konteks yang akomodatif dengan bahasa yang praktis], inflasi merupakan perbandingan antara jumlah uang yang beredar dengan jumlah komoditas. Hal ini menyebabkan nilai uang terus mengalami kenaikan dari tahun ketahun, itu sebabnya laju inflasi dapat diukur.

Sekarang mari kita berhitung, ada sebidang tanah dipinggiran kota yang ingin Anda miliki, harganya adalah Rp. 60.000.000, untuk mewujudkan itu, Anda menabung sebesar Rp. 1.00.000 /bulan, setelah 5 tahun terkumpullah uang sebesar Rp. 60 jt, namun sayang saat Anda hendak membeli tanah tersebut, ternyata sekarang harganya telah naik menjadi Rp. 150 juta. Lalu Anda menabung lagi agar terkumpul Rp. 150 juta, setelah beberapa tahun dan terkumpul Rp. 150 juta, sekarang harga tanah tersebut menjadi Rp. 250 juta. Hmm.. sampai kapan Anda begini? Anda kemudian mengambil kesimpulan bahwa menabung tidak menyelesaikan masalah.

Ok, sekarang kita ke instrumen investasi, misalkan deposito. Anda tanamkan dana sebesar Rp. 50 juta dengan bunga sebesar Rp. 6.7 %. Maka setelah 3 tahun menjadi Rp. 50 jt + 10.5 jt [bunga 3 tahun] = Rp. 60,5 jt. Tapi laju inflasi rata-rata dalam 3 tahun ternyata 7% dan membuat harga-harga barang naik dalam jumlah tersebut. Dengan uang sebesar 60.5 jt sekarang [belum lagi dipotong pajak penghasilan] maka tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan 3 tahun kemudian.

Karenanya rumus sederhana dari berinvestasi adalah mampu mengalahkan laju inflasi, kalau inflasi 7 % maka hasil investasi setidaknya 8-10 %. Karena seperti yang disampaikan William Tanuwidjaja, inflasi merupakan perampok daya beli kita.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *