MENU

by • August 15, 2019 • InvestasiComments (0)105

Plan B untuk Millenial

Apa yang menjadikan hidup ini seru, suka nggak suka, adalah dengan menjadikannya sebagai sebuah petualangan, perjalanan senang dan susah buat belajar, mencari peluang untuk berkembang, membesarkan anak sebagai anugrah, dan pastinya.., agar semua menjadi hikmah agar hidup menjadi manfaat?

Setahun setelah lulus kuliah di 2003, saya memutuskan untuk menikah, tanpa aset dan tabungan sama sekali. Satu-satunya kekayaan yang ada, adalah sepeda motor yang sudah saya pakai sejak masa SMU. Karena itu kami memulainya dengan tinggal di rumah orang tua selama tahun pertama. Di fase ini, saya dan istri sama-sama kerja, ngumpulin duit pelan-pelan, yang hasil tabungannya mulai di pakai buat ngontrak rumah di tahun berikutnya, sebagian, jadi modal untuk bikin usaha.

Karena sama-sama kerja, kami memutuskan untuk hidup dengan menggunakan satu sumber gaji saja, kebetulan gaji saya yang lebih kecil, itulah yang digunakan untuk biaya hidup. Dari sinilah kemudian semuanya berputar, di tahun pertama, uang tabungan dari gaji suami jumlahnya bukan hanya cukup untuk kontrak rumah, namun juga cukup jadi DP untuk membeli rumah pertama kami. Yup, dalam waktu 2 tahun sejak menikah, kami bisa memiliki rumah pertama. Empat tahun berikutnya, kami bisa membeli rumah kedua di tahun 2009, dan pada tahun 2015 lalu, kami membeli rumah ketiga yang ditinggali hingga sekarang.

Saya bisa berhenti kerja di tahun 2009, tepat diusia 30, sebagaimana resolusi dulu, nggak mau jadi karyawan lama-lama. Sekarang, saya dan istri sudah nggak lagi jadi karyawan kantoran, memiliki sejumlah aset properti yang disewakan sebagai passive income, ada bisnis sendiri yang juga menghasilkan, dan membuat uang kini bekerja untuk kita. Dan beberapa kali dalam setahun, kami bisa berlibur bersama. Anugrah yang kami miliki ini, semuanya dimulai sejak 14 tahun lalu dengan aset nol, hanya sebuah motor tua hasil pembelian orang tua yang ketika itu jadi pegangan.

Apa yang kami lakukan ini, mungkin saja bisa berguna bagi pasangan muda yang mungkin memulainya sama sebagaimana kami, tidak memiliki uang, just married, tapi punya tekad. Yang penting untuk memulainya adalah, punya perencanaan, ada peta jalan yang mau kita tempuh. Setidaknya, ada 2 hal penting yang harus kita perhatikan ketika membuat sebuah peta. Yang pertama adalah karir, dan yang kedua adalah prioritas.

1# Awal Karir

 “My father always told me, ‘find a job you love And you’ll never have to work a day in your life.”

– Jim Fox

Umumnya di Indonesia, usia bekerja dimulai antara rentang 20-24 tahun, setelah menyelesaikan pendidikan pasca SMU. Dan ketika bekerja, maka level awal yang umumnya akan kita jabat adalah junior staf, atau level terendah di jajaran eksekutif, dengan besaran gaji yang tak jauh dari kisaran Upah Minimum Regional (UMR). Beberapa orang, mungkin punya pencapaian jabatan atau gaji yang lebih besar, namun disini kami berasumsi pada kondisi umum, sebagaimana pernah kami jalani. Upah minimun sendiri pada dasarnya sudah ditentukan pemerintah berdasarkan biaya hidup layak di suatu daerah. Di tahap ini, kita masih belum bisa berbuat banyak, bagi yang memulai dari level paling bawah, maka penghasilan mungkin hanya cukup untuk biaya hidup. Tapi ini bukan masalah, karena di awal, target kita cuma satu, yakni belajar.

Di usia 20an, ada rentang yang ideal untuk mengejar peluang. Masih bisa mencoba-coba dan batas usia yang aman jika mengalami kegagalan, dan masih punya cukup waktu untuk bangkit lagi dan memperbaiki kesalahan yang dibuat dengan risiko yang minim. Terlebih jika kita belum menikah, belum ada anak dan berbagai tanggungan lain. Dari pengalaman kami, ini adalah jalur ideal memulai karir dari pendekatan usia.

  1. Usia 15-20 : Mulai merasakan apa yang menjadi minat kita, atau mengikuti apa-apa yang dilakukan oleh orang-orang dekat di lingkungan kita.
  2. Usia 20-25 : Menjalani apa yang menjadi minat kita, cari pengalaman. Bukan uang
  3. Usia 25-30 : Mulailah membuat proyek sampingan, menjual apa yang bisa kita kerjakan, dan miliki asuransi kesehatan sebagai proteksi
  4. Usia 30-35 : Carilah model bisnis yang sesuai dengan kebutuhan pasar
  5. Usia > 35 : Fokus dan besarkan apa yang sudah kita kerjakan

Fase  pembelajaran adalah waktu yang ideal untuk mencari tahu apa minat dan bakat yang kita miliki. Melalui perjalanan proses, kita akan samakin tahu apa-apa yang ingin kita lakukan. Karena tantangan terbesar di usia muda adalah ketidaktahuan akan banyak hal, namun memiliki keinginan akan banyak hal.

Apalagi “Kids Jaman Now”, yang terlahir di era google dengan segala kemajuan teknologi yang ada, mudah terpengaruh oleh berbagai arus informasi yang demikian cepat dan mudah mereka akses. Alhasil, mereka memiliki karakter bimbang, galau dan kerap berubah-ubah. Ini alasannya mengapa kebanyakan mereka kebingungan ketika ditanya soal cita-cita. Hal ini lumrah, selalu ada fase pencarian jati diri. Di usia awal 20an, memang fase yang harusnya menjadi kesempatan untuk mencoba apa-apa yang sekiranya kita minati, hal ini bahkan menjadi penting bagi mereka yang belum mengetahui minatnya kemana.

Menurut kami, waktu ideal untuk dihabiskan pada periode masa kerja adalah 5 tahun, saya sendiri menghabiskan waktu 3 tahun sebagai eksekutif sebelum resign karena melahirkan dan ingin fokus membesarkan anak, namun suami bekerja selama 8 tahun sampai usia 30 sebelum memutuskan full time mengelola usaha sendiri yang sebelumnya sudah mulai dirintis.

2# Prioritas

Faktor kedua yang harus di pertimbangkan adalah prioritas. Ketika kita memulai, belum banyak harta yang kita miliki. Kita akan berkutat dengan sejumlah keterbatasan pastinya. Di tengah keterbatasaan, jurusnya cuma satu, skala prioritas. Mana yang mau di raih lebih dulu?

Penting sekali untuk mengetahui hal ini, kapan akan lulus kuliah, kapan menikah, kapan ingin punya anak, berapa jumlah anak yang kita mau, apakah hendak bekerja atau mendirikan usaha, kapan berencana untuk daftar haji, kapan ingin punya motor atau mobil, kapan ingin memiliki rumah, kapan ingin traveling, kemana negara-negara yang hendak kita tuju dan berbagai hal lainnya. Semuanya tidak bisa kita wujudkan secara sekaligus, kecuali kita memang terlahir sebagai anak dari raja minyak yang uangnya nggak berseri ^_^.

Inilah gunanya membuat peta, kami sendiri memutuskan untuk menikah setahun setelah lulus kuliah, kemudian masing-masing kami bekerja sebagai karyawan kantoran sembari membangun usaha kecil sebagai aktifitas sampingan, penghasilannya kami gunakan untuk beli sepeda motor, kontrak rumah, dan membeli rumah 3 tahun setelah kami mulai bekerja, tahun yang sama ketika kami dikaruniai anak. Dan sesuai komitmen kami, saya resign dari tempat kerja untuk fokus membesarkan si bocah. Dan ketika usaha sampingan kami mulai bertumbuh, suami pun kemudian berhenti bekerja dan fokus membesarkan usaha.

Prioritas lainnya, adalah kesehatan. Penting untuk menjaga kebugaran agar rencana kita membangun karir bisa lancar, namun paradoksnya, milenial adalah generasi pertama yang memiliki kesehatan yang lebih buruk di usia paruh baya daripada orang tua mereka, sebagaiman dilaporakan oleh lembaga Think Thank Health Foundation.

Hal ini di picu beberapa hal, mulai dari tuntutan pekerjaan di era digital saat ini, hubungan sosial yang salah satu stimulasinya adalah sosial media, termasuk kepemilikan properti. Ini berpotensi memicu berkembangnya penyakit seperti kanker, diabetes, dan penyakit jantung di kemudian hari.

Mitigasi kondisi itu bisa dilakukan dengan beberapa cara, salah satunya adalah gaya hidup yang baik dan seimbang. Hal lainnya, adalah proteksi, sebagai plan B jika saja akhirnya hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Asuransi bisa jadi salah satu jalan tengah agar apa yang kita rencanakan masih on the track. Bahkan, saat ini, asuransi bisa memberikan benefit perlindungan menyeluruh. Apalagi bagi kaum hawa, yang punya tingkat stres lebih tinggi dari pria, dan bukan tidak mungkin soal psikologis itu merambat kemana-mana. Maka asuransi yang khusus untuk perempuan adalah bagian dari gaya hidup untuk menunjang karir.

Cobalah untuk membuat petanya, jabarkan apa-apa saja yang ingin kita capai, kapan hendak di capai dan target-tergat lainnya yang perlu dituangkan lewat tulisan, di deklarasikan, sehingga jadi panduan bagi kita untuk disiplin dan konsisten mencapainya

Berikut adalah peta kami memulai rumah tangga, tabel perencanaan sederhana yang alhamdulillah sebagian besarnya tercapai, bahkan melebihi dari yang kami harapkan.

 

Tahun Usia Prioritas Keterangan

(Catatan Realisasi)

2002 22 tahun Sumber penghasilan Eksekutif di perusahaan swasta Ini tahun dimana kami lulus kuliah, suami langsung bekerja di sebuah perusahaan otomotif, dan kami bisa beli handphone dari gaji pertama
Aset Punya handphone
Jumlah Penghasilan Rp. …
Rencana Kedepan Menikah & Punya Rumah
2003 23 tahun Sumber penghasilan Eksekutif di perusahaan swasta Di tahun ini kami menikah, dan saya mulai bekerja. Kami mulai menabung untuk beli sepeda motor dan ngontrak rumah. Setahun pertama kami menikah, masih tinggal dengan orang tua
Aset Sepeda Motor
Jumlah Penghasilan Rp. …
Rencana Kedepan Mendirikan Usaha Sampingan
2004 24 tahun Sumber penghasilan Eksekutif di perusahaan swasta Kami akhirnya bisa membeli sepeda motor sendiri, mendirikan usaha sendiri dan mulai menabung untuk punya rumah
Aset Rumah
Jumlah Penghasilan Rp. …
Rencana Kedepan Mengembangkan Usaha Sampingan
2005 25 tahun Sumber penghasilan Eksekutif di perusahaan swasta Rumah akhirnya terwujud, sekalipun tipe 21 dan berlokasi jauh dari kota, namun cukup buat kami berdua. Target berikutnya punya toko untuk jualan
Aset Toko Usaha
Jumlah Penghasilan Rp. …
Rencana Kedepan Mengembangkan Usaha Sampingan
2006 26 tahun Sumber penghasilan Eksekutif di perusahaan swasta Di tahun ini, usaha penerbitan kami bangkrut, dan kami mulai mengembangkan usaha sampingan yang baru, saya pun berhenti bekerja karena di tahun ini, kami dikaruani seorang bocah
Aset Melengkapi aset usaha
Jumlah Penghasilan Rp. …
Rencana Kedepan Mengembangkan Usaha Sampingan Yang Baru
2007 27 tahun Sumber penghasilan Eksekutif di perusahaan swasta dan usaha sampingan Mulai mendirikan usaha sampingan yang baru lagi, memulai semua dari awal, sebagai sales kanvas kue-kue ke sejumlah warnet, kemudian berjualan donut dengan rombong dipinggir jalan, dan pada pertengahan tahun, membuka usaha penyewaan warnet sendiri dan beberapa bulannya kemudian, satu unit usaha laundry.

 

Di tahun ini pula saya dan istri mulai membeli produk asuransi sebagai Plan B.

Aset Melengkapi aset usaha & dan Membeli produk Asuransi
Jumlah Penghasilan Rp. …
Rencana Kedepan Mengembangkan Usaha
2008 28 tahun Sumber penghasilan Eksekutif di perusahaan swasta dan usaha sampingan Mulai mendirikan usaha sampingan yang baru lagi, memulai semua dari awal, sebagai sales kanvas kue-kue ke sejumlah warnet, kemudian berjualan donut dengan rombong dipinggir jalan, dan pada pertengahan tahun, membuka usaha penyewaan warnet dan laundry
Aset Melengkapi aset usaha
Jumlah Penghasilan Rp. …
Rencana Kedepan Pensiun da
2009 29 tahun Sumber penghasilan Eksekutif di perusahaan swasta dan usaha sampingan Mulai mendirikan usaha sampingan yang baru lagi, memulai semua dari awal, sebagai sales kanvas kue-kue ke sejumlah warnet, kemudian berjualan donut dengan rombong dipinggir jalan, dan pada pertengahan tahun, membuka usaha penyewaan warnet dan laundry
Aset Melengkapi aset usaha
Jumlah Penghasilan Rp. …
Rencana Kedepan Mengembangkan Usaha

Perencanaan ini menegaskan apa-apa yang hendak kita capai, bagaimana dengan rencana karirmu? Tuliskan disini ya :

Careers Plan Anda

Tahun Usia Target Keterangan Penghasilan yang dharapkan Investasi yang dimiliki
           
           
           
           
           
           
           
           
           
           
           
           
           
           

 

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *