MENU

by • April 30, 2018 • MarketingComments (0)85

Tak efektif lagi perang Jargon, saatnya UKM belajar Brand

Periode 200 atau 300 tahun yang lalu, merek hanya diaplikasikan pada pengecapan pada sapi, sebuah merek untuk menyatakan hak properti dan kepemilikian, namun begitu berbeda dengan masa abad 21 sekarang, dimana merek menjadi sebuah keharusan yang mutlak dalam dunia pemasaran. Sejarah mengajarkan kita bahwa ada yang berbeda dari masa lalu dan masa sekarang, merek lahir dengan begitu ba-nyak janji. Hal ini mulai berlaku pada periode tahun 1950-an dimana pandangan citra yang lebih baik dari kompetitor memberikan perlindungan pada konsumen.

Pada era 1991, Amerika mengalami geliat kebangkitan label-label pribadi dan menandai melambungnya dunia periklanan. Pada abad 21, merek menjadi suatu hal yang sangat menjanjikan untuk terus dikembangkan dalam tingkatan yang kian kompetitif. Masa dimana model baru sebuah merek menjangkau seluruh gaya hidup, menciptakan tuntutan emosional serta pengalaman yang mampu menjangkau jauh melebihi produk-produk itu sendiri.

Pada masa sekarang, pemasaran telah menjadi begitu komplek, membingungkan dan penuh dengan jargaon-jargon, diperusahaan-perusahaan besar hal ini dijalankan oleh banyak divisi fungsional yang berbeda mulai dari periklanan, pengembangan produk, design produk, riset pasar, promosi penjualan hingga divisi humas. Mengorganisasikan serta mengintegrasikan semua divisi ini merupakan aktivitas yang kompek. Nah perekat dari semua fungsi pemasaran tersebut adalah Branding.

Secara sederhana, pemasaran pada dasarnya adalah membangun merek dibenak konsumen. Jika mampu membangun merek yang kuat, maka de-ngan sendirinya Anda memiliki program pemasaran yang tangguh juga. Jika tidak, maka apapun yang Anda lakukan baik iklan, promosi penjualan, kehumasan dan lainnya tidak akan mampu mencapai tujuan program pemasaran yang diharapkan. Proses inilah yang tidak mudah untuk diping-girkan. Merek adalah sebuah identitas, sebuah profil yang diperkenalkan kepada publik, jika kemudian berhasil menjadi bagian dari pemikiran konsumen, maka proses branding tersebut telah berhasil menjalankan perannya, sebaliknya jika tidak, maka usaha tersebut perlahan akan dilupakan bahkan mungkin tidak dikenal sama sekali.

Sebuah merek mulai pudar ketika merek tidak dapat lagi menyentuh kebutuhan konsumennya, pada pasar modern sekarang, sebuah merek haruslah sanggup menjangkau pasar sesuai dengan tren dan konteksnya. Nike misalkan yang mengeluarkan biaya produksi sekitar US$ 2 untuk sepasang sepatu yang dijual dengan harga rata-rata US$ 100 diseluruh dunia, sementara Escada mengeluarkan biaya US$ 8 untuk sepasang sepatu yang dibandrol US$ 1000, dan mengapa konsumen tetap rela mengeluarkan dana berlipat ganda padahal banyak produk sejenis yang ditawarkan dengan harga yang hanya 10-20%nya?

Jawabannya adalah Merek.

Merek yang perkasa, mampu menjadikan kesenjangan nilai fungsional de-ngan nilai emosional yang dikeluarkan konsumen menjadi sangat jauh. Perusahaan raksasa dunia seperi Coca Cola, diperkirakan memiliki nilai merek yang mencapai angka US$ 66,67 juta, padahal ini baru nilai mereknya saja, belum termasuk aset tangible-nya. Nilai merek ini dibangun dengan pengertian yang mendalam akan konsumen sehingga mereka selalu relevan de-ngan pasar.

Namun perusahaan lokal hingga saat ini diyakini masih belum serius dan konsisten dalam pengembangan merek, hanya sedikit perusahaan lokal yang percaya pada kekuatan merek. Dilain pihak, perusahaan multinasional lebih memercayai peranan marketing dalam membangun merek dengan menggabungkan berbagai kegiatan integrated marketing communication.
Perusahaan lokal acapkali hanya mengandalkan iklan sehingga terkesan pesimistis saat tidak memiliki anggaran iklan, sementara perusahaan multinasional lebih berani berinvestasi diber-bagai konsep permasaran yang lebih mutakhir.

Karenanya besar atau kecil usaha Anda, pemasaran adalah fungsi penting yang tidak dapat di-tinggalkan. Branding yang tepat, akan membawa usaha bergerak kearah pertumbuhan dengan sendirinya, karena mampu menyita perhatian pasar dan faktor vital yang akan membawa perusahaan meraih omzet maksimal.

Al Ries mengatakan, branding yag tepat akan menggeser fungsi penjualan dengan fungsi pembelian. Artinya sebuah usaha tidak lagi perlu menjual, tapi konsumenlah yang akan mendatangi untuk membeli. Kekuatan merek terletak pada kemampuannya untuk mempengaruhi perilaku pembelian. Hal ini dapat dilihat dari beberapa unit bisnis yang telah berhasil menciptakan merek dibenak masyarakat, dimana mereka sudah sama sekali tidak pernah lagi mengatakan menjual pada unit produknya, mereka hanya menjajakan saja dan kemudian konsumenlah yang datang dengan sendirinya untuk memiliki.

 

Brand sering kali diasosiasikan sama dengan positioning. Itulah sebabnya banyak yang menyebut bahwa brand dan positioning layaknya “saudara dekat”. Namun demikian, branding pada dasarnya adalah langkah penyempurnaan dari positioning, jika positioning mendefinisikan sebuah perusahaan atau produk yang erat kaitannya dengan pasar dan pesaing, maka branding adalah upaya untuk menciptakan persepsi unik, serta ikatan emosional atau intelektual antara produk dan customer akhir.

Para peraih Bali Best Brand merupakan perusahaan-perusahaan yang mampu menterjemahkan brand dan merek mereka kedalam benak konsumen dengan baik. Al Ries bahkan menyampaikan, branding yag tepat akan menggeser fungsi penjualan dengan fungsi pembelian. Artinya sebuah usaha tidak lagi perlu menjual, tapi konsumenlah yang akan mendatangi untuk membeli. Kekuatan merek terletak pada kemampuannya untuk memberikan pengaruh perilaku pembelian. Hal ini dapat dilihat dari beberapa perusahaan yang berhasil menciptakan merek dibenak masyarakat, dimana mereka sudah sama sekali tidak pernah lagi “menjual” unit produknya, namun hanya menjajakan saja dan kemudian konsumenlah yang datang dengan sendirinya untuk memiliki.

Faktor terbaik untuk memperkuat persepsi konsumen pada sebuah merek adalah dengan melakukan publisitas. Saat proses publisitas tersebut berjalan, maka saat itu juga sebuah merek itu lahir. Dan cara terbaik menghasilkan publisitas adalah dengan menjadi yang pertama. Di Amerika, merek-merek seperti Band Aid [plester luka pertama], CNN [jaringan TV kabel pertama], Compaq [PC portabel pertama], ESPN [jaringan TV kabel olahraga pertama], Intel [mikroprosesor pertama], Jell O [agar-agar pencuci mulut pertama], KFC [resto ayam goreng siap saji pertama], Time [majalah berita mingguan yang pertama] dan Xerox [mesin foto copy pertama] menjadi brand terkuat karena menjadi yang pertama.

Hal serupa bisa kita lihat di Indonesia, keisengan mahasiswa UGM Yogyakarta yang memproduksi kaos oblong dan pernak pernik lainnya dengan desain kreatif akhirnya melahirkan merek Dagadu yang menjadi merek yang kuat dan ditiru. Mereka bahkan tidak beriklan, dan sekarang mereka sudah tidak lagi menjual, kekuatan merek telah merubah perilaku pembeli dimana konsumen lah yang datang untuk mencari produk mereka. Publisitas merupakan strategi memperkuat brand, dan menjadi yang pertama adalah cara terbaik untuk melakukannya.

Coca Cola, korporasi raksasa yang nilai brandnya melebilihi tangible asset nya itu, pernah berseteru dengan Pepsi hingga ke meja pengadilan untuk memperebutkan kata Cola. Yup, sebagaimana kita katahui saat ini, Coca-lah yang memenangkan proses panjang tersebut dan berhak atas nama Cola. Namun benarkah hal tersebut yang menjadikan Coca Cola kemudian melesat sendirian dan jauh meninggalkan pesaingnya? Mungkin saja, namun sebagian praktisi meyakini bukan semata merek “Cola” yang melambungkan Coca, tapi juga strateginya membangun persepsi dibenak konsumen melalui warna produknya.

Sebagian orang mungkin tidak menganggap warna bukan hal yang signifikan, namun dalam era modern sekarang, hal sekecil apapun memberikan dampak besar dalam perjalanan sebuah usaha. Warna bahkan bisa menjadi representasi paling efektif dari positioning brand dan merek. Dan berbeda dengan nama produk atau usaha yang pembendaharaannya jauh lebih ba-nyak dan mengandung berbagai makna, maka tidak demikian halnya dengan warna.

Dalam warna terdapat klasifikasi, untuk warna primer diwakili dengan Merah, Jingga, Kuning, hijau dan biru. Merupakan warna yang direkomendasikan untuk mewakili produk atau branding store. Dan sangat di-sarankan untuk menghindari warna-warna sekunder atau hasil campuran, hal ini dikarenakan setiap warna tidak tercipta serupa dimata setiap orang. Warna di-ujung merah spektrum akan terfokus sedikit dibelakang retina mata, karenanya warna merah terlihat bergerak ke arah mata begitu Anda melihatnya. Sebaliknya de-ngan warna biru spektrum akan terlihat menjauh dari mata begitu anda melihatnya.

Alasan tersebut yang menjadikan warna memiliki bahasanya sendiri. Merah sebagai warna dominan, lebih suka dipilih oleh banyak orang karena memfokuskan seseorang ketika melihatnya. Hal inilah yang kemudian menjadikan 45% warna bendera suatu negara dominan berwarna merah, dan hanya 20% yang kemudian memilih biru yang ada diperingkat kedua. Biru merupakan warna yang berlainan dari warna merah. Merah adalah warna ritel yang digunakan untuk menarik perhatian, sementara biru merupakan warna corporat yang menyampaikan pesan stabilitas. Itu sebabnya banyak industri perbankan yang menjadikan warna biru sebagai perwajahannya, mulai dari logo hingga ba-ngunan. Merah mampu menstimulasi adrenalin dan menyebabkan seseorang lebih aktif, sementara biru sebaliknya, sehingga banyak dimanfaatkan untuk menciptakan perasaan rilek, nyaman dan bahkan diyakini warna biru juga bisa meningkatkan nafsu makan.

Itu sebabnya mengapa Coca cola sebagai salah satu perusahaan dengan merek yang paling diakui menerjemahkan warna merah dengan sangat baik, yang dikonsep untuk mewakili warna produk minuman mereka yang berwarna coklat. Sementara Pepsi, pesaing terdekat Coca Cola memilih warna yang berbeda untuk kekuatan positioning yang berbeda dengan Coca Cola, namun sayang warna minuman Pepsi yang juga berwarna coklat tidak sama dengan warna biru yang mewakili produk mereka, itulah salah satu faktor yang kemudian menyebabkan kenapa Coca Cola lebih diterima daripada Pepsi. Dan baru belakangan Pepsi menyadari kekeliruannya, dan melakukan perubahan warna pada minuman mereka menjadi biru. Demikian pula dengan minuman mineral yang dipimpin oleh Aqua dengan warna birunya, diikuti oleh semua pesaingnya dengan warna yang persis sama, namun Cleo melakukan hal sebaliknya dengan manawarkan minuman botol berwarna jingga, bahkan dengan harga yang lebih tinggi untuk menantang secara langsung Aqua sebagai pemimpin pasar.

Ditingkatan usaha yang berbeda hal ini juga terjadi, bagaimana beberapa usaha laundry franchise bersaing dalam pewarnaan wajah toko mereka, Laundry dari Prancis 5aSec misalnya yang lebih memilih warna Putih Jingga, Royal Laundry dengan warna Putih sementara Melia Laundry yang notabene sebagai follower memilih warna Kuning, dan Simply Fresh memilih warna merah yang biasanya agak diasosiasikan jauh dari warna kebersihan pada usaha laundry. Sementara Distro sangat identik dengan semangat underground yang memang menampilkan warna gelap sebagai simbolnya. Itu sebabnya warna dalam bisnis termasuk bagian yang sangat berperan sebagai strategi positio-ning. Pikir ulang kembali jika Anda masih berpikir bahwa warna tidak memberikan dampak?

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *