MENU

by • January 11, 2019 • EkonomiComments (0)95

Mengelabui Demokrasi Lewat Algoritma Sosial Media

Liverpool meradang, Kloop pelatihnya, boleh jadi mengkalim dirinya tetap happy, dengan posisi mereka sebagai pemimpin klasemen dengan jarak 4 poin. Tapi kekalahan dengan Manchaster City awal 2019 ini, adalah kejutan baru buat si ahli strategi. Pasalnya, inilah pertarungan 2 ahli taktik lapangan bola dalam level paling tinggi di dunia. Yang satu petaha dengan ideologinya penguasaan bola, yang satu penantang, yang strateginya agresif poll!

Guardiola bahkan pernah bilang, lebih baik pensiun daripada kalah penguasaan bola, ini prinsip, yang sudah diterapkannya sejak lama baik di Barcelona ataupun Bayern Muenchen. Dan yang namanya prinsip, adalah karakter, representasi dari integritas seseorang. Namun demi kemenangan, Guardiola menggadaikan ini.

Tak ada juego de posicion, ini terlihat dari keputusannya menarik gelandang enerjik Kyle Walker, padahal inilah sosok di balik permainan cantik si biru selama ini. Guardiola, menurunkan Danilo dan Laporte yang berkarakter lebih defensif. Jurus pragmatis ini berhasil meredam gempuran the Reds yang memang saat ini dikenal paling angker. Gerakan mereka layaknya strategi Zone Press yang dipraktekkan AC Milan medio 90an ketika menjadi raja Eropa, menekan tanpa lelah. “Para penyerang Liverpool membuat saya sangat takut, saya tidak bercanda, bek sayap kami tidak sanggup membendung  lini sayap mereka,” kata Guardiola dalam film dokumenter berjudul All or Nothing tahun lalu.

Ketakutan yang wajar, dari 5 kali bertemu di tahun 2018, Manchaster City 4 kali kalah. Untuk itulah tiki taka dikorbankan, tanpa cara itu, penguasaan bola ada di kaki para pemain Liverpool. Manchaster City untuk pertama kalinya, memiliki total operan yang rendah, cuma 593 dari rata-rata 697 operan per laga yang selama ini merupakan raihan tertinggi di Liga Inggris. Tapi…, mereka menang, di laga krusial yang oleh Guardiola sebut sebagai partai final. Dengan mendekati poin pemimpin klasemen, maka kans juara terbuka kian lebar, dan bukan tidak mungkin memenangkan perburuan di akhir musim. Cara ini pula yang pernah di lakukan Scolari ketika membawa Brazil juara dunia, mengorbankan Jogo Bonito, bermain pragmatis yang penting menang dan menggegam piala.

Strategi untuk menang ini, nampaknya memang jadi lebih utama daripada bermain dengan cara yang baik dan benar. Toh saat ini, penonton juga senang, sekalipun permainan dianggap tak menghibur, namun fans gembira dengan hasil akhir.

Di percaturan politik, hal senada terjadi. Kubu patahana, yang selama ini dikenal ‘main cantik’, tak ragu mengadopsi cara lawannya yang agresif, dari penunjukan calon Wakil Presiden yang sarat nuasa politik identitas –satu hal yang dulu ditentang mereka- serta membangun pertahanan habis-habisan menampik serangan isu, yang yang benar, maupun yang keliru. Sementara penantang, tak kalah bergegas, cukup berhasil dengan konsisten membangun satu narasi-narasi baru untuk mendogma calon pemilih, yang memang di Indonesia, belum cukup dewasa.

Memanfaatkan kelemahan demokrasi sebagaimana di khawatirkan Socrates beradab silam, ketika ia menolak sistem pemerintahan ini, karena menurutnya, dengan memberikan hak politik (memilih) kepada masyarakat bawah, yang notabene tak mengerti politik, maka kualitas pemerintahannya tak cukup legitimasi. Dan betul saja, saat ini, dengan mudahnya uang digunakan untuk membangun persepsi, di masyarakat bawah, pilihan bisa tergantung berapa amplop atau baju kaos yang mereka dapatkan, bukan berdasar siapa calon yang menurut hati nurani mereka benar. Socrates meminta demokrasi di buang, dan mengadopsi aristokrasi, yang sayangnya, paham ini juga menjadi tirani dalam sejarah.

Dan sekarang ini, bukan politik uang saja yang juga berperan, tapi juga berita bohong, yang diproduksi untuk mendulang suara. Di kelompok masyarakat kebanyakan, berita bohong bisa berarti benar, tak perlu jurus sakti ilmu copywriting tingkat dewa, cukup dengan menyelipkan satu-dua hal yang mengutak atik emosi, dan ketika emosi memuncak, maka logika menurun, dan yang bohong pun, menjadi benar dan layak dipercaya.

‘Dikelabui’ Algoritma

Apalagi dengan sistem kerja (algoritma) sosial media saat ini, dimana kesamaan minat, akan diklasifikasikan pada kelompok yang sama. Para pengguna Facebook misalnya, memiliki banyak teman mulai dari teman semasa sekolah ketika SD sampai kuliah, plus teman kantor dan tetangga, semua berteman karena salaing kenal, atau pernah kenal. Namun kemudian, satu teman menunjukkan minatnya (dukungan) pada paslon 01 misalnya, bagi mereka pendukung paslon 02, tidak akan memberikan ‘like’ pada postingan yang mendukung paslon 01. Sebaliknya, akan ‘like’ pada postingan yang mendukung paslon 02. Maka nantinya yang terjadi, laman Facebook hanya akan diisi oleh info dan berita hasil postingan dari teman-teman yang hanya mendukung paslon no 02 saja.

Bahkan ada yang secara ekstrem meng ‘unfriend’  atau ‘unfollow’ teman yang tidak sejalan paham politiknya, maka praktis, timeline hanya akan diisi dengan informasi satu arah. Dan ketika ini diakumulasi terus-terusan, maka pemilih bak memakai kaca mata kuda, bahwa paslon yang ia jagoklan, sudah pasti benar, sudah pasti layak di dukung layaknya dewa, sementara lawannya, adalah musuh bebuyutan yang harus dikalahkan.  Padahal, tiap paslon, suka atau tidak, punya kelemahan dan kelebihan masing-masing, yang secara obyektif tidak bisa dilihat oleh para pemilih, karena sudah menggunakan kacamata kuda berkat algoritma sosial media. Belum lagi dengan media ‘mainstream’ yang latah bermanuver, 3 stasiun televisi kerap mendapat peringatan dari KPI karena tak berimbang dalam penyajian berita.

Sudah waktunya kita semua belajar dan membuka diri, menerima masukan dan program kerja dari semua Paslon dengan pandangan terbuka, sehingga logika dan nalar bisa mengolahnya menjadi input yang membuat kita memilih sesuai dengan ketetapan hati. Cara paling mudah, dengan menjadikan debat capres sebagai tolak ukurnya, karena darisinilah kita secara langsung dan transparan bisa melihat, kualitas calon pemimpin kita kedepannya. Rasanya 5 kali pertemuan saat debat, bisa menjadi referensi fair jika mau memilih dengan obyektif tanpa influence yang bias terutama dari media yang memiliki tendensi tertentu apalagi sosial media. Sekalipun kabarnya, debat Capres secara statistik cuma menaikkan elektabilitas 1%, tapi biarlah ini menjadi bagian dari pembelajaran kita untuk tumbuh dewasa dengan demokrasi. Mulai belajar milah berita hoaks, menjadikan Pemilu kembali sebagai bagian dari pembelajaran yang tak sekedar mencari menang kalah layaknya Guardiola dan Klopp, dan menerima kekalahan. Seperti kata aristoteles, hanya mereka para terpelajar yang bisa menertawakan satu ide tanpa harus menerimanya.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *