MENU

by • May 3, 2012 • MarketingComments (0)74

Musik, Industri Yang Tak Lekang Oleh Jaman

Muda, kaya dan terkenal, siapa yang nggak mau? Dari sekian banyak profesi di dunia, mungkin hanya musisi atau pekerja publik figur saja yang bisa menawarkan ketiga hal tersebut. Itu pula yang menjadikan demam menjadi musisi saat ini tengah memuncak, semua beramai-ramai menjadi musisi, meski terkadang tidak ditunjang dengan kemampuan musikalitas yang baik. Namun demikian, industri ini tetap saja menunjukkan trend yang semakin meningkat. Bahkan penjualan album musisi lokal saat ini bisa mengalahkan penjualan album Lady Gaga atau artis mancanegara. Musik sudah menjadi tuan dirumah sendiri.


Kemajuan teknologi yang revolusif ternyata memberikan dampak besar pada banyak industri, termasuk musik. Proses digitalisasi di segala bidang berhasil membawa pita kaset dan tape player ke museum lebih cepat, saat ini hampir tidak ada lagi yang menggunakan teknologi tersebut, sama seperti ketika piringan hitam digeser oleh teknologi pita kaset. Padahal, musisi sangat menggantungkan hidupnya dari dua sumber utama, pertama penjualan kaset tape nya, kedua ketika perform di panggung.

Namun saat ini, ketika teknologi mengalami kemajuan, peluang lain dalam industri musik justru muncul dari sisi yang berbeda, bahkan lebih variatif. Penjualan album bukan lagi target utama, bahkan hanya dengan merilis satu single lagu saja, seorang musisi bisa mencapai tingkat popularitas yang tinggi. Saat ini, band seperti Dā€™ Massive, The Rock dan Samson, mampu mengantongi milyaran rupiah hanya lewat aktivasi ring backtone lagu-lagu mereka, belum lagi dari tarif per sekali manggung. Sementara disatu sisi dunia televisi berlomba-lomba menayangkan hiburan live musik, dari yang pagi hari sampai di jam prime time. Berdasarkan survey, rating televisi mengalami kenaikan signifikan dengan menampilkan para artis atau musisi tersebut. Demikian pula dengan penjualannya dalam format MP3 atau digital, menjadi bintang iklan, soundtrack film atau sinetron dan banyak lagi. Inilah era baru industri musik tanah air, menggeliat dan menjadi tuan dirumah sendiri.

Fenomena ini ternyata tidak hanya ada di ibu kota, di daerah hal serupa terjadi. Di Bali, industri musik mengalami pertumbuhan yang luar biasa selama beberapa tahun terakhir, khususnya lagu bergenre pop Bali yang sangat diminati. Lebih dari dua puluh tahun lalu tepatnya 1989, Ayu Laksmi, wanita dari Singaraja ini memulainya dan menjadi artis pertama yang sanggup go nasional, dijuluki Lady Rocker bersama Nicky Astria. Pasca Ayu Laksmi, industri musik di Bali seolah hilang dari peredaran, baru dua belas tahun kemudian tepatnya 2003, tiga pemuda dari gang Poppies Kuta mencuri perhatian dengan single hits nya Kuta Rock City. Band dengan nama Superman Is Dead ini menjadi trending topic, konsernya ditunggu dan tampil diacara-acara TV nasional, bahkan sampai jadi bintang tamu di acara Empat Mata. Lagunya berada di top hits radio-radio. Keberhasilan SID melakukan penetrasi pasar berhasil membawa mereka hingga tampil di mancanegara. Inilah trigger bangkitnya industri musik di Bali. Sejak itu berbagai band dan musisi timbul dan tenggelam di industri ini.

Hampir setiap waktu, ada artis-artis baru yang bermunculan menggeser yang lama, sementara yang baru pun tengah diantri oleh banyak musisi lain yang menunggu peluang dan saat yang tepat bisa naik panggung menggeser yang tengah ada. Kemajuan teknologi digital menjadikan industri di bisnis ini demikian sederhana, terasa mudah namun tetap menggiurkan.

Bayangkan, jika musisi dulu membutuhkan setidaknya 10 lagu untuk direkam dalam satu album yang nantinya berupa kaset, proses rekaman dan mixing yang lama dan membutuhkan biaya besar, karena perlengkapannya memang tidak murah, kemudian promosi keliling daerah yang biaya transportasinya mahal dan pembuatan video klip yang juga menghabiskan dana besar. Sekarang, seorang musisi bisa populer bahkan hanya dengan 1 single saja, recording saat ini dapat dilakukan di studio kecil dengan kualitas sudah cukup baik, distribusinya dalam bentuk digital berformat MP3 dan sejenisnya yang bisa dijual lewat internat dan diputar oleh radio-radio secara gratis. Pembuatan video klip pun ternyata tidak mahal, untuk durasi 1-3 menit ada yang menawarkan jasa dengan biaya tidak lebih dari 1 juta rupiah dan digarap secara profesional. Dan televisi dengan senang hati menayangkan klip tersebut. Menjualnya di internet pun, nyaris tidak kena biaya, dan saat ini biaya transportasi akomodasi promosi ke daerah-daerah sangat murah. Inilah yang kemudian menjadikan bisnis di industri ini menjadi demikian sederhana dan orang beramai-ramai ikut berkecimpung di industri ini.

Namun ini pula yang menjadikan industri musik saat ini demikian kompetitif. Bila dulu seorang musisi bisa diingat hingga bertahun-tahun, sekarang nama band atau penyanyi dengan mudah hilang dari ingatan orang. Terlebih jika lagu yang mereka bawakan gagal hits dan tidak disukai pasar. Namun jika berhasil populer, maka sederet rupiah sudah mengantri untuk masuk kantong.

Saat ini, musisi bisa mendapatkan pendapatannya tidak hanya dari penjualan album, namun juga penjualan ring back tones, merchandising, konser atau show, menjadi bintang iklan atau soundtrack film bahkan jadi aktor atau artis film. Nama-nama miliarder muda Indonesia banyak diisi oleh nama-nama seperti Ahmad Dhani, Agnes Monica, ST Setia sampai Sm*sh. Dan bukan hanya para musisi yang ketiban untung, bak gula disarang semut, bisnis ini memancing banyak entitas lainnya untuk ikut nimbrung meraih keuntungan, operator selluler, production house sampai dengan event organizer.

Panen Rupiah Di Ladang Konser

Tahun 70-80-an, penjualan album seorang musisi tidak banyak, paling bagus menembus 200 ribu copy, namun Ebit G Ade disebut anak ajaib ketika album Camelianya berhasil menembus 300 ribu copy, prestasi tersebut tidak bertahan lama saat Iwan Fals dengan album Sarjana Muda sukses melambungkan single hits Oemar Bakrie hingga menembus 1 juta copy. Di era 1990-an, bahkan ketika krisis moneeter terjadi, industri musik nyaris tidak terkena dampaknya, di era ini ramai-ramai Sheila on 7, Dewa, Padi, Slank dan Radja menembus 1 juta copy, bahkan di era tahun 2000-an Peterpan sanggup meraih 2 juta copy. Jika saja per satu album musisi mendapatkan seribu rupiah saja, maka setidaknya band-band ini membukukan minimal 1 milyar hanya dari penjualan albumnya saja. Padahal, penjualan album hanya bagian kecil dari pendapatan seorang musisi saat ini. Sungguh sebuah industri di lahan yang basah!

Belum lagi dari ring back tones, Samson dengan lagu Kenangan Terindah kabarnya diaktivasi 2.1 juta kali, dan lagu Ruang Rindu dari Letto mencapai 3.2 juta kali untuk dijadikan nada tunggu. Padahal, satu kali aktivasi setidaknya bertarif Rp. 5000 ā€“ 7000 / bulan, maka uang yang berputar di RBT untuk satu buah lagu bisa mencapai Rp. 10 milyar. Diperkirakan uang yang beredar di bisnis RBT mencapai lebih dari 1,3 trilyun. Wow.. hanya untuk nada tunggu yang akan didengarkan orang lain, masyarakat kita membelanjakan dananya hingga mencapai trilyunan rupiah. Tidak heran jika kemudian industri musik dewasa ini menjadi satu objek yang menarik untuk digarap. Padahal Bobby SID menyebutkan, bahwa pendapatan dari RBT hanyalah bonus, karena hampir 70% pemasukan band Superman Is Dead berasal dari show atau manggung. Lalu siapa saja mereka-mereka yang bergelut di industri ini?

Studio Recording / Label
Ada dua jalur bagi musisi untuk menciptakan dan memasarkan karya, yang pertama jalur independent atau biasa disebut Indie Label, karena memproduksi dan memasarkan lagu-lagunya secara mandiri, dan kedua direkrut major label atau perusahaan besar seperti Sony atau Aquarius yang memberikan langsung jasa recording. Namun tidak semua musisi direkrut mayor label, yang umumnya hanya mencari band atau musisi yang punya lagu-lagu populer. Maka jadilah banyak musisi yang terjun dijalur indie, dan otomatis mereka membutuhkan recording untuk merekam karya mereka. Saat ini di Bali nama Pregina Record dan Antida Studio salah satu yang paling sering mendapat order. Diperkirakan omzet dari studio recording ini mencapai Rp. 30-50 juta per bulannya.

Event Organizer [EO]
Nama Java Musikindo yang digawangi Adrie Subono adalah salah satu yang tersukses di Indonesia. Namun tidak sedikit EO lokal yang aktif menggelar acara live musik dan umumnya menggandeng perusahaan rokok sebagai sponsor. Jika dalam satu kali show outdoor bisa mendatangkan minimal lima penonton saja, dengan tarif biaya masuk Rp. 30 ribu, maka setidaknya 150 juta dikantongi oleh EO, walaupun biasanya mereka mendapat suntikan lain dari sponsor yang targetnya diacara-acara seperti ini adalah branding.

Show / Konser
Band Padi pernah menyampaikan, album boleh tidak laku, tapi show harus tetap laku. Inilah jalur yang paling banyak memberikan pemasukan bagi musisi. Saat ini nama-nama seperti Nidji, The Rock dan band-band papan atas lainnya diperkirakan memiliki tarif dikisaran 50 ā€“ 100 juta per sekali manggung. Di Bali, band seperti SID dalam official websitenya, sub page question answer menyiratkan tarif SID per sekali manggung kisaran 10 juta, namun bisa saja gratis jika dilakukan untuk kegiatan amal. Jika per minggu bisa manggung minimal 1 kali, maka dari perform digpanggung saja seorang musisi bisa meraih puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Operator Celluler
Saat ini, tiap operator menentukan tarif yang berbeda
per sekali aktivasi. Namun baik bagi musisi ataupun operator, inilah ladang memanen rupiah mereka yang baru dan menjanjikan. Jika satu single saja populer dan menuai banyak unduhan dari konsumen, hasil yang diperoleh musisi bisa jadi lebih besar dari penjualan albumnya.

Album [CD / Kaset]
Dulu, penjualan album baik berupa CD atau kaset adalah sumber utama musisi, namun saat ini tidak lagi, terlebih ketika pembajakan mencapai 80% dari penjualan album seorang musisi, maka pilihan mereka tidak banyak sekedar untuk memperkenalkan lagu mereka lewat jalur utama ini, walaupun dari pemasukan mungkin penjualan album adalah bagian terkecil.

On Line
Penjualan lagu lewat internet di Amerika sudah menjadi salah satu tambang emas bagi musisi, namun di Indonesia hal ini masih belum terjadi, kuatnya pembajakan menyebabkan jalur penjualan ini agak terhambat. Namun demikian seiring waktu dan perkembangan sangat mungkin jalur ini mencapai tingkat kedewasaannya seperti di negara-negara maju

Media Elektronik [TV/Radio]
Acara live musik di televisi mengalami peningkatan selama beberapa tahun terakhir, baik yang pagi hari ataupun di jam prime time. Rating yang tinggi menjadikan acara yang menghadirkan para musisi ini terus dilirik.

Production House
Demikian pula dengan soundtrack film atau sinetron, Melly Goeslow adalah salah satu yang terlaris di tingkat nasional. Bahkan disatu sisi bagi musisi selain memberikan penghasilan langsung, ketika lagunya dijadikan soundtrack membuka peluang penjualan album yang lebih besar, beberapa band mengalami hal ini. Untuk sinetron, lagu para musisi yang ditampilkan mendapat bayaran Rp. 1-2 juta per episode, jika 200 episode, maka tinggal dikali saja pendapatan para musisi tersebut. Apalagi jika sampai dijadikan bintang iklan, mulai dari iklan mie instan sampai dengan obat batuk, menggunakan musisi sebagai bintangnya. Banyaknya basis penggemar mereka diharapkan mampu menggiring konsumen untuk membli produk yang menggunakan mereka sebagai ambasador-nya.

Channel lain [Merchandise, distro dll]
Saluran lain bagi musisi adalah penjualan merchandise yang biasanya disalurkan lewat distro-distro, walaupun tidak banyak mungkin namun tetap saja memberikan tambahan bagi mereka. Khususnya bagi musisi lokal, Nanoe Biru misalkan penembang lagu berlirik Bali ini termasuk salah satu musisi yang merchandise nya mulai dari stiker sampai syal berlogo bebuda [komunitas fans Nanoe Biroe] laku keras.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *