MENU

by • January 15, 2017 • InvestasiComments (0)251

Mengenal Instrumen Investasi Saham

Saham adalah sertifikat yang menunjukan bukti seseorang atas suatu perusahaan, dimana pemegang saham perusahaan tersebut memiliki hak klaim atas penghasilan dan aktiva perusahaan. Sederhananya begini, perusahaan baik milik swasta atau pemerintah menjalankan operasional semua aktifitas bisnisnya dengan tujuan mendapatkan laba, namun dalam perkembangannya, tidak jarang kemudian perusahaan-perusahaan ini membutuhkan tambahan dana. Karenanya perusahaan tersebut menerbitkan saham, yang bisa dimiliki oleh masyarakat dengan menanamkan dananya [modal], nanti setelah perusahaan mendapat suntikan modal dari masyarakat, maka diharapkan perusahaan berputar dengan hasil usaha berupa laba.

Laba yang kemudian dibagikan kepada semua pemegang saham perusahaan, yang disebut dengan nama deviden. Selain itu, harga saham berfluktuasi, naik turun seiring dengan kondisi pasar dan performa perusahaan itu sendiri, maka jika saham dijual dengan harga lebih tinggi dari harga belinya, maka investor mendapatkan capital gain. Inilah 2 bentuk keuntungan dari investasi saham.

  • Deviden. Adalah hasil keuntungan perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham. Jumlah deviden yang dibagikan diusulkan oleh dewan direksi dan disetujui dalam rapat umum pemegang saham
  • Capital gain. Jika harga jual saham lebih tinggi daripada harga beli, misalkan didapat dengan harga beli Rp. 3500 dan setelah beberapa waktu harga saham tersebut naik menjadi Rp. 3750, dan diputuskan untuk dijual maka pemodal mendapatkan keuntungan sebesar Rp. 250. Inilah yang disebut capital gain.

Namun investasi saham dikenal dengan tingkat risikonya yang tinggi, seperti :

  • Tidak ada pembagian deviden. Jika perusahaan mengalami kerugian, atau laba diputuskan dalam rapat umum pemegang saham akan digunakan untuk ekspansi. Misalkan laba usaha 1 M, namun diputuskan untuk membuka pabrik baru dilokasi lain, maka dana tersebut yang digunakan, dana yang tadinya bisa saja dibagikan kepada pemodal.
  • Capital loss. Jika harga jual saham lebih tinggi daripada harga beli
  • Resiko likuidasi. Jika perusahaan bangkrut atau likuidasi dan para pemegang saham yang memiliki hal klaim terakhir terhadap aktiva perusahaan setelah seluruh kewajiban perusahaan dibayar. Terburuk jika tidak ada lagi aktiva yang tersisa, maka pemegang saham tidak memperoleh apa-apa
  • Saham delisting dari bursa. Karena alasan tertentu saham dihapus dari bursa dan tidak dapat diperdagangkan. Dan otomatis pemodal mengalami kerugian investasi. Namun demikian, risiko-risiko tersebut bisa dihindari, bahkan peluang memperoleh keuntungan bisa semakin besar jika berinvestasi dengan tepat. Dan satu hal yang harus disadari, tidak ada satu orang pun yang bisa meramal masa depan. Saya pribadi memiliki sejumlah saham yang ketika di beli, merupakan hasil rekomendasi dari sejumlah pakar dan majalah investasi, yang hasilnya justru saham-saham tersebut harganya terus terperosok.

Kiat sederhana dalam berinvestasi disaham adalah :

  • Mulailah dengan jumlah kecil terlebih dahulu, jadikan sebagai media pembelajaran dan adaptasi untuk melihat seluk beluk lebih dalam seperti strategi catur. Apalagi saat ini, 1 lot = 100 lembar saham, bukan 500 lembar lagi seperti tahun-tahun sebelumnya. Sehingga modal awal untuk belajar di instrumen investasi ini menjadi lebih murah.
  • Pelajari track record perusahaan penerbit saham, untuk amannya cobalah pada perusahaan yang memang sudah nyata-nyata memberikan hasil dan selalu ditarget untuk mendapatkan laba dengan jumlah besar.
  • Jangan memilih lebih dari 2 saham, untuk awal dan langkah preventif. Disatu sisi jadikan momen pertama sebagai masa adaptasi untuk melihat keadaan. Semakin lama semestinya semakin mahir dan bisa melihat peluang dan tren yang dulunya belum dapat kita lakukan
  • Jangan pernah trading, atau melakukan jual beli saham dalam jangka pendek. Cara ini, sebaiknya hanya dilakukan oleh mereka yang telah ahli, dan umumnya sudah menjadikan investasi disaham sebagai bisnis, dimana produk yang mereka jual belikan adalah saham. Dibutuhkan waktu penuh untuk fokus berbisnis saham. Jika tidak mampu meluangkan waktu dan hanya bermaksud menjadikan saham sebagai salah satu instrumen alokasi investasi, maka sebaiknya tidak melakukan trading.
  • Beli saham saat harganya tengah terkoreksi, kemudian beli untuk disimpan. Lakukan akumulasi secara bertahap, dalam jangka panjang, maka jumlah lot saham kita semakin besar, dan jika ada deviden yang dibagikan, maka jumlahnya pun cukup besar dan layak.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *