MENU

by • October 2, 2009 • Startup JournalComments (0)82

Tanjung Keluang, Hamparan Indah Kalimantan Tengah

Ribuan pulau di Indonesia, sebagian besar sudah berpenghuni, namun sebagian lagi masih banyak yang bahkan belum memiliki nama. Semakin hari, semakin banyak daerah-daerah tersebut yang mulai dieksplorasi, mulai dari pulau-pulau kecil di Lombok seperti Gili Terawangan sampai dengan daerah-daerah lainnya yang umumnya memberikan pemandangan pesisir ataupun wisata bawah airnya yang masih sangat alami. Kali ini saya mencoba untuk mengunjungi salah satu destinasi tersebut yang masih belum banyak dikenal dan dipromosikan, walaupun saat ini statusnya sudah bernama taman wisata alam.

Daerah yang saya kunjungi kali ini ada di Kalimantan Tengah, tepatnya berlokasi di desa Kubu, kecamatan Kumai Kabupaten Kotawaringin Barat. Saya mencapai taman wisata ini melalui perjalanan dari Semarang ke Kalimantan Tengah Pangkalan Bun, kemudian perjalanan darat dengan mobil dapat dilanjutkan sekitar 30 menit dengan jarak ke desa Kubu sekitar 30 km. Baru dari pantai Kubu dilanjutkan dengan perjalanan air dengan perahu klotok sekitar 40 menit perjalanan.

Pada saat kelotok kami bersandar di dermaga Tanjung Keluang, nyaris seperti pulau tak berpenghuni. Tidak tampak aktifitas wisatawan bermain di hamparan pasir putih tersebut. Dugaan saya, kurangnya promosi dan mahalnya transportasi menuju Tanjung Keluang menjadi salah satu faktor enggannya wisatawan lokal melancong ke pulau yang terkenal sebagai tempat favorit penyu sisik bertelur. Yup, saya merogoh saratus ribu rupiah untuk jasa klotok menyeberang ke Tanjung ini, cukup mahal jika dibandingkan misalnya dengan menyeebrang ke Gili Trawangan yang hanya membutuhkan Rp. 10 ribu rupiah saja, bahkan lebih murah untuk Gili Air.

Dihari biasa, Tanjung yang hampir mirip dengan sebuah pulau di tengah laut ini tampak sepi. Padahal potensi pemandangan alam yang disajikan tidak kalah dengan daerah-daerah wisata lainnya dibagian lain Indonesia, yang saat ini sudah dikelola secara profesional. Namun saya perkirakan, cepat atau lambat daerah wisata ini akan mengalami kemajuan, jika promosi dari pemerintah dan layanan lainnya ditingkatkan. Jika ada investor yang membangun hotel, cottage atau bungalow di Tanjung ini, serta penyewaan boat dengan jasa diving dan snorkling, atau dibuat jalur bersepeda disekitar Tanjung ini, bukan tidak mungkin Tanjung Keluang akan menjadi idola baru tujuan plesir. Melihat saat ini sudah banyak wisatawan baik lokal maupun asing yang mulai mencari alternatif wisata baru dalam negeri.

Kawasan Taman Wisata Alam ini, terbentuk oleh hamparan pasir putih bersih dengan laut yang tenang.
Namun sekalipun minim fasilitas bagi pelancong, tetap saja Tanjung Keluang menghadirkan sisi lain dari pemandangan alam yang indah. Di sini, kita dapat menikmati sunrise dan sunset dengan lebih nyaman. Keindahan panorama alam pantai baik pasir atau mangrove yang ditunjang oleh keberadaan jenis flora dan fauna yang khas. Flora vegetasi lain yang menonjol di kawasan ini aadalah cemara laut. Jenis fauna satwa liar yang dapat dijumpai dalam kawasan ini kebanyakan hewan-hewan laut seperti Musang Air atau Cycnogale, burung elang dan burung Raja Udang. Kondisi laut yang tenang membuat pantai ini sangat cocok untuk berenang dan berjemur sambil menikmati keindahan pantai. Bahkan daerah ini memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai lokasi memancing di laut.

Sayangnya, abrasi pantai yang terjadi beberapa tahun belakangan ini membuat hamparan pasir putih semakin pendek. Saat ini bibir pantai hanya tersisa sekitar 7 meter, padahal sebelumnya mencapai 30 meter. Semoga saja ada upaya-upaya khusus dilakukan agar penyu sisik dapat kembali bertelur di pulau ini.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *